Kenalan dengan Ai-Da, Robot yang Bisa Menulis Puisi dan Membuat Karya Seni

Kenalan dengan Ai-Da, Robot yang Bisa Menulis Puisi dan Membuat Karya Seni Illustration Web Bisnis Muda - Image: Canva

Like

Ketika kita mendengar istilah kecerdasan buatan, umumnya gambar yang sering muncul di benak banyak orang adalah robot jahat yang mengisi dunia seperti The Terminator, i, Robot, Westworld, Ex-Machina, hingga Blade Runner.

Be-emers sadar nggak sih, selama bertahun-tahun, cerita fiksi telah mengajarkan kita bahwa AI sering digunakan untuk kejahatan daripada untuk kebaikan.

Pasti, kita juga jarang mendengar teknologi AI (artificial intelligence) yang berkaitan dengan seni dan puisi kan, Be-emers? Nah baru-baru ini, ada sebuah robot bernama Ai-Da yang bisa menulis puisi dan membuat karya seni lainnya, lho!
 

Ai-Da dan Aidan Meller Illustration Web Bisnis Muda - Image: CNN Business


Robot ini diciptakan oleh Aidan Meller di Oxford, Inggris yang merupakan seorang seniman robot humanoid ultra-realistis pertama di dunia. Beberapa waktu lalu, Ai-Da berhasil menampilkan puisi yang ditulis menggunakan algoritmanya dalam rangka memperingati penyair besar Italia, Dante.

Resital tersebut berlangsung di Museum Ashmolean yang terkenal di Universitas Oxford sebagai bagian dari pameran yang menandai peringatan 700 tahun kematian Dante. Ai-Da menggunakan algoritmanya untuk mengambil inspirasi dari pola bicara Dante, dan dengan menggunakan perbendaharaan kata-katanya sendiri dalam membuat karyanya.


Puisi Ai-Da digambarkan sangat emosional oleh Meller dan memiliki kualitas yang sangat baik, hingga sulit dibedakan dengan hasil pemikiran manusia.

Dilansir dari CNN Business, Menurut Meller sendiri, proyek Ai-Da dikembangkan untuk mengatasi perdebatan tentang etika pengembangan AI lebih lanjut untuk meniru manusia dan perilaku manusia.

Ia sadar bahwa teknologi memiliki dampak besar pada semua aspek kehidupan dan ia berusaha memahami seberapa banyak yang dapat dilakukan teknologi ini dan apa yang dapat diajarkannya kepada manusia tentang diri kita sendiri.

Ada satu hal penting yang Meller dan tim dapatkan saat mengembangkan Ai-Da, yaitu bahwa proyek tersebut menunjukkan kepada mereka betapa robotiknya kita sebagai manusia.

Karena Ai-Da telah belajar bagaimana meniru manusia berdasarkan perilaku, Meller mengatakan bahwa proyek tersebut telah menunjukkan bagaimana kebiasaan manusia dan bagaimana kita cenderung mengulangi tindakan, kata-kata, dan pola perilaku.

Melalui Ai-Da dan melalui penggunaan AI, manusia diharapkan dapat belajar lebih banyak tentang diri sendiri daripada sebelumnya. Ai-Da juga memungkinkan manusia memperoleh wawasan baru tentang pola dan kebiasaan diri sendiri.

Ai-Da tidak hanya bisa membaca dan menulis puisi lho, Be-emers! Dia juga mampu menciptakan karya seni dan membuat satu untuk pameran Dante berjudul "Eyes Wide Shut" yang dibuat sebagai tanggapan atas insiden di Mesir pada bulan Oktober, yang menceritakan ketika pasukan keamanan Mesir menahan Ai-Da dan ingin menghapus kamera di matanya karena kekhawatiran atas pengawasan dan keamanan. Gambaran insiden itu menunjukkan betapa gugupnya dunia seputar teknologi dan kemajuannya.

Meller berpikir bahwa Ai-Da dapat menjadi pelopor perkembangan seni dalam dunia AI dan mendorong batas-batas apa yang dapat dicapai dalam teknologi yang akan memungkinkan manusia untuk belajar lebih banyak.