CEO Nike Sebut Skandal Reseller Berdampak ke Customer

Nike - Canva

Nike - Canva

Like

Beberapa waktu lalu, dunia sneakers sempat dihebohkan sama kasus resign salah satu eksekutif Nike. Yang bikin heboh, hal itu dilakukan setelah anaknya menggunakan kartu kredit untuk memborong sneakers dengan brand pesaing Nike, yakni Adidas!

Lebih tepatnya sih, dalam laporan Bloomberg Businessweek, eksekutif Nike bernama Ann Hebert menemukan putranya yang bernama Joe Hebert, menggunakan bot untuk melakukan pembelian online 600 pasang sneakers Adidas Yeezy Boost 350 Zyon yang baru dirilis.

Enggak cuma borong sepatu Adidas, Joe juga sempat dikabarkan menggunakan diskon khusus karyawan Nike milik ibunya untuk borong sneakers di outlet Nike! Joe melakukan hal itu untuk mendukung usaha reseller sneakers yang ia jalani.

Baca Juga: Eksekutif Nike Resign Setelah Anaknya Pakai Kartu Kredit Buat Beli Sneakers Limited-Edition, Kok Bisa?

Nah, ternyata, hal itu cukup berdampak pada bisnis Nike lho, Be-emers. Dilansir dari Business Insider, CEO Nike John Donahoe melaporkan kalau skandal tersebut telah merusak kepercayaan pelanggan.


Jadi, keputusan resign Ann dari Nike setelah Bloomberg melaporkan putranya yang menjalankan bisnis reseller sneakers, ternyata “memicu pertanyaan” pelanggan soal kepercayaan peluncuran produk Nike.

Bagi Donahoe, enggak ada yang lebih penting daripada kepercayaan yang diberikan oleh para konsumen kepada produk dan brand Nike. 
 

Nike dan Bisnis Reseller

Joe memang dilaporkan menggunakan kartu kredit milik ibunya untuk membeli sepatu edisi terbatas senilai lebih dari US$100.000 untuk dijual kembali. Adapun, usia Joe masih 19 tahun.

Sebenarnya hal ini enggak menimpa Joe doang lho, Be-emers. Skandal bisnis reseller sneakers juga pernah menimpa dua orang seusia Joe, dan keduanya ditangkap pihak kepolisian karena sampai membunuh siswa di Miami untuk menjual tiga pasang Adidas Yeezys.

Di satu sisi, menurut laporan Shoshy Ciment dari Insider, Nike juga ternayta berkontribusi pada pasar reseller dengan merilis produk yang terlalu sedikit untuk memenuhi permintaan

Bahkan, para pengecer sepatu juga bisa bekerja dengan orang dalam industri untuk mendapatkan bocoran detail sepatu dari rilisnya.

Menurut mantan karyawan Nike yang enggak mau disebutkan identitasnya, Nike sebenarnya “menutup mata” terhadap pasar reseller lho!. Ia mengatakan, kalau samapai sepatu Nike berhasil sampai ke pasar reseller, hal itu jadi “kemenangan” buat sepatu itu sendiri.

Adapun, diketahui kalau Ann Hebert merupakan kepala eksekutif yang juga mengelola aplikasi Nike SNKRS, sebuah layanan Nike yang bisa memberi pengguna untuk mengakses acara dan peluncuran sepatu Nike.

Sementara itu, Ann telah menghabiskan 25 tahun karirnya di Nike dan menghabiskan waktunya sebagai perwakilan penjualan dan direktur penjualan Nike.

Wah, kamu ada yang pernah bisnis reseller sepatu branded enggak nih, Be-emers? Apa saja tantangan menjadi reseller barang branded?