Terkenal Bukan Jaminan, 5 Potensi Wajib KOL Biar Laris Seperti Womenwear

Potensi yang harus dimiliki influencer [Freepik]

Potensi yang harus dimiliki influencer [Freepik]


Strategi bisnis beragam bentuknya, kini kian banyak brand 'merekrut' KOL agar produknya semakin banyak dikenal dan laris dijual. Siapa itu KOL?

Yaitu figur berpengaruh sebut saja artis, fashion influencer, fashion blogger dan sejenisnya. Tugas mereka ialah mempromosikan produk, meningkatkan kepercayaan, dan mendorong pembelian melalui media sosial.


Potensi yang Harus Dimiliki KOL Supaya Produk Laris

Seringkali, orang awam atau malah brand itu sendiri meyakini kalau sosok yang promote produknya terkenal sudah pasti brand akan langsung naik di pasar.

Apakah iya? Hasil diskusi saya dengan rekan sejawat yang sudah berkecimpung di dunia marketing dan A-Z KOL, seorang promoter setidaknya harus mempunyai potensi berikut:


1. Kredibilitas Selera

Artis, siapa pun itu punya taste dalam hal fesyen. Tapi, apa iya selera mereka sudah pasti membuat orang awam yakin untuk pakai juga?

Karenanya, fashion influencer harus memiliki kredibilitas selera. Cirinya: dia konsisten dalam style, tidak latah ikut tren yang ada. Misalnya ia seorang muslimah, diharapkan ia akan otentik dengan baju muslim yang dipakainya.


2. Cocok dengan Audiens

Kedua adalah fit dengan audiens yang menjadi target market si brand ini. Contoh sederhana: harganya sesuai dan setipe secara gaya hidup.


Studi kasus: baju dengan harga affordable tentu tidak sesuai kalau influencer yang pakai sudah terbiasa memakai produk luxury.

Dalam teori Source Credibility Theory: Kepercayaan meningkat jika sumber terasa “relatable”. Produk laris ketika followers merasa: “Ini mantes buat gue, bukan cuma buat dia yang kelihatan 'mahal' karena emang dia terkenal.”


3. Persuasive Storytelling

Berikutnya adalah skill untuk influencer memengaruhi pengikutnya di media sosial. Dia yang hanya posting foto diikuti captionlove this outfit ?” besar peluangnya hanya dapat likes.

Padahalbrand berharap marketing sampai pada convert (orang melakukan pembelian). Influencer diharapkan mampu menyampaikan narasi solutif. Misal: pengalaman pakai koleksi produk dalam cuaca panas, atau bisa juga dilengkapi mix & match yang sesuai.


4. Detail-Oriented Communication

Ini dia yang kerap luput. Sudah ditunjuk sebagai fashion influencer, sudah sepantasnya ia membekali diri dengan product knowledge mumpuni. Bukan sekadar mengandalkan briefing dari pihak brand, tetapi juga mau melakukan riset pribadi.

Mulai dari menjelaskan kualitas bahan, ukuran badan vs size produk, juga cara pakai. Hal ini karena ukuran setiap merk bisa berbeda. M di brand A reguler untuk orang yang sudah biasa pakai size M, tapi bisa jadi di brand lain M nya tergolong oversized.