Bersua dengan Pabrik Gula Sindanglaut, Jejak Kejayaan Gula Era Kolonial

Jadi mandor sehari di PG Sindanglaut, Cirebon [Dok. Unlocked Historical Tour]

Jadi mandor sehari di PG Sindanglaut, Cirebon [Dok. Unlocked Historical Tour]


Angin terik Cirebon menyambut kami dengan ramah pada Sabtu, 31 Januari 2026. Gedung gagah itu berdiri, ah akhirnya! Pabrik Gula Rajawali Sindanglaut, akhirnya kita berjumpa!!

Bukan tanpa alasan aku jadi menggilai pabrik tua, baik yang masih aktif maupun sudah tinggal bekasnya. Kegemaranku bermain di pabrik berawal dari kunjunganku ke Pabrik Gula Colomadu di Karanganyar tahun 2022 silam. Sejak itulah aku termotivasi napak tilas pabrik gula yang ada di Jawa.

Yang membuat aku ingin bersorak, PG Sindanglaut masih beroperasi hingga hari ini! Kunjungan ini tak akan kulupakan seumur hidupku!


Sejarah Panjang Pabrik Gula Sindanglaut

Mas Lingga, warga lokal sekaligus guide kawakan dari Cirebon History sudah siap dengan dongengnya tentang jejak si manis dari Pulau Jawa.

Waktu menonton channel YouTube Kisah Tanah Jawa, aku sudah banyak mendengar betapa gula menjadi primadona yang mengisi kas keuangan kolonial Belanda kala masih bercokol di tanah air tercinta.

Bersama beberapa pihak pabrik, kami memasuki gedung. Mesin berukuran entah berapa diameternya menyapa, seolah ingin memperkenalkan diri berikut kisah di baliknya. Kami tak bisa menyembunyikan rasa takjub melihat ragam mesin di hadapanku.

Mesin raksasa penggiling tebu (Dokumentasi Pribadi)

Mesin raksasa penggiling tebu (Dokumentasi Pribadi)



"Pabrik ini sudah berdiri sejak 1830 silam, oleh Dr. William Denisson bersama menantunya yang bernama Joan Quarles Van Ufford. Keduanya lalu teken kontrak untuk mulai membangun serta mengoperasikan PG Sindanglaut ini," urai Mas Lingga memaparkan penjelasannya.

Sejarah panjang dilalui oleh pabrik satu ini, termasuk ketika pabrik dijual kepada Benjamin Feist. Tahun 1872 Benjamin Feist kemudian membentuk sebuah Firma yakni “Maatschappij tot exploitatie der Suikerfabriek Sindanglaoet” agar operasional pabrik lebih teratur.

Namanya saja bisnis; kendati gula yang sudah manis pun tak selamanya mulus. Pada 1883-1885 terjadi krisis yang mengakibatkan industri gula di Hindia Belanda nyaris gulung tikar.

Krisis diakibatkan adanya pembatasan impor gula oleh Napoleon Bonaparte yang menciptakan gap hubungan antara Eropa daratan dengan dunia luar. Kondisi diperparah dengan Wabah penyakit Sereh yang melanda hampir seluruh perkebunan tebu di Jawa.

Berkaca dari geopolitik dunia yang tak selalu stabil, tahun 1893 Benjamin melakukan kerja sama permodalan dengan salah satu “THE BIG SIX” Perusahaan Permodalan yaitu NILM (Nederlandsch Indies Landbouw Maatschapij), perusahaan di bawah bendera Nederlandsch IndischeHandelsbank (NIHB).

1929–1939 turut memukul telak industri gula ketika dinia dilanda era Malaise alias krisis ekonomi internasional. Produksi gula PG Sindanglaut pun merosot, kala itu hanya 34% lahan yang dapat ditanami tebu.

Keunikan Lori dan Industri Gula Kini

Salah seorang petugas tengah mengecek mesin (Dokumentasi Pribadi)

Salah seorang petugas tengah mengecek mesin (Dokumentasi Pribadi)

 
"Pak, pabrik ini bisa memproduksi gula berapa banyak?" pertanyaan kritis lagi-lagi meluncur dari lisanku.

"Dari 1 ton tebu, kira-kira 20% jadi gula kristal," pungkas Pak Andi, pemangku kepentingan yang berjalan di sebelahku. Hitung punya hitung, itu sama dengan 0,2 ton alias 200 kilogram gula. Itu pun kalau lancar tiada kendala.

Walaupun panasnya ampun, Cirebon diberkahi musim kemarau yang cukup panjang dan kering sehingga cocok ditanami tebu.

Tak heran di masa kolonial pabrik gula menjamur di sini, total ada 22 pabrik gula di seluruh Cirebon. Sayangnya mayoritas kini sudah rata dengan tanah, salah dua yang masih aktif ialah PG Sindanglaut dan PG Tersana Baru (Kecamatan Babakan, Kabupaten Cirebon).

Tekstur tanah Cirebon yang berada di dataran rendah juga membuat Cirebon mampu menghasilkan tebu berkualitas super sebagai komoditas unggulan, seperti tebu ireng (tebu hitam) yang laris manis di pasaran internasional. 

Fakta ini menjadi jawaban mengapa PG Sindanglaut masih setia menggunakan kereta lori untuk mengangkut tebu. Kendati mempertahankan desain lama rel sempit, lori yang dirancang sejak zaman kolonial Belanda ini dibuat untuk mempermudah akses distribusi tebu ke pabrik utama.
 

Kereta lori desain kolonial masih digunakan demi efektivitas pengangkutan tebu (Dok. Pribadi)

Kereta lori berdesain kolonial masih digunakan demi efektivitas pengangkutan tebu (Dok. Pribadi)