Lipstick Effect: Meski Dompet Kian Tipis, Mengapa Kopi dan Matcha Tetap Laris?

Ilustrasi Kopi di dalam Mug (Foto Freepik.com)

Ilustrasi Kopi di dalam Mug (Foto Freepik.com)


Di tengah melonjaknya harga kebutuhan pokok namun pendapatan yang cenderung stagnan, banyak orang mulai mengencangkan ikat pinggang.

Liburan ditunda, pembelian gawai baru dibatalkan, bahkan rencana mulai mencicil kendaraan pun diurungkan.

Menariknya, jika kita menyusuri kawasan Blok M, Cipete dan SCBD  Jakarta, Dipatiukur di Bandung atau Canggu dan Seminyak di Bali, ada fenomena unik di mana penjualan kopi kekinian dan matcha tetap stabil, bahkan meningkat. Fenomena ini dikenal sebagai lipstick effect.
 

Mengenal Fenomena Lipstick Effect

Ini merujuk pada kecenderungan kita sebagai kaum milenial dan gen z membeli barang-barang kecil yang memberikan rasa bahagia bahkan ketika kondisi ekonomi sedang tidak baik-baik saja.

Ketimbang menghabiskan jutaan rupiah untuk barang branded, kita sebagai pekerja kelas menengah bergaji imut merasa lebih "aman" membeli kopi dan matcha seharga puluhan hingga ratusan ribu sebagai bentuk self-reward

Dilihat dari kacamata keuangan, fenomena lipstick effect menunjukkan bahwa keputusan finansial tidak selalu didasarkan pada logika. Emosi berperan besar dalam menentukan ke mana uang kita mengalir.


Saat badai kehidupan makin kencang bertiup, kita cenderung mencari cara tercepat untuk keluar dari pusarannya, meskipun hanya sesaat. 

Bukan berarti keputusanmu membeli kopi dan matcha usai berfoto atau berjoget ria dengan si badut gemoy di depan tokonya sepenuhnya salah.

Justru, pengeluaran kecil ini bisa bantu menjaga mentalmu tetap waras dan sejenak mengurangi ketegangan. Masalahnya timbul ketika bibit-bibit kesenangan ini mulai berubah jadi kebiasaan impulsif yang terus berulang hingga mengganggu ketenangan dompetmu.