Dari Novel Tere Liye, Kita Belajar Shadow Economy! Ini Realitanya

Ilustrasi aktivitas ekonomi bayangan (Sumber gambar: Freepik.com)

Like

“Shadow economy adalah ekonomi yang berjalan di ruang hitam, di bawah meja. Oleh karena itu, orang-orang juga menyebutnya black market, underground economy. Kita tidak sedang bicara tentang perdagangan obat-obatan, narkoba, atau prostitusi, judi, dan sebagainya. Itu adalah masa lalu shadow economy, ketika mereka hanya menjadi kecoa haram dan menjijikan dalam sistem ekonomi dunia. Hari ini, kita bicara tentang pencucian uang, perdagangan senjata, transportasi, property, minyak bumi, valas, pasar modal, retail, teknologi mutakhir, hingga penemuan dunia medis yang tidak ternilai”. (Tere Liye – Pulang)


Bagi kalian yang menyukai serial Tere Liye berjudul Pulang, Pergi, Pulang-Pergi, hingga Bedebah di Ujung Tanduk, pasti akrab dengan sebutan kata “Shadow Economy”.

Sebuah jaringan organisasi raksasa yang menguasai 18-20 persen GDP dunia, dengan gurita bisnis yang menjalar di seluruh lini ekonomi, baik makro maupun mikro, bahkan kekuatan dan kekuasannya mampu mengatur sistem pemerintah semua negara.

Penggalan kalimat diatas, merupakan sedikit dari banyak penjelasan cerita kehidupan para shadow economy di dunia.

Mereka hanya segelintir orang dengan kekuatan yang luar biasa besar dan dapat dengan mudah mengatur segala urusan. Bagi mereka, pemerintahan hanyalah konco dari konco yang mampu mereka atur dengan mudah.

Sebagian dari kita, khususnya yang telah membaca novel di atas, dapat menggambarkan bagaimana shadow economy dan kegiatan-kegiatan di dalamnya.


Mungkin terdengar fiktif bagi kita yang jauh dari kehidupan semacam itu. Peperangan, pembunuhan, kerjasama antar keluarga, dan perdagangan ilegal seakan hal yang lumrah dan justru berbanding terbalik dengan realita kehidupan kita.

Baca Juga: Dear Pekerja Kontrak dan Freelancer, Gimana Cara Bertahan dalam Gig Economy?

Pemaparan Tere Liye cukup dalam, seakan-akan apa yang ia ceritakan merupakan fakta realita ekonomi di belakang apa yang tampak oleh kita selama ini.
 

Shadow Economy dalam Realitas


Namun benarkah shadow economy ini benar adanya? Apakah cerita-cerita konspirasi yang berseliweran di internet justru adalah realita dunia ekonomi hitam yang jauh berbanding terbalik dengan apa yang kita lihat dan rasakan sekarang.

Pakar ekonomi Schneider dan Enste menyebut bahwa shadow economy adalah seluruh aktivitas ekonomi yang memiliki kontribusi terhadap perhitungan Produk Nasional Bruto (PNB) maupun Produk Domestik Bruto (PDB) tetapi tidak terdaftar sama sekali.

International Monetary Fund (IMF) menyamakan shadow economy ini dengan beberapa istilah seperti underground economy, hidden economy, black economy, unobserved economy serta beberapa istilah lainnya.

Mungkin istilah-istilah tersebut masih kurang familiar ditelinga kita, namun aktivitas ekonomi ilegal seperti produksi barang palsu, manipulasi pajak, penipuan atau scam, dan tambang ilegal yang seringkali diberitakan dimana-mana juga termasuk dalam shadow economy. 

Meskipun di masa sekarang, bahkan aktivitas ekonomi legal pun dapat juga termasuk dalam kegiatan ekonomi mereka.

Singkatnya, fenomena shadow economy ini sudah di aminkan oleh para pakar ekonomi serta menarik perhatian para akademisi dan organisasi internasional di dunia.

Salah satu alasan kuat mengapa aktivitas shadow economy ini menjadi perhatian besar para pemerhati ekonomi adalah karena dikhawatirkan menjadi penyebab ketidakstabilan ekonomi dunia.

Baca Juga: Di Tengah Krisis Global, Kok yang Kaya Makin Kaya?

Selain itu, karena sifatnya yang unobserved economy, maka sejatinya aktivitas mereka erat dengan produksi dan perdagangan barang yang dilarang oleh hukum.

Dalam novel Tere Liye, aktivitas shadow economy tidak mengenal halal atau haram dan baik atau buruk. Hanya ada kekuatan dan kekuasaan, menguasai atau dikuasai, dan konotasi lainnya yang mengarah pada seluruh aktivitas dagang tanpa aturan, namun tetap memiliki aturan yang disepakati oleh para anggota mereka saja.
 

Shadow Economy Rusak Perekonomian


Di Indonesia, shadow economy menyebabkan perekonomian terdistorsi. Hal tersebut diutarakan oleh Plt. Deputi Bidang Pencegahan Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK), Fithriadi Muslim.

Ia menyebutkan bahwa shadow economy di Indonesia diperkirakan sebesar 8,3 sampai 10 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB).

Jadi apabila PDB Indonesia pada triwulan II tahun 2021 mencapai Rp4.175 Triliun, maka shadow economy ada di angka Rp417,5 Triliun. Nominal ini terbilang sangat besar, dan menyebabkan ekonomi Indonesia tumbuh di bawah potensi riil.

Tidak hanya di Indonesia, hampir seluruh negara di dunia merasakan dampak dari aktivitas shadow economy ini.

Meskipun banyak pemerintahan maupun organisasi keuangan melawan dan menyiapkan regulasi guna menentang shadow economy, namun tetap saja menjadi suatu hal yang sulit dan membutuhkan waktu lama.

Seluruh sendi aktivitas ekonomi akan berhubungan satu dengan yang lainnya, apalagi dengan adanya ekonomi berbasis teknologi global seperti sekarang ini.

Dalam novelnya, Tere Liye menyebut beberapa nama fiktif yang menjadi pemegang kendali kegiatan shadow economy, sedangkan di dunia nyata, nama-nama para shadow economy ini tak pernah benar-benar tampak dan terkonfirmasi. 

Kalau menurut Be-Emers, shadow economy dalam dunia nyata yang seperti apa?

Punya opini atau artikel untuk dibagikan juga? Segera tulis opini dan pengalaman terkait investasi, wirausaha, keuangan, lifestyle, atau apapun yang mau kamu bagikan. Submit tulisan dengan klik "Mulai Menulis".
 
Submit artikelnya, kumpulkan poinnya, dan dapatkan hadiahnya!
 
Gabung juga yuk di komunitas Telegram kami! Klik di sini untuk bergabung.