Duh, Toyota Indonesia Alami Keterbatasan Pasokan Chip!

Totota Car Interior Illustration Web Bisnis Muda - Canva

Totota Car Interior Illustration Web Bisnis Muda - Canva

Like

Belakangan ini, PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) mengalami kesulitan dalam memenuhi permintaan konsumen nih, Be-emers. Padahal permintaan mobil baru sedang meningkat akhir-akhir ini.

Menurut Direktur Administrasi, Korporasi, dan Hubungan Eksternal PT TMMIN Bob Azam, Toyota memang sedang mengalami keterbatasan jumlah pasokan chip semikonduktor.

Sementara itu, pemerintah Republik Indonesia dikabarkan tetap akan melanjutkan penerapan diskon PPnBM (Pajak Penjualan atas Barang Mewah) 100 persen hingga Agustus 2021. Hal ini dilakukan untuk mendongkrak sektor ekonomi otomotif. Hasilnya pun sudah terlihat sejak awal tahun ini.

Pandemi ini, memang tidak mudah untuk menaikkan kapasitas agar bisa memenuhi semua permintaan konsumen. Namun, Toyota akan berusaha semaksimal mungkin untuk memenuhi demand tersebut.

Toyota sendiri diketahui menjadi merek mobil yang paling laris pada Mei 2021 dalam penjualan wholesales (dari pabrik ke dealer) dan juga retail sales (dari dealer ke konsumen) lho, Be-emers!


Baca Juga: Heboh Kasus Toyota-Daihatsu, Ini yang Perlu Kamu Ketahui dan Perhatikan Soal Recall Mobil

Berdasarkan data dari Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), Toyota mengalami penurunan produksi sebesar 37,2 persen per bulan menjadi 25.925 unit. Pada periode yang sama, penjualan wholesales dan retail ikut meluncur turun sebesar 18,5 persen dan 22 persen.

Jika dilihat secara nasional, produksi kendaraan bermotor roda empat dan lebih mengalami penurunan 32 persen secara bulanan, atau menjadi hanya 63.636 unit. Kondisi tersebut berbanding terbalik dengan awal penerapan PPnBM pada Maret 2021 lalu, yang mana volume produksi naik hingga 31,7 persen secara bulanan.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati, memastikan sejumlah insentif yang akan diperpanjang periode pemberlakuannya seperti PPnBM mobil. Ini merupakan insentif agar sektor ekonomi bangkit dan masyarakat menggunakan resources-nya untuk konsumsi, terutama kelompok menengah ke atas.

Baca Juga: Toyota Akusisi Divisi Self-Driving Milik Lyft Rp. 7.9 Triliun