Tiket Mudik Lebaran yang Makin Mahal dan Rindu Kumpul Keluarga yang Masih Terganjal

Sumber Gambar: Editing pribadi

Sumber Gambar: Editing pribadi


Ada yang mengatakan, pemudik itu hanya untuk perempuan. Lho, kok bisa, Mas? Yap, kalau yang perempuan namanya pemudik, sedangkan yang laki-laki namanya pemudak! 

Tradisi mudik mungkin cuma ada di Indonesia. Kalau di Planet Mars sana, niscaya tidak ada tradisi macam begini. 

Mudik diartikan sebagai simbol pulang kampung, kembali menemui orang tua atau kembali ke rumah tempat kita dari kecil dilahirkan. 


Melampiaskan Rindu

Memori pulang kampung memang sentimentil. Mengingat memori ketika kita masih jadi anak kecil dahulu, bermain bersama teman sebaya dan tidak ada teman sebuaya. 

Bermain dari sore hingga waktu Maghrib. Kalau saya dahulu biasa main sepakbola di lapangan dekat rumah. Main tanpa alas kaki, tanpa pola tertentu, pokoknya istilahnya semarangan. Main bebas. 

Permainan baru dihentikan ketika waktu azan Maghrib sudah dekat. Atau ketika sudah mau petang. Hari mulai gelap. Tidak ada peluit dari wasit, polantas, maupun masinis kereta api. 


Baca Juga: 6 List Starter Pack yang Mesti Dibawa Saat Mudik Lebaran

Kenangan masa kecil bagi kamu yang kelahiran tahun 1980 hingga 1990 memang cukup indah. Tanpa kehadiran gawai, apalagi ditambah dengan medsos tidak ada. Jadi, full bermain fisik. Main di luar rumah. Segar, kena cahaya matahari, kena angin sepoi-sepoi. Apakah sepoi lawannya ramai? 

Setelah Maghrib, biasanya mengaji Al-Qur'an. Entah itu di masjid terdekat, maupun di rumah sendiri bersama orang tua. Apalagi waktu Ramadan begini, tiap habis salat Tarawih dan Witir, berebut untuk minta tanda tangan penceramah lewat buku khusus. 

Meskipun cuma tanda tangan, tidak minta foto, bagi saya itu sudah berupa kenangan yang sangat menarik dan membekas sampai sekarang. Kini, mungkin minta tanda tangan seperti itu sudah jarang. Apalagi orang tua si anak yang minta tanda tangan penceramah, lebih jarang lagi. 


Masakan Ibu

Salah satu yang membuat rindu untuk pulang kampung tidak bisa tidak adalah masakan ibu. Bagi banyak orang dan saya sendiri, masakan ibu memang paling enak sedunia. Paling top markotop, deh

Heran juga saya, sudah mencicipi berbagai masakan orang, meskipun tidak sampai wisata kuliner apalagi wisata kuli bangunan, tetap masakan ibu yang paling membekas di lidah. 

Apa memang karena kenangan masa kecil, ya? Lidah kita di waktu kecil sudah sangat terbiasa dengan masakan ibu, tidak ada masakan lain, jadi itulah yang lebih masuk ke memori bawah sadar. Kalau belum sadar, berarti masih pingsan tuh! 

Baca Juga: 6 Tips Packing Mudik Lebaran Mudah dan Cepat, Anti Males-Males Club!

Begitu pula saat ibu saya datang ke tempat saya di Kabupaten Bombana, Sulawesi Tenggara. Jauh-jauh datang dari Jogja. Ketika beliau masak tempe goreng dan sayur, rasanya masih sama waktu saya tinggal bersama ibu dan bapak. Sama sekali tidak ada yang berubah. 

Rupanya, cita rasa masakan ibu yang terus terjaga, tidak termakan zaman, itulah yang membuat banyak anak yang sudah jadi dewasa, yang sudah jadi orang tua juga, merasa kangen untuk kembali pulang. Kembali ke kampung halaman. 

Makanya, tradisi mudik ini dimanfaatkan betul-betul. Simbol pulang sekaligus menikmati momen indah berlebaran bersama keluarga. 

Saya juga pernah merasakan hal itu. Waktu masih tinggal bersama kedua orang tua, kakak, dan dua adik saya, ke rumah nenek di Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah, rasanya memang luar biasa nyaman. Bapak yang menyetir mobilnya. 

Apalagi kalau keluarga yang jauh ikut datang. Paman-paman saya dari Pontianak, Kendari, bersama anak-anaknya, itu tambah seru. Bude saya dari Jakarta bersama anak-anaknya pula, wuih, rasanya memang kenangan masa kecil yang sudah terlupakan. Kamu sendiri belum lupa 'kan?

Namun, sekarang kenangan itu tinggal kenangan. Nenek saya sudah meninggal, sementara kakek jauh lebih dulu meninggal. Rumahnya sudah dijual dengan tanahnya dan sudah menjadi warisan pula. Rumah besar dari papan itu sekarang sudah tidak ada, tetapi kenangannya masih ada. Di sini, di hati.