Layar Pergerakan Saham di BEI. Sumber: Bisnis Indonesia
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) rontok di akhir Januari 2026 dan banyak pihak menjadikan saham gorengan sebagai biang keroknya. Saham gorengan itu sebenarnya apa sih?
Tapi Be-emers, sebelum kita obrolin panjang lebar soal saham gorengan, mungkin sebaiknya kita pahami dahulu apa itu IHSG. Dilansir dari berbagai sumber, indeks ini mengukur kinerja harga semua saham yang tercatat di papan utama dan papan pengembangan bursa efek Indonesia.
IHSG menggambarkan pergerakan naik turun harga seluruh saham yang diperdagangkan dalam waktu tertentu. Dengan demikian, indeks ini menjadi gambaran kondisi pasar secara umum.
IHSG pertama kalii diluncurkan oleh Burse Efek Indonesia (BEI) pada 1 April 1983 dengan nilai dasar sebesar 100 poin. Nilai ini kemudian berubah mengikuti pergerakan harga saham di pasar. Apabila harga saham naik maka Indeks akan naik dan sebaliknya jiga harga saham anjlok, IHSG otomatis juga tergerus.
Patut diketahui bahwa IHSG ini memiliki fungsi penting bagi investor dan pelaku ekonomi karena indeks ini menjadi indikator kinerja pasar saham, kemudian acuan investasi, serta sebagai alat ukur ekonomi nasional.
Faktor yang Memengaruhi Pergerakan IHSG
Adapun faktor-faktor yang memengaruhi pergerakan IHSG seperti faktor ekonomi global semisal harga minyak dunia dan kebijakan suku bunga Amerika Serikat, kemudian faktor lainnya adalah kondisi ekonomi nasional yang meliputi inflasi, kebijakan pemerintah dan nilai tukar rupiah.Faktor lainnya adalah kinerja dari emiten. Bila suatu emiten mencatatkan laba yang besar, maka IHSG akan menguat. Faktor terakhir aalah sentiment pasar dan faktor psikologis seperti isu politik dan global, serta kepercayaan investor.
Mengenal Saham Gorengan
Be-emers, setelah kita memahami apa itu IHSG, sekarang mari kita masuk ke inti pembahasan kali ini yakni soal saham gorengan. Dilansir dari Bisnis Indonesia, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa jelas-jelas menempatkan saham gorengan sebagai biang kerok anjloknya IHSG sebesar 8% di akhir Januari.Menurut Purbaya, IHSG ambrol setelah laporan Morgan Stanley Capital International (MSCI) menyebutkan bahwa mereka menerapkan kebijakan interim terkait pasar modal Indonesia. MSCI, tutur Purbaya, membekukan sementara perlakuan indeks saham Indonesia karena risau denga terhadap isu free float dan aksesibilitas pasar.
Dengan kata lain, menurut Purbaya, Pasar saham Indonesia kurang terbuka dan banyak melakukan goreng-gorengan saham.
Tulis Komentar
Anda harus Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.