Begini Kisah Akusisi Klub Sepak Bola Tanah Air

Sumber Gambar : Google

Sumber Gambar : Google

Pada Liga Indonesia, jual-beli lisensi klub telah menjadi sebuah hal yang sangat biasa. Jual-beli lisensi klub biasanya bertujuan mencari kesempatan berlaga di Liga Indonesia tanpa harus merangkak dari kasta paling bawah.

Dulu, divisi ini bernama Liga Nusantara, yang sekarang berganti menjadi Liga 3 sejak 2014 lalu.

PSSI tidak melarang klub dijual sampai berpindah markas, kesempatan  ini membuat banyak pihak terlibat dalam transaksi praktis di Liga Indonesia. Sebenarnya, Liga Indonesia memiliki klub-klub besar yang bisa dibilang legendaris dan kini hanya tinggal nama saja dalam sejarah sepak bola Tanah Air.

Beberapa di antaranya bahkan ada yang harus rela menanggalkan namanya lantaran diakuisisi oleh pihak lain dan berganti untuk tetap eksis di sepak bola Indonesia.

Sementara klub-klub besar Liga Indonesia yang tak diakuisisi pihak lain atau bertahan semampunya, tenggelam oleh sejarah perkembangan zaman begitu saja

Baca Juga: Kisah Klub Bola Era Galatama, Klub Profesional yang Tidak Bergantung dengan APBD
 

MADURA UNITED

Membahas sejarah Pelita Jaya adalah yang paling rumit. Sejak 2002, tim ini tercatat telah enam kali berganti nama, sebelum bergeser identitas menjadi Madura United.

Era Pelita Jaya berakhir pada 2015. Ketika itu, nama tim ini adalah Pelita Bandung Raya (PBR). PBR sempat dijual ke Pemerintah Kota Bekasi sebelum diakuisisi oleh Madura United selang setahun kemudian.

BALI UNITED

Kompetisi Liga Indonesia 2015 adalah debut Bali United di kancah sepak bola nasional. Saat itu, klub ini masih bernama Bali United Pusam setelah mengakuisisi Putra Samarinda.

Penjualan Putra Samarinda terjadi pada akhir 2014. Ketika itu, faktor ekonomi melatarbelakangi perpindahan tangan manajemen klub.

Putra Samarinda kerap merugi hingga 15 miliar setahunnya. Sehingga, Hardiansyah Hanafiah selaku pemilik klub menjualnya ke Keluarga Tanuri.

Baca Juga: Ramai Klub Bola Kaesang Berencana IPO, Ini Manfaatnya Menurut BEI
 

PERSIKABO 

Sedikit rumit menjelaskan perjalanan Persiram Raja Ampat sebelum bertransformasi menjadi Persikabo. Sederhananya seperti ini. Pada 2015, dibentuk klub bernama PS TNI yang beranggotakan mayoritas pemain PSMS Medan untuk bermaind di turnamen Piala Jenderal Sudirman.

Ternyata, klub ini menyedot perhatian cukup banyak dari masyarakat. Guna bermain di Indonesia Soccer Championship (ISC) A pada 2016, tim ini perlu membeli lisensi kesebelasan lain. PS TNI lalu mengakuisisi Persiram Raja Ampat pada awal 2016. Klub ini lalu bermarkas di Stadion Pakansari, Kabupaten Bogor.

Bertahan di Bogor hingga 2018, PS TNI pindah ke Bantul dan mengubah identitasnya menjadi PS Tira, yang artinya, TNI dan rakyat. Hijrahnya PS TNI ini dilatarbelakangi oleh minimnya dukungan di Bogor. Hanya semusim di Bantul, PS Tira kembali ke Bogor untuk merger dengan klub Liga 3, Persikabo. Jadilah tim ini bernama Tira Persikabo.

Pada 2020, Tira Persikabo kembali mengubah identitas. Kali ini meninggalkan embel-embem TNI maupun Tira dengan mamakai nama Persikabo 1973.

Wah sangat menarik ya kisah sepak bola tanah air!