Sudah Siap Mudik Lebaran? Jangan Sampai Tiketmu Masih Wacana

Mudik Lebaran Bersama Orang Tercinta (Sumber gambar: Freepik)

Mudik Lebaran Bersama Orang Tercinta (Sumber gambar: Freepik)


Be-emers, ada dua tipe manusia menjelang Lebaran.
  • Tipe pertama: H-30 sudah pegang tiket pulang. Koper bahkan mungkin sudah setengah terisi.
  • Tipe kedua: Masih bilang, “Tenang, nanti juga dapat tiket.”

Biasanya, tipe kedua ini yang akhirnya scrolling aplikasi travel sambil deg-degan. Dan jujur saja, dulu saya sering masuk kategori kedua.
 

Mudik Itu Bukan Sekadar Perjalanan

Sebagai perantau yang tinggal di Padang, Sumatra Barat, Ramadan selalu membawa satu perasaan yang unik.

Entah kenapa, makin mendekati Lebaran, aroma kampung halaman terasa semakin kuat. Bahkan suara takbir di masjid dekat rumah pun rasanya seperti panggilan pulang.

Mudik memang bukan cuma soal berpindah kota.

Mudik itu:
  • rindu yang ingin diselesaikan,
  • pelukan yang tertunda,
  • dan masakan ibu yang tidak pernah berhasil ditiru restoran mana pun.
Tidak heran kalau tradisi mudik selalu jadi momen paling ditunggu masyarakat Indonesia setiap Ramadan. 
 

Drama Tahunan Bernama Tiket Mudik

Lucunya, setiap tahun kita tahu Lebaran pasti datang. Tanggalnya jelas. Bulannya jelas. Bahkan THRnya pun sudah bisa diprediksi. Tapi entah kenapa, membeli tiket mudik sering jadi keputusan paling terakhir.


Padahal faktanya, banyak orang memilih mudik lebih awal hanya untuk menghindari harga tiket yang melonjak menjelang Lebaran.

Artinya? Yang cepat bukan cuma dapat tempat duduk terbaik, tapi juga dapat harga yang masih waras.

Baca Juga: Mau Ikut Mudik Gratis? Ini Syarat dan Ketentuannya
 

Antara Niat Pulang dan Realita Dompet

Be-emers, ada momen ketika kita membuka aplikasi pemesanan tiket dan tiba-tiba merasa: Kadang ada momen lucu ketika membuka aplikasi pemesanan tiket. Niatnya cuma ingin memastikan harga, tapi yang muncul justru rasa kaget.

Harga tiket terasa berubah cepat sekali. Baru kemarin terlihat normal, hari ini rasanya sudah naik tanpa permisi. Di situ biasanya muncul pergulatan kecil dalam pikiran.

Keinginan pulang semakin besar karena rindu keluarga di kampung. Namun di sisi lain, angka di layar membuat kita otomatis menghitung ulang kondisi dompet.

Akhirnya yang terjadi adalah ritual tahunan: membuka beberapa aplikasi sekaligus, membandingkan tanggal keberangkatan, mencari promo tersembunyi, sampai mempertimbangkan berangkat lebih awal atau pulang sedikit terlambat.

Bukan karena tidak ingin segera sampai rumah, tetapi karena perjalanan mudik juga harus tetap realistis. Kita tentu ingin pulang dengan hati tenang, bukan tiba di kampung halaman sambil memikirkan pengeluaran yang membengkak.