Study from School vs Study from Home, Mana yang Lebih Efektif?

Study from School Illustration Web Bisnis Muda - Canva

Like

Back to school! Indonesia akan membuka kembali sekolah tatap muka di sebagian besar provinsi saat tahun ajaran baru yang akan dimulai pada 13 Juli. Hal ini membuat beberapa orang tua merasa khawatir dan kebingungan karena informasi yang diterima kurang kohesif dan konsisten.

Selain itu, para orang tua belum memahami betul bagaimana sistem pembelajaran di kelas akan berlangsung, terlebih lagi dalam kondisi pandemi yang belum berakhir. Hal ini membuat mereka bertanya-tanya apakah sekolah tatap muka merupakan keputusan terbaik ataukah tidak.

Pada 7 Juni 2021 lalu, Presiden Joko Widodo meminta sekolah untuk menyediakan kelas tatap muka yang diselenggarakan hanya 2 jam dan dilakukan 2 hari dalam 1 minggu. Kapasitas kelas tersebut hanya diperbolehkan sebanyak 25 persen dari kapasitas normal. Kebijakan ini lebih ketat dibandingkan peraturan Kementerian Pendidikan sebelumnya, yang mengizinkan kelas dengan kapasitas 50 persen.

Namun, implementasi dari kelas tatap muka ini bergantung pada masing-masing sekolah. Nah, kalau dibandingkan dengan study from home atau sekolah di rumah, mana sih yang lebih efektif? Yuk kita bahas bersama!
 

Bagaimana sih sistemnya?

Berdasarkan pedoman dari pemerintah, pada program sekolah tatap muka ini akan dihadiri oleh beberapa siswa, sementara siswa yang lainnya tetap belajar di rumah. Pembagian siswa ini akan dilakukan secara bergilir, sehingga para siswa dapat pergi ke sekolah pada hari-hari tertentu.

Penerapan sistem ini tetap bergantung pada kebijakan sekolah. Satu sekolah mungkin membagi kelas secara merata per tingkat kelas, sementara yang lain mungkin memberikan lebih banyak waktu di kelas untuk siswa kelas 9 dan 12, yang harus berfokus untuk menyiapkan ujian.


Jadwal rotasi dan slot siswa juga tergantung pada berapa banyak orang tua yang mengizinkan anaknya untuk mengikuti sekolah tatap muka.

Dibandingkan dengan sekolah tatap muka, sekolah dari rumah memiliki sistem yang berbeda. Selain harus menggunakan perangkat komputer atau smartphone yang terkoneksi internet, siswa tidak selalu menerima pengajaran langsung yang disampaikan oleh guru melalui video conference, namun bisa juga melalui video yang sudah di tapping sebelumnya, ataupun menggunakan video pembelajaran yang berupa animasi. Study from home juga dianggap lebih praktis karena bisa dilakukan di mana pun dan kapan pun.
 

Sudah siapkah sekolah dan siswa dalam menghadapi hybrid learning?

Hybrid atau blended learning, yang menggabungkan pembelajaran offline dan online, berarti guru akan menjalankan kedua metode pembelajaran secara bersamaan.

Dalam sistem sekolah baru yang akan diterapkan, siswa yang belajar dari rumah akan bergabung dengan kelas mereka melalui panggilan video dan cara online lainnya, seperti yang telah mereka lakukan selama setahun terakhir ini.

Suparno Sastro, Kepala Sekolah SMA Labschool Rawamangun, mengatakan bahwa sekolah menyiapkan komputer di setiap kelas yang nantinya akan menjadi sarana untuk video conference bersama siswa yang belajar dari rumah. Sehingga, mereka bisa mengikuti apa yang sedang diajarkan di dalam kelas.

Membagi fokus guru ke dalam dua sistem pembelajaran yang berbeda tidaklah mudah. Para guru dituntut untuk menjadi kreatif. Sekolah juga harus mendukung dengan menyediakan fasilitas yang memadai dalam menjalankan hybrid learning.

Selain itu, kesulitan juga akan dialami oleh para siswa yang belajar online. Seringkali, mereka merasa kesulitan untuk mengikuti sistem pembelajaran online yang akhirnya membuat mereka tertinggal dalam segi akademik. Belum lagi jika ada siswa sulit untuk mengakses internet dan gadget untuk belajar online.

Untungnya, beberapa sekolah, salah satunya SMAN 1 Soreang, Bandung, diperkirakan akan menyiapkan area khusus di sekolah untuk menyediakan fasilitas dan akses internet bagi siswa yang mengalami kesulitan mengakses materi pembelajaran online.
 

Namun, apa skenario terburuk dari hybrid learning?

Beberapa sekolah tidak memiliki pilihan selain kembali ke metode pembelajaran tatap muka secara penuh.

