Screenshot YouTube Elnisha Boutique di website Bisnis Muda
UUD. Dalam pendidikan sekolah kita, biasanya dikenal dengan Undang-Undang Dasar.
Namun, dalam konteks bisnis, UUD itu bisa dibaca sebagai Ujung-Ujungnya Duit. Jangan dibaca seperti nama orang, Uud, nanti jadinya seperti mantan penyanyi dangdut, Uut Permatasari.
Nah, jika UUD diartikan Ujung-Ujungnya Duit, memang begitulah bisnis. Siapa sih yang mau rugi? Siapa sih yang mau bangkrut? Tentu tidak, dong.
Setiap bisnis mengharapkan keuntungan. Mengharapkan uang. Atau lebih tepatnya lagi, mengharapkan cuan. Bukan seperti di acara, ya, Cuan dan Nyonya. Oh, itu beda lagi.
Agar duit, uang, maupun cuan itu bisa tercapai dengan ikhlas, wuih kok ikhlas, maksudnya dengan tepat, maka tentu dibutuhkan usaha. Dibutuhkan strategi. Butuh perencanaan yang matang.
Tidak ujug-ujug datang dari langit. Cuan atau duit itu adalah hasil dari usaha manusia. Ya, tentu, atas izin Allah juga toh.
Mau Lewat Mana?
Kalau mengamati dunia politik, ada yang namanya visi dan misi. Visi itu biasanya terkait dengan tujuan yang ingin dicapai. Sedangkan misi, kalau lewat depan orang lain. Eh, itu namanya permisi. Misi diartikan jalan atau usaha untuk mencapai visi. Seperti bisnis, visi yang ingin diraih misalnya selain mendapatkan uang, juga membuka lapangan pekerjaan.
Minimal, ada orang yang bisa mendapatkan rezekinya karena bisnis kita. Wah, itu mulia sekali! Apalagi orang tersebut juga menafkahi keluarganya. Insya Allah, pahala kita jadi berlipat-lipat.
Dasar dalam berbisnis memang perlu diperkuat. "Mengapanya" harus aktual, tajam, terpercaya. Jadi mirip tagline Liputan 6 SCTV, sih. Kalau alasan kita berbisnis tidak kuat dari awal, ya, mudah melempem, meskipun kita usaha kerupuk.
Soalnya begini, bisnis itu memang tidak selalu untung. Dan, semua orang tahu itu. Beda dengan orang gajian, seperti PNS. Dia akan tetap dapat gaji tiap bulan, stabil pendapatannya.
Bisnis tidak bisa begitu. Hari ini belum tentu hasilnya sama dengan kemarin. Hari besok juga tidak sama dengan hari ini. Hari Panca juga berbeda dengan Hari Potter. Satunya dari acara "Dunia Lain", satunya juga dari "dunia lain" juga, sih.
Jalan yang ditempuh demi mendapatkan hasil yang sebanyak-banyaknya, tetapi tetap harus positif, biasanya menempuh dua cara. Secara offline atau online.
Baca Juga: 7 Strategi Bisnis Fashion di E-commerce ala Elnisha Boutique, Terapkan Cara Berikut!
Strategi Elnisha Boutique Switch Bisnis Offline ke E-Commerce
Kalau offline, lewat toko biasa. Seperti yang diulas dalam artikel ini adalah bisnis fashion busana muslimah dari Elnisha Boutique. Awalnya dari kios di Tanah Abang, tetapi mengalami penurunan omzet karena covid-19.Manisha, sebagai founder dari Elnisha Boutique, mengubah bisnis menjadi online. Melalui ilmu digital marketing yang dipelajarinya dari awal, membuat bisnis Elnisha makin berkembang, makin moncer, lah.
Ini bisa menjadi contoh bagi kita yang saat ini sedang punya usaha. Okelah, laris manis tanjung kimpul, tetapi kalau cuma offline, maka itu akan sangat kurang.
Sekarang perilaku konsumen memang banyak berubah dibandingkan sebelum bumi ini ada. Wah, kok jadi jadul banget!
Maksudnya, dibandingkan zaman-zaman sebelumnya, sekarang online memegang peranan yang sangat penting. Dahulu, orang ingin berbelanja, harus keluar rumah, tanpa harus membawa rumahnya.
Mungkin dahulu terkena panas matahari yang terik hingga dia mau teriak. Mungkin pula terkena hujan yang jelas membuat basah. Mungkin kamu masih ingat waktu kecil ketika disuruh orang tua kamu untuk membeli minyak tanah pakai jerigen.
Kamu mungkin merasa malas disuruh ibu kamu, lalu kamu menumpahkan kekesalanmu pada jerigen yang kamu tendang-tendang pakai lutut. Ah, ini betul-betul kenangan bagi generasi 80-an. Masih ada minyak tanah untuk memasak, sekarang mana ada? Minyaknya hilang, tinggal tanahnya.
Kalau sekarang, orang bisa berbelanja hanya dari tempat tidur. Sambil rebahan, sambil bernapas pula. Cuma dari ibu jari, klik sana, klik sini, barang pun sampai di rumah dengan cepat.
Padahal, kemudahan mendapatkan barang seperti itu, jelas pengorbanan yang sangat besar dari para kurir. Mereka berjibaku dengan panas, macet, hujan deras, padahal kendaraan yang dipakai adalah milik pribadi, terutama sepeda motor.
Mereka berburu waktu agar barang cepat sampai, agar barang tepat diterima kamu. Mereka tidak berharap mendapatkan penilaian negatif dari kamu. Apalagi kalau sampai diberi bintang satu atau direview jelek.
Makanya, sekadar saran, jika kamu sering belanja seperti itu, hargailah perjuangan para kurir itu. Jika kamu memesan makanan secara online, lalu makanan itu benar-benar sudah ada di depan kamu, maka apresiasi kerja mereka dengan memberikan bintang lima.
Kalaupun ada sampai bintang enam, kasih bintang enam. Bintang tujuh, kasih bintang tujuh, meskipun kalau sampai bintang tujuh ini, memang biasanya diawali dengan sakit kepala. Ya 'kan?
Andai kamu punya dana lebih, kasih tips. Yah, 2 ribu rupiah itu cukup, demi lebih memanusiakan mereka. Bayangkan, motor yang kecil, dimuati oleh banyak barang. Kalau rusak, ya, perbaiki sendiri. Kalau ada kecelakaan, juga risiko pribadi biasanya.
Nah, begitulah. Sampai di mana tadi?
Tulis Komentar
Anda harus Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.