Sehat atau Sekadar Terlihat Sehat: Fenomena Olahraga atau Cuma Olah Gaya?


Bahas Fenomena Tren Olahraga

Tidak hanya joget-joget tidak jelas, rupanya olahraga pun bisa menjadi tren. Dan, ini sebenarnya adalah tren yang positif. Tren yang bisa melawan kemalasan, terutama mager alias malas gerak. 

Kita dapat melihat sekarang sudah banyak komunitas lari. Banyak pula gym culture. Ada pula kelas olahraga, seperti: yoga dan pilates. Selain itu, olahraga juga menjadi pamer progres, terutama di media sosial.

Tren olahraga semacam itu memang membuat kesadaran kesehatan jadi meningkat. Bikin lebih banyak orang bergerak. Kalau sudah cukup banyak orang, maka komunitas olahraga terbentuk. Dan, ini berefek positif, mental health jadi terbantu. 

Namun, ada sisi sebaliknya. Fenomena tren olahraga justru bisa menjurus kepada hal yang bisa jadi kurang positif bagi sebagian orang. Ada yang melakukan olahraga demi validasi sosial. Demi membuat konten yang diposting di medsos. 

Bisa juga orang berolahraga karena FOMO alias ikut-ikutan. Nah, saat orang melakukan olahraga bisa saja mereka hanya fokus ke penampilan, bukan inti utamanya, yaitu: kesehatan. Beli alat mahal, misalnya: treadmill, tetapi jarang dipakai.


Hanya untuk dipamerkan bahwa sudah punya treadmill. Padahal, untuk apa bangga, ya? Kan dipakainya cuma di situ-situ saja, tidak bisa sampai jauh ke luar rumah toh? 
 

Coba Mari Refleksi

Pada bagian ini, marilah kita refleksi. Hem, tidak perlu mampir di tukang pijat. Toh, kalau sedang dalam kondisi banyak utang, dipijat-pijat kepalanya, utangnya masih ada, kok, belum lunas! 

Ada sebuah pertanyaan yang bisa renungkan, bisa di malam ini, atau kalau bisa, direnungkan di tiga malam yang lalu. Pertanyaannya, tanpa perlu menyebutkan berapa kotak mendatar, adalah: “Kalau misalnya olahraga kita tidak diposting, apakah kita tetap akan olahraga? Seandainya tanpa harus pakai validasi sosial, apakah kita masih berminat olahraga?”

Hampir semua orang setuju bahwa olahraga itu memang bikin sehat. Namun, yang perlu diperhatikan di sini adalah motivasinya apa? Tujuan olahraganya untuk apa? 

Apakah lebih baik olahraga tanpa penonton ataukah terlihat sehat, tetapi tanpa benar-benar merawat diri?

Olahraga demi pamer juga ke banyak orang lewat media sosial sebenarnya sah-sah saja, kok. Toh, ini 'kan bukan dalam rangka untuk beribadah seperti salat, dzikir, maupun membaca Al-Qur'an.

Kalau ibadah yang diupload, maka bisa jadi muncul riya'. Dan, perbuatan riya' ini termasuk sirik kecil, tetapi dosanya bisa besar, lho! 

Ketika kita olahraga, lalu proses dan hasilnya diunggah ke media sosial, dari segi positifnya bisa memancing semangat orang lain untuk berolahraga juga. Bukankah ada yang namanya getok tular? 

Kita upload hasil olahraga juga agar lebih semangat lagi di kemudian hari, kok. Kalau tanggapannya bagus, positif, ada yang mengacungkan jempol, ini jelas jempol tangan bukan kaki, siapa sih yang tidak senang? 

Orang yang berolahraga itu ada tiga tipenya, yaitu: tipe yang memang pamer, yang betul-betul niat olahraga secara konsisten, dan yang terakhir adalah tipe yang musiman. Semangatnya kadang hangat, kadang melempem. Persis seperti kerupuk yang disiram air, dengan orangnya juga ikut tersiram. 

Terakhir, mungkin awalnya ada di antara kamu yang suka pamer saat berolahraga. Baru jalan sedikit saja, sudah foto-foto. Untunglah kamu fotonya dari HP, tidak perlu membawa photo booth ke mana-mana. Repot banget bukan? 

Setelah kamu unggah foto maupun video kamu, mungkin ada yang komentar. Namun, mungkin juga banyak yang acuh tak acuh. Urusan orang lain lebih banyak, kok, buat apa urus diri kita. Mungkin begitu kenyataannya. 

Setelah kamu tahu bahwa tidak ada tanggapan sama sekali, padahal sudah mulut diatur sedemikian rupa agar lebih estetik, pakai filter yang mahal, eh, malah sunyi sepi melebihi kuburan. 

Dari situ, Be-emers mulai menyadari bahwa berolahraga ini untuk siapa, sih? Apakah capek-capek lari, bersepeda, atau bahkan berenang dengan membayar sewa kolam renang cukup mahal, hanya demi orang lain? Hanya agar bisa mendapatkan perhatian banyak orang? 

Waduh, kok sepertinya sia-sia itu olahraganya, ya? Kalau ditanggapi sih masih mending, bagaimana jika tidak? Bisa saja semangat Be-emers untuk berolahraga lagi besok-besoknya akan kendor. 

Sayang sekali, betul-betul sayang sekali, olahraga dengan niat semacam itu. Padahal, kita berolahraga ini selain menjaga kesehatan, juga membuat mood jadi lebih baik, lho! 

Coba, deh, rasakan setelah berolahraga. Itu juga yang saya rasakan. Setelah saya bersepeda dengan target minimal 10 kilometer, ketika sudah pulang ke rumah, badan jadi lebih segar dan hati jadi lebih senang. 

Ada rasa yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Setelah berolahraga, tubuh melepaskan hormon dopamin dan endorfin. Silakan dicari di buku kamus perpustakaan daerah, arti dan manfaat kedua hormon itu, ya! 

Jika kebiasaan berolahraga ini terus dipertahankan, rasa bahagia itu niscaya ada terus dalam tubuh kita. Namun, jika tujuannya hanya untuk validasi sosial, terlebih validasi di media sosial dan ternyata tidak mendapatkan yang kita harapkan, maka rasa bahagia itu pun mulai terkikis. Muncul rasa jengkel dan marah yang mulai berbuah. 

Lebih baik olahraga untuk kesehatan dan kebahagiaan diri sendiri, lah. Toh, yang bisa membuat diri ini bahagia, ya, diri kita sendiri bukan?

Kita tidak bisa mengontrol perasaan dan respon orang lain. Sebab, orang lain bukan remote. Kalau bisa dikontrol, namanya menjadi remote control. 

Sebuah pemikiran untuk kita renungkan bersama: Sebenarnya tubuh kita memang tidak butuh penonton untuk menjadi sehat. Namun, kok ego kita jadi sering butuh panggung untuk merasa berarti, ya?






---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Punya opini atau tulisan untuk dibagikan juga? Segera tulis opini dan pengalaman terkait investasi, wirausaha, keuangan, lifestyle, atau apapun yang mau kamu bagikan. Submit tulisan dengan klik "Mulai Menulis".
 
Submit artikelnya, kumpulkan poinnya, dan dapatkan hadiahnya!
 
Gabung juga yuk di komunitas Whatsapp Group kami! Klik di sini untuk bergabung