buruh konveksi tengah merampungkan pesanan (sumber : foto pribadi)
Baju baru begitu menggiurkan. Aromanya cukup khas ketika baru dibeli. Apalagi itu adalah produk dengan bahan premium. Kainya lembut dan makin menambah percaya diri ketika busana itu adalah bermerek ternama.
Namun, pernahkah kita bertanya ada apa di balik produk busana berkualitas itu. Siapa tangan-tangan kreatif yang menjahitnya dengan teliti. Lalu bagaimana nasib kesejahteraan mereka?
Buruh Berjuang di Bali Deru Mesin Jahit
Ya, di balik kemewaahan busana yang kita pakai, ada para kaum buruh konveksi yang tengah berjuang. Mereka mengadu nasib di balik deru mesin jahit setiap hari.Tangan-tangan buruh ini dipaksa bekerja cepat. Mengikuti target yang terus menumpuk. Mereka dipaksa menutup target ribuan helai tiap hari. Kadang tidak sedikit dari mereka harus kerja lembur.
Mereka berangkat pagi buta. Absen di mesin karyawan, lalu mulai mengadu jemari mereka di helaian kain, mesin jahit, hingga benang dan jarum. Tidak sedikit tangan-tangan buruh ini kapalan. Mereka tetap bersemangat, demi satu mimpi yang mereka kejar. Anak-anak yang butuh biaya sekolah.
Namun tidak semua dari mereka mendapatkan upah yang sepenuhnya layak. Upah Minimum Regional (UMR) menjadi angka yang cukup diidam-idamkan.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat rata-rata upah atau gaji bersih buruh yang sebagai tenaga produksi, operator maupun pekerja kasar di Jawa Barat ada di angka Rp 2,9 juta. Upah ini memang disesuaikan dengan wilayahnya.
Tapi ada juga yang digaji dengan sistem borongan. Gaji dihitung berdasarkan jumlah produk yang digarap.
Maka tak jarang ketika momen 1 Mei seperti saat ini, buruh konveksi atau garmen jadi salah satu member aksi turun ke jalan. Mereka ikut memperjuangkan nasib dan kesejahteraan mereka. Menyentuh hati dengan orasi, agar para pemimpin peduli.
HENDRIK MUCHLISON
Tulis Komentar
Anda harus Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.