Cara Memaksimalkan Ibadah di 10 Hari Terakhir Ramadan: Cuma dengan Iktikaf di Masjid

Ilustrasi orang sedang melakukan iktikaf di masjid (Sumber gambar: Pexels)

Ilustrasi orang sedang melakukan iktikaf di masjid (Sumber gambar: Pexels)


Waktu semakin berjalan. Sementara masa semakin berlari. Dan, atlet lari memang pekerjaannya berlari. 

Hari-hari berpisah dengan bulan suci Ramadan semakin dekat di depan mata. Ada yang tampak bahagia. Ada pula yang tampak sedih. 

Bagi yang merasa bahagia, mungkin atau bisa jadi terpikir untuk bebas lagi seperti sebelum bulan Ramadan. Bebas makan, minum, merokok, menggosip, dan melakukan hal-hal yang sia-sia. 

Sedangkan, bagi yang merasa sedih, jelas karena merenungkan ibadahnya yang masih sangat kurang, masih belum banyak khatam Al-Qur'an. Salat tarawih masih belum khusyuk, dan lain sebagainya. 

Kita sendiri lebih bagus merasa yang mana? Apakah harus banyak bergembira karena puasa mau selesai atau bersedih karena Ramadan mau meninggalkan kita? 


Ya, ini kembali kepada urusan hati, sih. Bergembira di hari raya memang wajar dan manusiawi. Namanya saja hari raya.

Namun, sedih juga perlu, karena tidak ada jaminan akan bertemu dengan bulan suci Ramadan di tahun yang akan datang. 

Atau, apakah ada orang yang bisa menjamin pasti akan bertemu dengan Ramadan? Yang jelas, tiap hari bertemu dan bersama Ramadan itu namanya Gilang. Lebih tepatnya, Gilang Ramadhan, drummer terkenal. 

Baca Juga: Tantangan Asyik Buat Para Ahli Begadang


Tentang Memaksimalkan Ibadah

Kalau untuk urusan mencari uang, kita berusaha semaksimal mungkin. Berangkat ketika matahari belum terbit dan pulang setelah matahari tenggelam. Siapakah di sini yang bisa mengajari matahari berenang agar tidak terus tenggelam? 

Setelah sampai di rumah pun kadang masih terus bekerja. Apalagi kalau ada lembur. Terlalu banyak lembur, malah istri menyembur. 

Padahal, yang didapatkan ya begitu-begitu saja. Gaji memang naik, tetapi naiknya karena terima sebelumnya di lantai satu, kini naik di lantai dua. Jumlahnya tetap sama. 

Sedangkan kebutuhan hidup makin naik. Harga barang juga makin menggila, tanpa pernah kontrol ke RSJ. 

Tabungan makin tergerus, utang makin tidak terurus. Malah, sekarang banyak yang makan utang. Artinya, uang yang benar-benar dimiliki sudah tidak ada, cuma utang. 

Ini benar-benar cukup mengerikan. Mau kerja seperti apalagi? Sementara pekerjaan sampingan sudah dilakukan. Pekerjaan sampingan yang dilakukan di samping pekerjaan sampingan sebelumnya, juga sudah. 

Nyatanya, hasilnya masih belum memuaskan. Lalu, kita jadi merasa hidup kok sekeras ini, ya? Kita sudah berusaha sangat keras, bahkan lebih keras daripada batu, tetapi hasil tetap terasa buntu. Usus kali. 


Sebuah Ironi

Sungguh ironis, ketika pekerjaan yang luar biasa kita lakukan benar-benar maksimal, justru meninggalkan ibadah. Salat dianggap mengganggu pekerjaan. 

Masih kerja di depan komputer, ada panggilan salat, dicuekin saja. Padahal, salat hanya membutuhkan beberapa menit. Namun, hati sudah sedemikian berat, hingga salat pun akhirnya lewat. 

Begitu terus setiap hari. Salat lima waktu sudah tidak lagi dianggap penting. Semboyan "kerja, kerja, kerja" betul-betul diterapkan hingga sampai ke dalam hati, sampai ke alam bawah sadar. 

Padahal, Alam adalah adiknya Vety Vera. Kok malah bahas penyanyi dangdut? 

Apalagi di bulan suci Ramadan ini. Puasa juga dianggap menghalangi kerja. Banyak orang beralasan tidak puasa demi pekerjaan. 

Saya sendiri pernah melihat ada seorang pengacara yang merokok di bulan puasa sambil mengetik laporan atau dokumen. Dia mengatakan kira-kira isinya berat bekerja sambil puasa. 

Pasti yang berat adalah merokoknya itu. Mungkin dia kuat menahan lapar, kuat pula menahan dahaga, tetapi belum tentu kuat menahan keinginan untuk merokok. 

Sementara dia terbiasa bekerja sambil menikmati barang yang kata Taufik Ismail, tuhan sembilan sentimeter itu. Memang sangat ironis, yang dipikirkan hanyalah dunia, dunia, dan dunia. 

Kesempatan untuk ibadah betul-betul tidak dimanfaatkan. Ramadan ini berbatas waktu. Tidak bisa dalam satu tahun penuh. Namanya saja bulan suci Ramadan, berarti memang cuma satu bulan. 

Kalau bulan suci Ramadan saja tidak dimanfaatkan untuk beribadah, lalu kapan lagi? Bulan yang mana lagi mau dimanfaatkan?

Sedangkan sukanya memang martabak dan terang bulan. Pasti kalau tulisan saya, sering tidak nyambung begini, ya?