Heboh Pemerintah Australia VS Facebook, Ada Apa Sih?

Facebook - Canva

Facebook - Canva

Like
Beberapa waktu belakangan ini, lagi heboh banget kabar yang menyebutkan kalau pihak Facebook sedang bersitegang dengan Pemerintah Australia nih, Be-emers.

Hal ini bermula dari pernyataan Facebook, yang pada Rabu (17/2) lalu, memutuskan bahwa pihaknya melarang penggunanya di Australia untuk membaca atau berbagi berita di platform Facebook.

Dilansir dari laman The New York Post, keputusan Facebook tersebut berarti pihak penerbit berita Australia enggak bisa lagi berbagi cerita di situs media sosial Facebook. Enggak cuma itu, berita internasional juga enggak bakal bisa dilihat atau dibagikan sama pengguna Facebook lokal di Australia.

Begitu pun sebaliknya. Para pengguna Facebook di luar Australia juga enggak bisa membaca atau membagikan konten atau berita dari Australia.

Kok gitu sih?

Baca Juga: Apa Alasan Perusahaan Besar Boikot Iklan di Facebook? 
 

Menolak Usulan Undang-Undang di Australia

Hal tersebut terpaksa dilakukan Facebook seiring dengan adanya usulan Undang-Undang atau regulasi Perundingan Media baru di Australia. Usulan regulasi tersebut membuat perusahaan-perusahaan teknologi seperti Facebook, harus membayar setiap berita yang di-posting di platform mereka.

Kalau berdasarkan UU yang diusulkan dari Komisi Persaingan dan Konsumen Australia, Google dan Facebook bakal diharuskan untuk bernegosiasi dengan penerbit media dan memberikan kompensasi kepada mereka atas konten yang muncul di situs mereka nih, Be-emers.

Kalau menurut Managing Director Facebook Australia dan Selandia Baru William Easton, melalui blog Facebook, undang-undang yang diusulkan pada dasarnya salah memahami hubungan antara platform Facebook dan penerbit yang menggunakannya untuk berbagi konten berita.

Bahkan, Easton juga menilai, usulan undang-undang itu hanya akan bikin pemerintah setempat bisa memutuskan siapa yang bisa masuk dalam perjanjian konten berita. Pada akhirnya, berapa banyak pihak yang telah menerima nilai dari layanan tersebut saat mulai berbayar pun jadi pertanyaan besar Facebook.

Alhasil, Facebook merasa harus menghadapi pilihan yang sangat sulit, antara mematuhi undang-undang yang mengabaikan realitas hubungan tersebut atau berhenti mengizinkan konten berita pada layanan Facebook di Australia.

Namun, akhirnya, Facebook pun memilih pilihan yang kedua, yakni memblokir setiap berita atau konten dari Australia.

Selain itu, keputusan Facebook tersebut juga jadi preseden buat Facebook untuk bisa menangani upaya global lain yang memaksanya membayar penerbit berita untuk konten mereka.

Padahal, menurut Easton, keuntungan bisnis Facebook dari berita sangat minim. Soalnya, cuma ada kurang dari 4 persen konten yang dilihat publik di News Feed mereka lho!

Bagi Facebook, jurnalisme itu penting bagi masyarakat demokratis. Makanya, di sisi lain, Facebook pun bersiap buat meluncurkan Facebook News di Australia nih, Be-emers.

Hal itu dinilai secara signifikan sekaligus “meningkatkan” investasinya dengan "penerbit lokal", dengan aturan yang lebih “tepat."

Enggak tanggung-tanggung, Facebook bahkan memilih untuk lebih memprioritaskan investasi ke negara lain. Hal itu juga menjadi bagian dari rencana Facebook untuk investasi dalam lisensi baru dalam hal News Program dan Experiences.

Adapun, dilansir dari The News York Times, Facebook dan Google sebenarnya telah berjuang keras untuk mencegah hukum Australia. Namun, Google justru membuat keputusan yang berbeda dengan Facebook.

Google justru dikabarkan tunduk pada undang-undang tersebut nih, Be-emers. Diketahui, pihak Google bahkan telah membuat kesepakatan multi-tahun dengan News Corp. untuk membayar kontennya.

News Corp. adalah pemilik salah satu surat kabar terbesar di Aussie lho. Selain itu, buat kamu yang belum tahu, News Corp. juga merupakan perusahaan induk dari New York Post, dan menerbitkan Wall Street Journal, Barron's dan MarketWatch di samping sejumlah surat kabar di luar negeri.

Perjanjian Google dengan News Corp. pun berlangsung hingga tiga tahun. Menurut Presiden Kemitraan Global Google Don Harrison, perusahaan telah berinvestasi untuk membantu organisasi berita selama bertahun-tahun dan berharap bisa menjalin lebih banyak kemitraan lagi.

Waduh, kalau menurut kamu, lebih baik jalan yang diambil Facebook atau Google nih, Be-emers?