Salah satu contohnya disampaikan oleh Budi Irwanto, guru Bahasa Indonesia di SMK Yapis Fakfak di Papua Barat, yang mengatakan bahwa sekolah tatap muka sudah dibuka sejak akhir 2020 karena orang tua murid tidak dapat memfasilitasi pembelajaran online di rumah.

Banyak masyarakat yang merasa bahwa smartphone merupakan barang mewah yang sulit untuk didapatkan. Hal ini dialami oleh masyarakat berpenghasilan menengah ke bawah, terutama di Indonesia bagian timur.

Budi menjelaskan, karena sebagian besar orang tua tidak memiliki peralatan yang diperlukan untuk pembelajaran online, mereka meminta izin dari gugus tugas COVID-19 setempat untuk mengizinkan sekolah kejuruan melanjutkan pembelajaran di kelas.

Hal ini tentunya harus menjadi perhatian, terutama di masa pandemi ini. Risiko penularan covid-19 pada guru, siswa, dan tenaga kerja lainnya harus menjadi pertimbangan utama dalam memulai sekolah tatap muka.
 

Bagaimana dengan dana pemerintah untuk pembelajaran online?

Pemerintah menyediakan subsidi paket data seluler untuk mengakses internet. Namun, banyak sekolah dan siswa yang tidak memiliki gadget yang sebenarnya benar-benar dibutuhkan untuk belajar online.

Menurut laporan Statistik Pendidikan Badan Pusat Statistik (BPS) 2020, penetrasi internet seluler di kalangan siswa di pedesaan hanya setengah dari siswa di perkotaan. Bantuan Operasional Sekolah (BOS) juga seharusnya cukup untuk membeli peralatan yang diperlukan untuk memfasilitasi kebijakan pemerintah terkait hybrid learning.
 

Lalu, bagaimana dengan protokol kesehatannya?

Sekolah-sekolah yang diberi lampu hijau untuk dibuka kembali pada bulan Juli telah diperiksa kepatuhannya terhadap kesehatan dan keselamatan oleh tim inspeksi COVID-19. Ini berarti bahwa sekolah-sekolah ini telah memasang langkah-langkah sanitasi dan kebersihan yang diperlukan, termasuk pembersih tangan, fasilitas cuci tangan, dan pemisah antara kursi kelas individu.

Siswa juga harus menggunakan masker setiap saat, meskipun beberapa sekolah telah menyiapkan persediaan masker bagi siswa yang lupa membawa sendiri.

Setiap sekolah juga telah membuat pengaturan untuk menghindari potensi keramaian di halaman sekolah dan di gedung sekolah, seperti di pintu masuk dan keluar, serta area lain di mana siswa dan orang tua cenderung berkumpul.

Jam istirahat sekolah dan kegiatan olahraga juga ditiadakan. Bahkan beberapa sekolah memutuskan untuk membatasi siswa untuk pergi ke toilet untuk mencegah penyebaran virus di tempat lainnya. Hal tersebut masih dianggap memungkinkan untuk dilakukan karena pembatasan sekolah yang hanya berlangsung selama dua jam.

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan bahwa semua guru harus di vaksinasi sebelum sekolah tatap muka dimulai kembali. Namun, peluncuran vaksin untuk guru belum mencapai setengah dari targetnya, padahal sekolah tatap muka akan segera dimulai.

Untuk para siswa, ada beberapa pendapat terkait pengecekan virus Covid-19. Beberapa sekolah juga sedang mendiskusikan terkait pilihan apakah para siswa harus di tes swab sebelum mengikuti sekolah tatap muka ataupun tidak.

Hal ini merupakan hal yang penting untuk dilakukan namun relatif sulit untuk ditegakkan. Pasalnya, untuk melakukan tes swab, dibutuhkan biaya tambahan yang mungkin relatif tinggi bagi beberapa orang. Selain itu, tes ini juga tidak mungkin dicover oleh anggaran sekolah.
 

Bagaimana dengan izin orang tua?

Semua sekolah mengatakan bahwa ini adalah hak prerogatif orang tua, dan bahwa semua siswa memerlukan izin orang tua untuk menghadiri kelas secara fisik.

Masalah lainnya adalah guru yang harus bekerja sesuai peraturan baru tentang durasi sekolah yang hanya dilaksanakan selama dua jam.

Para siswa yang tinggalnya jauh dari sekolah, akan menghabiskan lebih banyak waktu di jalan dibandingkan di sekolah. Hal ini tentunya akan membuat siswa semakin lelah. Namun, peraturan ini bersifat dinamis dan banyak detail pelaksanaan yang diserahkan kepada dewan sekolah untuk memutuskan.

Nah, dengan segala pertimbangan di atas, kamu pilih belajar di rumah atau belajar di sekolah nih, Be-emers?