Belajar Kemandirian Finansial dari Malvika Amaliah: Menjadi Kartini yang Tidak Cuma Jago Atur Penampilan, Tetapi Juga Jago Cuan!

Artikel tentang belajar kemandirian finansial dari Malvika Amaliah, founder dari brand Womenwear

Artikel tentang belajar kemandirian finansial dari Malvika Amaliah, founder dari brand Womenwear


Meskipun Hari Kartini 2026 sudah lewat satu hari, tetapi suasananya masih terasa hangat. Apalagi jika kamu sedang dekat kompor atau knalpot motor yang baru saja berhenti setelah berjalan lama. 

Momen Hari Kartini biasa diperingati sebagai simbol emansipasi dan perjuangan kaum perempuan untuk bisa setara dengan laki-laki. Nah, setara ini jangan sampai disalahpahami bahwa perempuan harus menjadi laki-laki seperti artikel saya sebelumnya. Perempuan tetaplah perempuan, sesuai dengan kodratnya. 

Ketika momen Hari Kartini pula, sering ada perayaan dengan baju adat. Bahkan, pernah ada satu kantor instansi vertikal yang upacara dengan baju adat tersebut. 

Para pegawainya menyewa baju adat dengan harga Rp50.000,00 per orang. Untunglah cuma disuruh menyewa baju adat, tidak sampai harus menyewa rumah adat per orang juga. 

Kalau bicara baju adat, banyak juga perempuan yang memakai sanggul. Agar bisa tetap melihat, jangan pasang sanggul di depan, cukup di belakang saja.


Dan, jangan pula terlalu semangat. Pasang sanggul yang cukup besar, setelah dilihat, ternyata walah, ban vespa yang dipakai! 


Mengulik Sisi Lain Hari Besar Nasional

Menyangkut hari besar nasional, sering diisi dengan upacara bendera atau perlombaan khusus, seperti pada peringatan 17 Agustus. 

Namun, kok saya punya pandangan berbeda tentang hari besar nasional ini, ya? Menurut saya, hari besar nasional adalah ketika para suami gajian dari tempat kerjanya. Seringnya di tanggal 1 atau 2 bulan berjalan. 

Saat menerima gaji itu, memang perasaan langsung jadi membesar. Serasa kaya raya, melebihi Elon Musk. Yap, Elon Musk itu kalau di Amerika sana, kalau di Jawa jadinya Mas Elon. 

Waktu mendapatkan gaji, buah dari pekerjaan selama sebulan, timbul perasaan yang bisa lebih hebat daripada orang lain. Membandingkan diri dengan orang yang masih pengangguran. Sudah pengangguran, jarang makan buah anggur lagi. 

Pada momen hari besar nasional itu, karena serentak tanggal gajiannya, para istri selalu ingat. Berikutnya, mereka pasti meminta jatah kepada suaminya.

Bahkan, mungkin malah pegang semua uang suami. Bukankah kepanjangan dari SUAMI itu Semua Uang Adalah Milik Istri? Bagi yang tidak setuju, silakan angkat tangan, lalu ambil jemuran kalau turun hujan. 

Nah, ketika posisi istri selalu menunggu suaminya gajian, tiap tanggal satu atau dua, maka dapat disebut bahwa di situ posisi istri adalah pasif. Sebab, semua uangnya, pendapatannya, dari suami semua. 

Bayangkan jika tiba-tiba suami dapat PHD, aduh, maksudnya dapat PHK. Gaji sudah tidak lagi didapatkan. Efeknya, penghasilan keluarga tersebut jadi tidak ada. Sementara, kebutuhan hidup terus ada dan seakan-akan tidak mau berhenti, padahal lampu merah ada di mana-mana.

Kondisi sekarang memang gonjang-ganjing. Serba tidak pasti, terlebih permasalahan ekonomi yang mungkin susah pula dipecahkan oleh para mahasiswi fakultas ekonomi yang terkenal cantik tersebut, bagi yang memang cantik. 

Jadi, butuh solusi demi ketahanan keluarga. Kalau bisa menambah penghasilan, itu Alhamdulillah. Namun, kalau belum, bisa menjadi pembelajaran bagi seorang istri untuk meningkatkan rasa percaya dirinya bahwa ternyata dia mampu, dia bisa, dia sanggup. 

Belajar dalam hal ini adalah tentang kemandirian finansial. Biasanya, seorang istri yang sudah menjadi ibu mengajarkan anaknya untuk mandiri. Misalnya, disuruh untuk mandi sendiri, makan sendiri, membersihkan kamar sendiri, sampai dengan buang air pun sendiri. 

Kalau anak bisa disuruh mandiri seperti itu, maka sang ibu juga mestinya dapat menyuruh dirinya sendiri untuk mandiri, tanpa terlalu tergantung pada suami. Soalnya, berat tergantung pada suami. Coba, bobotnya ibu berapa, suami berapa? Pasti lebih berat istrinya bukan? Hah, bukan? 

Jadi, kemandirian finansial bagi seorang istri itu sebenarnya perlu dan harusnya menjadi motivasi tersendiri. Tetap tergantung pada suami sebagai pencari nafkah utama, tetapi juga belajar mitigasi risiko, jangan sampai terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. 

Pembelajaran untuk mencapai kemandirian finansial dapat dilakukan dengan mudah sekarang. Ada begitu banyak media, ada begitu banyak contoh. Apalagi internet menawarkan informasi tanpa batas, tanpa harus menggerakkan betis. 

Melalui media sosial, aneka contoh perempuan yang sudah mencapai kemandirian finansial cukup banyak. Mereka mendapatkannya dari bekerja dengan orang lain, maupun berbisnis sendiri. 

Terlebih di momen Hari Kartini ini, emansipasi wanita ditunjukkan dengan mencapai kemandirian finansial agar perempuan lebih berdaya. Siapa contoh yang dimaksud? Siapakah orangnya yang bisa dicontoh? 

Saya merekomendasikan contoh dari Malvika Amaliah, founder dan CEO brand Womenwear, usaha fashion busana muslimah yang berasal dari Kota Serang, Banten.