Bukan Soal Intelektualitas, Ini Soal Isi Kepala: Menolak Normalisasi Pelecehan Seksual

Mengungkapkan kasus pelecehan seksual di FH UI Jakarta dan ruang aman bagi perempuan di kantor dan kampus, sumber gambar: editing pribadi

Mengungkapkan kasus pelecehan seksual di FH UI Jakarta dan ruang aman bagi perempuan di kantor dan kampus, sumber gambar: editing pribadi

Like

Indonesia kembali terguncang. Bukan karena gempa bumi, melainkan sebuah gempa informasi yang menohok banyak pihak. 

Sebuah kasus yang mencuat secara nasional, mencoreng wajah-wajah yang selama ini dianggap punya intelektualitas, pemikiran, sikap, dan adab yang tinggi. 

Dari kata "tinggi" di paragraf sebelumnya ini, memang ada kaitannya dengan pendidikan tinggi. Dikatakan pendidikan tinggi bukan karena sekolahnya di atas atap atau genteng, melainkan menyangkut sebuah institusi yang dihuni oleh para mahasiswa dan dosen. 

Sebuah kasus pelecehan seksual yang dilakukan oleh 16 mahasiswa di Fakultas Hukum Universitas Indonesia. Dari namanya saja, pastilah letaknya di Indonesia, bukan di Zimbabwe, apalagi Simbah We, karena itu adalah nama panggilan bapaknya teman SMA saya.  


Melalui Grup Whatsapp

Sebelum bahas lebih jauh kasus ini, coba tengok Whatsapp kamu, ada berapa grup Whatsapp di sana? Tang, ting, tung, bukan suara gendang, melainkan aneka macam notifikasi yang muncul dari banyaknya grup itu.

Mau dihapus, kok dirasa penting. Mau dipertahankan, kok isinya banyak yang tidak penting. Serba salah memang memiliki banyak grup Whatsapp.


Saya sendiri kalau tidak penting-penting amat, tidak saya buka grup tersebut. Toh, seharusnya membuka grup Whatsapp harus ada acara pembukaan bukan? Minimal mengundang bupati atau walikota begitu?  

Ketika saya melihat di layar, cukup melihat notifikasinya, diklik sebentar, baru ke luar lagi. Bukan ke luar negeri, apalagi ke Rusia dan Perancis, untuk acara ulang tahun, melainkan ke luar Whatsapp.

Buka grup lain, rupanya masih ada di Telegram dan sebagainya. Dunia kok jadi penuh grup, ya? Dunia macam apa ini? Apa kata dunia? 

Nah, kembali ke kasus pelecehan seksual dari FH UI, Jakarta ini. Setelah saya ulik beritanya, memang pelecehannya bukan berwujud pemerkosaan, apalagi sampai hamil. Ini yang ditujukan hamil memang perempuan, bukan laki-laki. Sebab, laki-laki yang hamil cuma ada di film Kera Sakti. 

Meskipun bukan berwujud pemerkosaan, kasus ini tetap mengerikan dan membuat miris. Ada sebuah grup Whatsapp yang isinya melecehkan para mahasiswi, bahkan dosen. 

Para pelaku mengirimkan komentar vulgar, melakukan objektifikasi terhadap tubuh perempuan, dan kalimat-kalimat lain yang merendahkan perempuan, meskipun para perempuan itu adalah orang yang mereka kenal sendiri. 

Kasus ini mulai terkuak dalam sebuah media sosial dan ada komentar bahwa anak FH UI membuat grup yang isinya melecehkan perempuan setiap hari. 

Ini yang tidak habis pikir, meskipun juga habis pikir sama berbahayanya dengan habis beras. Bagaimana mungkin para mahasiswa, kuliah di fakultas hukum lagi, tetapi bisa melakukan hal seperti itu? 

Akan tetapi, artikel ini tidak akan mengupas terlalu jauh, karena sudah ditangani oleh pihak kampus. Kita menunggu saja seperti apa akhirnya dan kamu juga menunggu saya, tulisan ini seperti apa akhirnya juga. 


Kisah Sepasang Suami Istri

Pernah pada suatu pagi, ketika saya sudah bangun tidur dan membuka Threads, kalau masih tidur, bagaimana bisa membuka media itu? Ternyata ada sebuah kisah yang cukup menohok juga tentang sepasang suami istri. 

Saya tidak tahu nomor buku nikah mereka, yang jelas buat apa juga tahu, ya? Awalnya, si suami itu meminta haknya sebagai seorang suami. 

Yah, pastinya tahu, lah, haknya itu seperti apa? Bukankah tujuan pernikahan itu memang menghalalkan yang satu itu? 

Bukan jawaban setuju, iya, atau oke, Mas, melainkan sebuah kalimat yang menyayat pikiran laki-laki malang tersebut, entah dari Malang betulan atau tidak. Istrinya mengatakan, "Kok pikiranmu isinya itu terus, sih?"

Kalimat itu, ya, kalimat itu, berapa huruf itu, membuat sengatan listrik pada pikiran si suami. Dia betul-betul kaget istrinya mengatakan hal yang seperti itu. 

Padahal, suaminya meminta secara baik-baik. Toh, memang sudah haknya meminta kepada istri yang sah dan ujungnya bisa mandi basah. Istri yang legal dan tentu saja menjadi ibadah yang halal. 

Istrinya jelas menolak. Istrinya jelas tidak mau. Dan, sejak saat itu, kalau tidak salah, suaminya tidak pernah meminta lagi. Dia terluka batinnya, pikirannya, perasaannya, batinnya lagi, pikirannya lagi, yah, sekadar menambah kata dalam kalimat ini, lah. 

