Sentuhan personal ini yang sering menjadi alasan pelanggan melakukan pembelian ulang. Setelah percaya pada kualitas dan pelayanan brand, mereka akan lebih mudah melakukan pembelian berikutnya, baik datang kembali ke toko maupun pembelian lewat e-commerce.
Menariknya, efek offline store juga terasa pada performa kanal online. Banyak pelanggan yang awalnya datang ke toko untuk mencoba produk, lalu akhirnya melakukan pembelian ulang lewat marketplace karena sudah yakin dengan ukuran dan kualitasnya.
Sebaliknya, audiens yang pertama kali menemukan brand dari TikTok atau Instagram juga akan lebih percaya untuk membeli saat tahu brand tersebut punya offline store yang jelas. Ini membuat offline store bukan hanya kanal penjualan, tapi juga simbol kredibilitas brand.
Jadi, di tengah dunia digital yang semakin ramai, offline store masih punya kekuatan yang sulit digantikan, yaitu membangun kepercayaan pelanggan lewat pengalaman nyata. Ketika kepercayaan sudah terbentuk, peluang cuan pun jadi jauh lebih besar.
Nah, kalau kamu punya pengalaman membangun offline store atau strategi lainnya di industri fashion, yuk bagikan cerita versimu lewat Writing Challenge dari Bisnis Muda!
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Punya opini atau tulisan untuk dibagikan juga? Segera tulis opini dan pengalaman terkait investasi, wirausaha, keuangan, lifestyle, atau apapun yang mau kamu bagikan. Submit tulisan dengan klik "Mulai Menulis".
Submit artikelnya, kumpulkan poinnya, dan dapatkan hadiahnya!
Gabung juga yuk di komunitas Whatsapp Group kami! Klik di sini untuk bergabung
ALLMEIRA RAISSA HARTOMO
Tulis Komentar
Anda harus Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.