Fenomena Gadis Kretek dan Perokok

Instagram Bisnis Muda

Like

Sejak penayangannya, series baru keluaran Netflix, Gadis Kretek, enggak berhenti jadi trending topic. 

Series yang dibintangi Dian Sastro ini diadaptasi dari novel dengan judul yang sama karya Ratih Kumala, yang terbit pada 2012.

Mengangkat setting 1960-an, Gadis Kretek menceritakan perjalanan seorang wanita anak pengusaha rokok kretek.

Selain bercerita tentang perkembangan rokok kretek, dalam series Gadis Kretek terdapat kisah romansa dan budaya Indonesia yang sangat kental.

Jeng Yah, anak pemilik pabrik rokok Merdeka, yang berbakat dalam industri kretek harus terpentok budaya patriarki.


Salah satunya, wanita dilarang memasuki ruang saus karena dianggap akan membuat nilai rokok kretek menjadi 'asam'.


Gadis Kretek dan Rokok Kretek


Inspirasi cerita Gadis Kretek lahir dari pengalaman keluarga penulis yang membangun usaha kretek rumahan (home industry).

Secara historis, rokok kretek disinyalir sudah diproduksi sejak abad ke-19. Versinya ada 2, kretek tanpa filter dan kretek filter.

Seiring waktu, rokok kretek tanpa filter kini lebih familiar disebut sigaret kretek tangan (SKT). Kalau dibandingkan dengan segmen lainnya, SKT paling banyak menyerap tenaga kerja.

Segmen SKT juga berkontribusi pada 70 persen produksi industri rokok dan menyerap tembakau dan cengkeh dengan volume 2 kali lebih besar daripada sigaret kretek mesin (SKM).

Eits, awas ada nanti ada yang ketukar SKM rokok dengan susu kental manis xixixi


Gadis Kretek dan Perokok Baru


Perdebatan lain yang muncul adalah bagaimana dampak terhadap prevalensi merokok masyarakat Indonesia. Soalnya, adegan merokok diekspos banget dalam series ini. 

Kekhawatiran itu cukup mendasar sih, karena terdapat sejumlah penelitian yang menunjukkan korelasi antara film terkait rokok dengan persepsi remaja terhadap rokok.

Mengenai hal ini bisa dibaca dalam penelitian berjudul Smoking in The Movies Increases Adolescent Smoking: A Review yang ditulis oleh Charlesworth dan Glantz.

Film ternyata jarang menggambarkan dampak negatif terhadap kesehatan akibat merokok, justru merokok digambarkan sebagai perilaku orang dewasa.

Adegan merokok dalam film membuat sikap dan keyakinan penonton terhadap rokok dan perokok malah menjadi lebih baik.

Hmm.. menurut kalian film yang memperlihatkan adegan merokok bakal berpengaruh ga nih ke jumlah perokok remaja di Indonesia?

Artikel ini juga tersedia dengan visual yang lebih menarik di Instagram Bisnis Muda lho, Be-Emers!

Pastikan kamu melihatnya dengan klik foto di bawah ini, ya!

Jangan lupa tinggalkan kritik, saran, atau masukan di kolom komentar!

 

Instagram Bisnis Muda