Dari kisah ini, apakah benar bahwa isi pikiran laki-laki itu selalu hal-hal mesum? Selalu identiknya dengan tubuh perempuan? Selalu kaitannya dengan hawa nafsu? Apakah benar begitu? 

Saya teringat dengan perkataan ustaz saya. Beliau mengatakan bahwa di surga nanti, kenikmatan atau fasilitas yang didapat itu memang berdasarkan syahwat masing-masing, kok. 

Bagi yang laki-laki, ketika masuk surga, maka akan mendapatkan bidadari. Bahkan, dalam sebuah hadits Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam tentang seorang laki-laki yang terakhir ke luar dari neraka dan terakhir pula masuk surga, dia mendapatkan bidadari serta mendapatkan sepuluh kali lipat dunia. Itu yang terakhir masuk surga, lho, bagaimana pula dengan yang sebelum-sebelumnya?  

Bagaimana dengan perempuan? Sama juga, sesuai dengan syahwatnya. Ketika perempuan masuk surga, maka dia akan mendapatkan perhiasan, rumah, mutiara, pokoknya yang selama ini diidam-idamkan dan menjadi favoritnya di dunia. 

Perempuan tidak mendapatkan bidadara atau laki-laki yang luar biasa layaknya bidadari. Perempuan yang sholihah, dia malah menjadi ratunya bidadari. Lha wong bidadari saja sudah begitu luar biasa cantiknya, apalagi ratunya. Ya 'kan? 

Jadi, sampai di sini, sudah menjadi kodrat bahwa laki-laki itu memang suka dengan perempuan. Bahkan, Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam pun menyukai perempuan. Wajar, dong, beliau manusia biasa juga, hanya bedanya, beliau diberikan wahyu, kita tidak. 

Makanya, syariat poligami itu adanya di laki-laki. Boleh, kok, seorang laki-laki muslim mempunyai istri sampai empat, meskipun saya belum pernah melakukannya. Kamu juga bukan? Kita mungkin memang sama-sama penakut.


Hasrat yang Terpendam

Syahwat yang menggebu-gebu pada diri seorang laki-laki itu disalurkan yang paling bagus ke mana, sih? Tentu saja, jawabannya adalah melalui jalur pernikahan. 

Sudah inilah jalur yang paling tepat, tidak ada yang lain. Kalau yang lain, jalurnya berupa perzinahan yang terlarang dalam agama maupun negara ini juga. 

Berat, lho, menjadi laki-laki sekarang. Sudah imannya lemah, godaannya bertubi-tubi. Godaan fisik kena, godaan nonfisik juga kena. Kalau buka media sosial, yakin deh, pasti banyak yang membuka aurat. 

Jangankan laki-laki biasa, ustaz saja bisa goyang keimanannya, kok. Apalagi media sosial punya fitur untuk mempercantik foto atau video seseorang, menjadikannya makin memikat lagi. 

Ini tidak hanya dilakukan oleh perempuan yang tidak menutup aurat, perempuan yang berjilbab pun bisa tampak menarik bagi laki-laki. Terlebih jilbabnya atau pakaiannya tetap menampakkan kemolekan tubuh. Ya, jelas laki-laki normal bisa tergoda juga. 

Kasus pelecehan seksual di FH UI, Jakarta ini memang termasuk kekerasan. Dan, itu tidak dibenarkan secara moral maupun adab. Meskipun kekerasan kadang juga diperlukan, kalau tidak keras, tidak bakal jadi. Es batu misalnya. 

Mungkin menganalisis kasus pelecehan oleh 16 mahasiswa FH UI ini memang cukup kompleks, melebihi vitamin B. Ada begitu banyak sekali faktor penyebab kasus ini bisa muncul. Pelecehan ini bisa terjadi. 

Bisa jadi, di antara laki-laki pelakunya itu, ada yang sudah ngebet ingin menikah. Namun, mungkin terhalangi oleh keluarganya sendiri atau karena persepsi di masyarakat.

Kalau belum bekerja, nikah sekarang, nanti istrinya mau dikasih makan apa? Jawabannya, ya, jelas nasi, lah. Masa dedak? Memangnya ayam? 

Menikah dianggap beban yang sangat memberatkan. Menikah dianggap aib jika si laki-lakinya belum bekerja mapan, misalnya jadi pegawai, PNS, menteri, benteng, ster, maupun raja. Eh, kok malah main catur? 

Padahal, rezeki itu tidak harus berwujud uang. Allah telah berjanji, bahwa yang menikah, pasti akan lebih dicukupi. Tadinya rezekinya satu orang, kini jadi dua orang bergabung jadi satu. Masa tidak yakin dengan janji Allah, sih? 

Penyebab lain tentu saja tidak jauh-jauh dari pengaruh pornografi. Yap, pornografi yang menyajikan kenikmatan sesaat, ibarat meminum air laut. Sudah pernah minum air laut satu gelas? Kurang kerjaan, ya? 

Air laut semakin diminum, justru semakin haus. Ikan tentu saja tidak tahu yang ini. Dikaitkan dengan pornografi, makin sering dikonsumsi, justru makin mencari lagi yang lain dan yang lainnya. Ada yang baru lagi nggak? Mungkin begitu pertanyaannya ke temannya. 

Apalagi media yang menyajikan konten pornografi betul-betul sudah tidak terhitung banyaknya. Tidak hanya melalui media sosial, tetapi juga aplikasi-aplikasi yang bebas didownload. Bahkan, anak kecil pun bisa, kalau tidak ketahuan orang tuanya. 

Aplikasi-aplikasi yang menjual konten, foto, video, maupun video call langsung, ini yang terus dikonsumsi oleh anak muda dan nantinya bisa berpengaruh menjadikannya pelaku pelecehan seksual.