Ilustrasi orang sedang memikirkan THR, baiknya diinvestasikan emas atau instrumen lain? Sumber gambar: Editing pribadi
Marhaban tiba, marhaban tiba!
Wah, ini biasanya diucapkan ketika awal bulan Ramadan! Seperti yang pernah diucapkan seorang penyanyi dangdut dan juri audisi penyanyi itu. Meskipun, ya, jadi objek warganet karena salah lirik itu.
Kini setelah pertengahan bulan suci Ramadan, maka yang akan tiba berikutnya adalah THR. Bagi kamu yang menerima untuk tahun ini, Alhamdulillah. Itu berarti masih ada yang peduli dengan kamu dan kehidupan keluargamu.
Namun, jika kamu belum menerima THR dalam bentuk uang dari siapapun, maka THR di sini harus berupa keikhlasan menerima takdir Allah. THR pun menjadi punya arti: Tenang, Hati Rida.
Baca Juga: THR Sudah Cair! Lebih Cuan Beli Emas atau Masuk ke Investasi Lain?
Dapat THR Lebih Baik Belanja atau Investasi?
Bagi sebagian orang, mendapatkan uang banyak, terlebih momen-momen tertentu seperti THR itu, bagaikan mendapatkan durian runtuh. Padahal, kalau benar-benar kena durian runtuh itu sakit, lho! Kepala kena kelapa muda jatuh saja sudah sakit, apalagi ini durian yang memang sudah berduri dari sananya.
Saat menerima uang dalam jumlah yang cukup besar, biasanya ada dua persepsi. Pertama, mau langsung menghabiskannya. Atau yang kedua, investasikan dulu.
Kalau orang ingin langsung membelanjakannya, maka biasanya ini terkait dengan rasa cinta yang besar dari seorang ayah kepada istri dan anak-anaknya.
Jadi, tidak bisa langsung dicap boros, meskipun dahulunya si ayah ketika kecil main game Mario Boros. Apalagi kalau ditambah Luigi, wuih, makin seru itu!
Baca Juga: Mau Investasi Emas dari THR? Begini Tipsnya!
Seorang ayah terpikir untuk membelikan istrinya atau ibunya anak-anak baju lebaran. Mungkin gamis terbaru, jilbab, tas, sepatu, kosmetik, daster, maupun benda khas perempuan lainnya.
Demikian pula untuk anak-anaknya. Kalau masih kecil, dibelikan mainan baru. Padahal, anak-anak itu tiap terima mainan baru, satu atau dua hari saja sudah bosan. Hayo, iya apa iya?
Sedangkan untuk diri ayah sendiri, mungkin malah tidak beli apa-apa. Belum tentu dia beli baju baru, jika baju lamanya masih ada, masih bagus.
Itulah salah satu bentuk pengorbanan seorang ayah. Yang penting istri dan anak-anaknya bahagia, dia sudah senang, meskipun uangnya memang sudah habis. Tanggung jawabnya sebagai kepala keluarga malah sering jadi melupakan dirinya sendiri.
Lalu, bagaimana dengan yang terpikir untuk investasi? Pola pikir ini bisa jadi tercipta karena kebutuhan primer, sekunder, dan tersier sudah cukup. Kebutuhan hidupnya sudah cukup.
Oleh karenanya, terpikir untuk investasi agar uang itu lebih aman, bahkan bisa berkembang lebih banyak lagi.
Sarana untuk investasi memang ada banyak, bisa memilih emas maupun investasi lainnya. Ada yang langsung membelikan emas batangan. Kalau memang mampu, kenapa tidak?
Ada juga yang tidak sanggup beli emas. Mungkin dialihkan ke yang lainnya, misalnya: deposito maupun reksadana. Masing-masing orang bisa punya pola pikir sendiri-sendiri. Apalagi faktor uang alias finansial juga berpengaruh.
Tulis Komentar
Anda harus Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.