Likes
Pola Pendidikan
Faktor lain yang dapat berpengaruh terhadap kasus pelecehan seksual di manapun berada adalah pola pendidikan yang selama ini dirasakan. Okelah, merasa awam terhadap agama, tetapi belajar agama Islam tetaplah perlu berapapun usianya.Para pelakunya mungkin memang jauh dari agama atau tidak pernah ikut kajian agama. Jadi, ruh atau jiwanya kosong, akhirnya yang masuk malah setan. Bisa berwujud jin maupun setan berwujud manusia. Bukan setan pocong, lho, ya, apalagi pocong yang disukai semua orang itu adalah pocongan harga.
Dari kecil, mungkin juga berpengaruh kaitannya dengan pola pendidikan ini. Tidak terlalu diajarkan cara menghargai perempuan. Atau melihat langsung dari sikap ayahnya yang melecehkan ibunya dengan kata-kata kasar, keras, dan mengerikan.
Akhirnya, yang muncul adalah semacam pembenaran, bahwa perempuan itu selalunya di bawah laki-laki. Selalunya perempuan itu bisa dengan mudah dilecehkan. Perempuan tidak akan melawan, perempuan selalu kalah dengan laki-laki.
Faktor-faktor itulah yang dari kecil tertanam, maka pelecehan seksual bisa terjadi. Faktor lainnya adalah jelas salah pergaulan. Manusia itu ibarat magnet yang berlawanan. Ketika dua kutub yang sama, justru tarik-menarik. Kalau magnet biasa, dua kutub yang sama justru tolak-menolak.
Jadi, ada satu laki-laki yang berpikiran mesum. Mungkin dia takut bertindak karena cuma sendiri. Lalu, muncullah satu orang lagi, dengan sikap dan minat yang sama. Berdua jadinya lebih berani.
Ditambah satu orang lagi, satu orang lagi, akhirnya menjadi banyak. Lalu, membuat satu grup dengan minat yang sama tersebut. Ibaratnya, sedikit-sedikit, lama-lama menjadi bukit. Apakah ini maksudnya bukit Teletubbies? Wah, kenangan masa kecil itu!
Solusi untuk Mengatasi Pelecehan Seksual dan Menciptakan Ruang Aman Bagi Perempuan
Pihak kampus FH UI sudah mengambil tindakan terhadap kasus pelecehan seksual ini. Namun, untuk mencegah tindakan sejenis ini terjadi di lingkungan kampus maupun kantor, maka harus ada upaya-upaya yang dilakukan. Pertama, dari aspek pencegahan. Harus ditanamkan betul-betul paradigma maupun persepsi bahwa perempuan yang dilecehkan itu pada dasarnya adalah keluarganya orang lain.
Ini berdasarkan hadits Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam ketika ada orang izin ingin berzina. Dikatakan kepadanya bahwa yang mau dizinahi itu pada dasarnya bisa ibunya orang lain, anak perempuannya orang lain, saudara perempuannya orang lain, dan sebagainya. Pokoknya, keluarganya orang lain, lah.
Coba, misalnya yang di grup Whatsapp 16 orang mahasiswa FH UI itu memajang foto salah satu ibu mereka. Terus, ada yang melecehkan sang ibu tersebut. Kira-kira, anaknya di grup itu akan marah atau tidak? Akan emosi atau tidak?
Kalau secara normal, maka si mahasiswa tersebut akan sangat marah ibunya dilecehkan di grup tersebut. Ibunya yang telah melahirkan kok dijadikan pelecehan seksual oleh teman-temannya sendiri? Pastilah marah, emosilah, bahkan sampai mengajak berkelahi.
Nah, sekarang persepsinya juga sama, yang ditampilkan fotonya di grup itu juga bisa ibunya orang lain, apalagi menurut berita ada dosen juga. Lalu, kenapa malah dijadikan candaan, padahal itu sekali lagi, keluarganya orang lain?
Kedua, perlu menerapkan batasan yang jelas, terutama dalam pergaulan antara laki-laki dan perempuan. Kesulitannya ketika kampus atau kantor secara umum memang campur, jadi batasan pergaulan itu sering tidak jelas.
Bisa jadi, mereka duduk berdua. Bisa jadi, mereka berboncengan sepeda motor berdua. Satunya di depan, satunya lagi di belakang. Ya, iyalah.
Nah, dari situ, muncul kedekatan, hingga terjadilah yang seharusnya tidak terjadi. Apa ini, saya juga tidak tahu.
Pihak perempuan juga perlu menjaga diri, misalnya dengan pakaian yang lebih syar'i, tertutup, tidak menampakkan lekuk tubuh, pokoknya standarnya seperti mukena salat, lah.
Insya Allah, pakaian yang terjaga, akan lebih menjaga pandangan dari laki-laki nakal. Yang perempuan diminta menutup aurat secara sempurna, yang laki-laki diminta menjaga pandangan secara sempurna.
Ketiga, jika sudah terlanjur terjadi, maka tidak bisa tidak harus ada sanksi tegas. Jangan mempertahankan seseorang hanya karena latar belakangnya. Mungkin dia itu berasal dari keluarga berpengaruh, makanya tidak ditindak tegas.
Sanksi yang tegas misalnya sampai pemecatan atau dilaporkan ke pihak yang berwajib memang harus bisa dilakukan, jika upaya-upaya yang lebih ringan gagal dilakukan.
Semoga kejadian pelecehan seksual ini tidak terjadi lagi di kemudian hari, entah hari apa itu, kalau Hari Widiyarso itu nama teman kuliah saya.
Pelecehan seksual memang sebuah tindakan yang memalukan dan bisa menimbulkan trauma bagi korbannya. Cegah, hindari, dan beri sanksi jika sampai terjadi.
Mari jadikan Indonesia ini lebih baik, kalau bisa sekarang, kapan lagi? Kalau bukan kita, siapa lagi? Jangan seperti yang beredar di media sosial, kalau orang lain bisa, kenapa harus saya?
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Punya opini atau tulisan untuk dibagikan juga? Segera tulis opini dan pengalaman terkait investasi, wirausaha, keuangan, lifestyle, atau apapun yang mau kamu bagikan. Submit tulisan dengan klik "Mulai Menulis".
Submit artikelnya, kumpulkan poinnya, dan dapatkan hadiahnya!
Gabung juga yuk di komunitas Whatsapp Group kami! Klik di sini untuk bergabung
Tulis Komentar
Anda harus Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.