Tantangan Membangun Bisnis Fashion Keluarga: Enggak Semulus Cerita CEO di Drama

Manisha Khumairo, Founder Brand Fashion Elnisha Boutique (Sumber gambar: Instagram manishaelve)

Manisha Khumairo, Founder Brand Fashion Elnisha Boutique (Sumber gambar: Instagram manishaelve)


Be-emers, pernah enggak sih nonton drama China yang tokohnya CEO muda, sukses, dan kelihatannya selalu tahu harus mengambil keputusan apa?

Biasanya ada adegan dia berdiri di depan jendela kantor tinggi, melihat pemandangan kota, lalu bilang dengan percaya diri, “Mulai hari ini kita kuasai pasar.”

Beberapa episode kemudian, bisnisnya langsung berkembang pesat. Kalau dunia bisnis semudah itu, mungkin banyak orang sudah jadi CEO.

Tapi kenyataannya enggak selalu seperti itu. Di dunia nyata, membangun bisnis, apalagi bisnis keluarga, sering kali penuh penyesuaian. Ada perbedaan cara berpikir, ada tantangan baru, dan tentu saja ada proses belajar yang enggak sebentar.

Hal ini juga yang dialami oleh Manisha Khumairo, founder Elnisha Boutique, brand fashion muslimah yang lahir dari situasi yang awalnya cukup menantang.
 

Dari Toko Tanah Abang ke Dunia Online

Sebelum pandemi, keluarga Manisha menjalankan usaha fashion di Tanah Abang. Kawasan ini sudah lama dikenal sebagai pusat perdagangan yang hampir selalu ramai pembeli.


Namun ketika pandemi datang, situasinya berubah cukup terasa. Pembeli mulai berkurang, penjualan ikut menurun, sementara stok barang di toko masih cukup banyak.

Bagi pelaku usaha yang terbiasa mengandalkan penjualan langsung di toko, kondisi seperti ini tentu bikin khawatir. Mau enggak mau harus mulai mencari cara lain supaya bisnis tetap bisa berjalan.

Dari situlah muncul ide untuk mencoba menjual produk secara online.

Tapi setelah dijalani, ternyata masuk ke dunia digital enggak sesederhana memindahkan barang ke marketplace. Cara mengelola bisnisnya juga harus ikut menyesuaikan.
 

Tantangan Pertama: Menyatukan Cara Pandang

Be-emers, menjalankan bisnis keluarga kadang punya cerita sendiri, terutama ketika ada perbedaan cara pandang antara generasi orang tua dan generasi muda.

Orang tua biasanya sudah terbiasa dengan cara bisnis konvensional. Membuka toko, menunggu pelanggan datang, lalu melayani pembelian secara langsung. Cara ini sudah berjalan bertahun-tahun dan memang terbukti berhasil.

Sementara itu, generasi muda melihat peluang besar di dunia digital.

Di bisnis online, promosi punya peran yang sangat penting. Tanpa pemasaran yang aktif, toko bisa saja sulit ditemukan di antara banyaknya brand lain yang menjual produk serupa.

Di fase ini, Manisha tidak hanya belajar mengembangkan bisnis, tetapi juga mencoba menjembatani dua cara berpikir yang berbeda.