Penyebab #KaburAjaDulu dan Bagaimana Solusinya?

Penyebab kabur aja dulu dan cara mengatasinya (Foto Freepik.com)

Penyebab kabur aja dulu dan cara mengatasinya (Foto Freepik.com)

Like

Viral tagar #KaburAjaDulu di media sosial.  Apa sebenarnya yang terjadi dibalik tagar #KaburAjaDulu?

Seorang mahasiswa mengatakan bahwa mereka cinta dengan Indonesia, tetapi kondisi kebijakan ekonomi, politik, dan pekerjaan di Indonesia justru tidak baik-baik saja.

Sehingga mereka merasa membuang waktu jika harus tetap tinggal di Indonesia. Sekarang waktunya untuk meninggalkan Indonesia baik itu  untuk bekerja maupun untuk belajar.


Penyebab #KaburAjaDulu

Tidak baik-baik saja artinya apa?  Dari segi peluang mendapatkan pekerjaan,  luar biasa sulitnya.  Mereka yang sudah dengan susah payah masuk perguruan tinggi, berharap setelah lulus jadi sarjana, akan mendapatkan pekerjaan dengan gaji yang lebih besar dari UMR.  

Kenyataannya di lapangan, sulit sekali mendapatkan lapangan pekerjaan yang sesuai dengan ilmunya dan harapannya. 

Jika diterima, gaji tidak sesuai pun dengan gaji yang  diinginkan, sangat rendah serendah gaji UMR.   Menyedihkan sekali bukan?


Baca Juga: Alasan #KaburAjaDulu Ramai di Media Sosial, Ternyata ini Sebabnya!

Dari segi kebijakan politik, ditengarai bahwa untuk menjadi seorang pejabat dalam birokrasi, ternyata tidak mudah sekali.  

Dari segi ekonomi dan kebijakan, akhir-akhir ini para mahasiswa dan generasi muda mengkritisi adanya berbagai kebijakan yang sifatnya populis, untuk mendapatkan “simpati” dari masyarakat seperti program Makan Siang Gratis (MBG)  tetapi sangat bertentangan dengan kebijakan dengan efisiensi anggaran.  

Dalam efisiensi anggaran sebagian anggaran dialokasikan untuk MBG dan Danantara.  Alhasil, dampak efisiensi itu mendatangkan hal yang penting seperti tenaga kerja honorer akan kena PHK,  berbagai anggaran penting dalam pendidikan pun kena potong seperti beasiswa dan UKT. 

Apabila orang tuanya kena PHK dan tidak bisa bekerja, tetapi anaknya mendapatkan makan gratis, mana yang lebih esensial?

Dari segi pendidikan, jika para penerima beasiswa atau mereka yang genius sudah menempa pendidikan di luar negeri dengan S2 dan S3, waktu kembali ke Indonesia, tak ada posisi dan pekerjaan yang layak. 

Misalnya, sebagai layaknya seorang periset, dokter ahli  (perlu banyak peraturan untuk adaptasi di Indonesia).

Tentu para diaspora lebih memilih untuk tetap tinggal di luar negeri yang menerima dengan gaji yang tinggi dan kualitas pekerjaan yang mumpuni.

Brain drain pun terjadi, mereka yang genius lebih memilih bekerja di luar negeri ketimbang di Indonesia.