Ketupat dengan Opor Ayam, Juaranya Kuliner Khas Idulfitri di Kampung Halaman


Disiapkan Demi Keluarga

Biasanya, untuk urusan dapur memang menjadi wewenang dan wilayah kerja para ibu. Entah itu ibu yang sudah memiliki anak, maupun ibu yang belum memiliki anak, tetapi buah hati. Lho, ini 'kan sama saja. 

Dalam kenyataan, momen menunggu Idulfitri melalui sidang isbat menjadi cukup menegangkan. Apakah besok sudah Idulfitri ataukah lusa? 

Soalnya begini, menyiapkan hidangan ketupat dan opor ayam ini tidak bisa dalam waktu yang singkat. Harus ditunggu dulu dari telur, menetas menjadi ayam kecil, hingga tumbuh menjadi ayam remaja dengan segala problematika cintanya, dan akhirnya jadi ayam dewasa. 

Lalu, hidupnya berakhir di pisau tajam khas algojo penjagal ayam. Begitulah siklus hidup ayam. Mereka tidak pernah memikirkan nasib negara ini, apalagi konflik antara Iran melawan Israel dan Amerika Serikat. Miris, ya? 

Oleh karena itu, bagi kita yang menikmati sajian ketupat dan opor ayam, mestinya memang harus banyak bersyukur. Sebab, yang merasakan Idulfitri ini dalam berbagai keadaan. 


Ada yang keluarganya masih lengkap, Alhamdulillah. Ada yang keluarganya sudah tidak lagi lengkap. Tahun lalu masih bersama, tahun ini sudah tidak lagi bersama. 

Apalagi ditambah dengan kondisi perekonomian yang masih ngesot ini, melebihi suster ngesot yang tidak mau pakai skateboard itu biar cepat.

Tidak semua orang bisa beli ayam utuh, tidak semua orang bisa membeli bahan-bahan ketupat. Dan, tidak semua orang bisa merayakan Idulfitri dengan penuh sukacita. 

Ketupat dan opor ayam tidak hanya berupa makanan, tetapi ini adalah simbol kesyukuran, sekaligus simbol keprihatinan. Idulfitri menjadi hari kemenangan, sekaligus menjadi hari pemikiran, apakah setelah Ramadan ini, kita makin meningkat? 

Babe Jamil Azzaini pernah mengadakan training selama tiga hari. Setelah mengikuti training tersebut, ada orang yang betul-betul berubah hidupnya. Tentunya atas izin Allah. 

Nah, kalau training yang tiga hari saja bisa seperti itu efeknya, apalagi ini training selama 30 hari. Harusnya lebih dahsyat dan hebat, dong! 

Jika ada orang yang tidak meningkat setelah Ramadan, maka bukan Ramadannya yang disalahkan. Bukan bulan puasanya yang salah, melainkan, ya, orangnya itu sendiri. 

Ketupat dan opor ayam. Mungkin bumbunya bersantan dan berminyak. Namun, sekian lama hidup, sudah pernah merasakan berbagai macam santan kehidupan. 

Begitu juga minyak, mungkin pernah merasakan kesulitan saat mau beli minyak goreng yang naik harganya, susahnya dahulu mencari minyak tanah waktu masih kecil, atau mau beli minyak wangi yang mahal dan merek terkenal sesuai kemauan istri, tetapi tidak ada uang. 

Kalau sekarang, ketupat dan opor ayam menjadi perpaduan yang khas, estetik, rasa dan aromanya menggoda, serta selalu dirindukan tiap lebaran atau Idulfitri. 

Ibaratnya seperti ikatan keluarga yang harus selalu saling merindukan. Melalui makan bersama ketupat dan opor ayam ini, diharapkan ikatan keluarga makin utuh, kuat, dan selalu hadir sampai ke dalam hati. 

Mungkin begitulah filosofinya. 

Makan ketupat campur opor ayam, 
opor ayam dihangatkan setelah lebaran. 
Kalau ada masalah janganlah dendam, 
lupakan kesalahan dan saling bermaafan. 

Kalau ada yang bilang "cakep", mohon maaf, berarti kamu baru tahu wajah saya sekarang, ya? 




---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Punya opini atau tulisan untuk dibagikan juga? Segera tulis opini dan pengalaman terkait investasi, wirausaha, keuangan, lifestyle, atau apapun yang mau kamu bagikan. Submit tulisan dengan klik "Mulai Menulis".
 
Submit artikelnya, kumpulkan poinnya, dan dapatkan hadiahnya!
 
Gabung juga yuk di komunitas Whatsapp Group kami! Klik di sini untuk bergabung