Banyak Perubahan, Seperti Apa Peluang Cuan Kecil di Tahun 2030 Nanti?

Future - Canva

Future - Canva

Like

Masa depan itu memang misterius. Namun, kita tetap masih bisa memprediksinya dengan berbagai faktor kok.

Begitu juga ketika menjalani usaha. Meski banyak kemungkinan yang bisa saja terjadi, tapi kamu masih bisa memprediksi prospek usaha kamu nih.

Adapun, pandemi Covid-19 memang membuat perubahan yang sangat signifikan terhadap kelangsungan usaha. Misalnya, sebuah usaha kini akan mampu bertahan jika bisa menyesuaikan diri dengan dunia digital.

Diketahui dari laman Bisnis, Profesor Mauro Guillen dari Wharton Business School menilai kalau tren percepatan akibat pandemi saat ini telah memicu perubahan drastis, seperti penyesuaian teknologi di berbagai bidang. Perubahan ini terjadi karena kebutuhan kontak langsung enggak memungkinkan.

Lalu, gimana prospek peluang usaha 10 tahun mendatang?


Sementara itu, dirinya melihat satu dekade dari sekarang, yakni pada tahun 2023, populasi di atas 60 tahun akan menjadi kelompok konsumen terbesar dan memiliki daya beli yang lebih besar daripada demografis lainnya nih, Be-emers.

Sementara generasi muda, justru tengah mengalami kesulitan menabung. Bahkan, selama pandemi, banyak yang sekarang yang pindah kembali dengan orang tua mereka.

Ia memprediksi, sekitar tahun 2025 mendatang, bakal lebih banyak kekayaan yang akan dimiliki oleh wanita daripada pria. Kok gitu?

Pandemi dapat memperlambat tren ini yang lebih merugikan bagi kaum wanita daripada pria karena mereka cenderung bekerja di bidang jasa.
 

Hindari Langkah Ekstrem

Percaya atau enggak, Guillen menilai, ketika dihadapkan pada perubahan besar, orang cenderung berdiam atau langsung beralih ke opsi ekstrem dan mulai menemukan kembali diri mereka sendiri.

Makanya, ketika kamu berhadapan dengan begitu banyak perubahan, sebaiknya hindari langkah ekstrim dan bergeraklah secara bertahap! Selain itu, jangan buat keputusan yang enggak bisa diubah ketika ada begitu banyak hal yang enggak pasti.

Adapun, Guillen juga percaya, sistem kerja jarak jauh untuk jangka waktu panjang sangat enggak ideal jika berkelanjutan, karena pada dasarnya manusia adalah makhluk sosial. Ia menilai kalau model kerja hybrid justru akan berkembang, di mana karyawan kembali ke kantor setiap dua hingga tiga hari dalam sepekan.