Heboh H&M dan Nike Diboikot di China, Ada Apa Sih?

H&M dan Nike - Canva

H&M dan Nike - Canva

Like

Dua brand fashion dunia, H&M dan Nike, lagi menghadapi kecaman di China nih, Be-emers. Enggak tanggung-tanggung, dua raksasa ritel itu berpotensi diboikot lho di “Negeri Tirai Bambu”.

Masyarakat China diketahui telah menyerukan aksi boikot produk H&M dan Nike. Bahkan, banyak juga selebriti yang akhirnya memutuskan hubungan dengan kedua brand tersebut.

Sederet toko ritel online juga telah menghapus H&M dari platform mereka lho, Be-emers! Kok bisa sih?


 

Pernyataan Terkait Kasus di Xinjiang

Jadi awalnya, dilansir dari The New York Times, H&M mengungkapkan keprihatinan mendalam atas atas laporan adanya kerja paksa di Xinjiang tahun lalu. Nah, hal inilah yang akhirnya memicu “badai” di media sosial beberapa waktu terakhir ini.

Pada September 2020, H&M, melalui situs resminya memberikan pernyataan setelah pengawasan global yang meningkat seputar penggunaan Uighur dalam kerja paksa di Xinjiang. Mereka pun menyatakan telah berhenti membeli kapas dari petani di wilayah tersebut.


Pernyataan serupa dari Nike juga menuai kritik nih, Be-emers. Di websitenya, Nike mengungkapkan kekhawatiran akan laporan kerja paksa tersebut dan telah mengkonfirmasi dengan pemasok kontraknya kalau mereka enggak menggunakan tekstil/benang pintal dari wilayah Xinjiang.

Hal itu pun bikin spekulasi kalau produsen pakaian dari Barat menghadapi permusuhan yang meningkat di China atas sikap publik mereka terhadap kerja paksa di Xinjiang tersebut.

Sebenarnya sih, enggak hanya Nike dan H&M. Sejumlah negara Barat juga mengenakan sanksi kepada China atas kejadian tersebut lho, Be-emers, salah satunya yakni adanya larangan perjalanan dan pembekuan aset.

Hal itu pun akhirnya menimbulkan kecaman yang muncul dari media sosial lewat Liga Pemuda Komunis, yang notabene merupakan sayap Partai Komunis China. Media pemerintah China juga meluncurkan kampanye yang isinya pembelaan terhadap produksi kapas buatan Xinjiang dan mengkritik balik pernyataan H&M serta Nike.

Menurut kelompok pemuda tersebut, H&M ingin menghasilkan uang di China sambil menyebarkan rumor palsu. Bahkan, pihak Tentara Pembebasan Rakyat di China menyebut kalau sikap H&M adalah bodoh dan sombong.

Sekedar informasi, The New York Times mencatat, kira-kira satu dari lima pakaian katun yang dijual secara global itu mengandung kapas atau benang dari wilayah Xinjiang.

Sayangnya, menurut kabar yang beredar, pihak berwenang telah menggunakan program kerja paksa dan penahanan massal untuk membentuk kembali sebanyak satu juta orang Uighur, Kazakh, dan minoritas Muslim lainnya untuk menjadi pekerja teladan yang patuh kepada Partai Komunis.