Sumber gambar: Editing pribadi
Cukup kaget, senang, sekaligus sedih saat MC yang berdiri di atas mimbar tadi malam mengumumkan sesuatu sebelum salat tarawih. Tentunya, yang diumumkan seputar infaq masjid, nama penceramah, dan malam ke berapa Ramadan.
Sesuatu yang diumumkan oleh MC tersebut adalah tentang malam Ramadan. Tadi, dia menyebut bahwa kita sudah sampai di malam ke-14 Ramadan. Insya Allah, besok malam ke-15 Ramadan. Berarti hari ini.
Dia juga menyampaikan bahwa kita sudah hampir setengah perjalanan di bulan suci ini. Artinya, mungkin 14 atau 15 hari lagi, kita akan tiba di lebaran, Hari Raya Idul Fitri. Idul ini juga teman main anak-anak saya, lho! Ya, biar kamu tahu saja, sih.
Baca Juga: 5 Rekomendasi Jaga Stamina Selama Ramadan ala Anak Muda, Tertarik Coba?
Berbatas Waktu
Ramadan memang ada waktunya. Ramadan memang tidak dalam seluruh tahun Hijriyah. Namanya bulan suci Ramadan, berarti memang cuma satu bulan.Beda kalau istilahnya terlambat bulan. Wah, itu berarti kabar gembira bagi istrimu! Selamat, ya! Ditunggu selamatannya nanti. Pintu saya selalu terbuka untuk menerima undangan, kecuail pas tertutup.
Nah, karena Ramadan berbatas waktu, banyak nasihat dari para ustaz untuk mengisi Ramadan ini dengan berbagai macam ibadah. Paling utama memang puasa Ramadan. Ibadah lainnya adalah tilawah Al-Qur'an.
Namun, tahukah kamu, jika Ramadan ini betul-betul pergi, betul-betul telah meninggalkan kita, betul-betul sudah berganti menjadi bulan Syawal, apa yang terasa hilang? Kamu sendiri merasa yang mana?
Ya, memang, bulan Ramadan telah pergi, puasa wajib jadi hilang, tidak ada lagi. Ya, oke, itu memang bisa menjadi jawaban. Namun, masih ada yang lain lagi. Coba tebak! Yang menjawab benar, hadiahnya adalah ibadah haji dan umrah bagi yang mampu.
Ketika Ramadan telah berlalu, maka satu hal yang terasa hilang adalah ibadah salat tarawih berjamaah. Ini betul-betul terasa ada suasana yang berbeda, terutama di waktu Isya.
Setelah salat Isya, kalau bulan selain Ramadan, beberapa jamaah melaksanakan salat sunnah rawatib ba'diyah. Selesai salat, pulang ke rumah, kalau rumahnya masih ada. Lho, memangnya hilang?
Jamaah pulang semua ke rumah, masjid jadi sepi, sunyi, dan gelap lagi di dalamnya. Padahal, masih awal malam. Masih sekitar setengah delapan malam atau menjelang jam delapan.
Baca Juga: 5 Strategi Efektif Berbisnis saat Ramadan
Beda dengan waktu bulan suci Ramadan. Salat Isya selesai, salat sunnah rawatib, ceramah tarawih yang isinya itu-itu saja, lalu salat tarawih sebelas rakaat. Ada pula yang sampai 23 rakaat.
Masjid di waktu malam jadi lebih ramai. Suasananya jadi lebih semarak. Saf-saf masjid jadi lebih banyak dibandingkan bulan-bulan selain Ramadan.
Celoteh anak-anak terdengar nyaring. Suara tawa ibu-ibu di belakang hijab yang entah menggosipkan siapa lagi? Artiskah? Atau malah janda baru di kampung sebelah. Dikira, suami mereka akan tergoda. Semoga saja tidak.
Begitu juga saat salat tarawih selesai karena ditutup dengan salat witir, masih ada beberapa jamaah yang menghitung uang infaq. Malam ini sudah berapa miliar, ya? Sepertinya ini tidak mungkin, tetapi siapa tahu, ada yang bisa begitu bukan?
Jadi, masjid baru benar-benar sepi, mungkin di atas jam setengah sepuluh malam. Dibuka lagi sekitar pukul 3 atau setengah 4 dini hari demi membangunkan sahur. Meskipun, membangunkan sahur begitu justru malah mengganggu kalangan nonmuslim yang ingin juga beristirahat. Mereka ingin protes, tetapi nanti dianggapnya bagaimana, bagaimana.
Saya merasakan sendiri ketika Ramadan itu pergi, suasana masjid kembali seperti semula. Ibarat HP, kembali ke pengaturan pabrik.
Jamaah yang bertahan, ya, itu-itu saja. Biasanya orang-orang tua yang sudah jompo, sementara yang jomblo tidak mau nongol lagi.
Orang-orang yang biasanya meramaikan salat tarawih, setelah Ramadan, kembali malas ke masjid. Mungkin mereka salat Isya di rumah. Ya, kalau ingat salat, kalau tidak?
Saf yang bisa mencapai lima, kini berkurang, jauh berkurang menjadi satu atau dua saf saja. Kalau di tempat saya, di masjid paling besarnya, kondisinya begitu, apalagi yang di masjid-masjid lebih kecil.
Saya jadi merasa benar-benar kehilangan waktu itu. Ya, kehilangan Ramadan, kehilangan juga suasana ramai dan seru waktu tarawih. Harus menunggu satu tahun lagi untuk bisa merasakan yang sama. Meskipun kondisi diri mungkin sudah tidak sama lagi.
Tulis Komentar
Anda harus Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.