Kejar Target Energi Terbarukan, PLN Dinilai Perlu Kembangnkan PLTN

Nuclear Energy Illustration Web Bisnis Muda - Canva

Nuclear Energy Illustration Web Bisnis Muda - Canva


Dalam rangka mencapai target EBT atau energi baru dan terbarukan serta emisi nol karbon di tahun 2050, PT PLN (Persero) dianggap perlu mengembangkan PLTN atau pembangkit listrik tenaga nuklir, Be-emers!

Fahmy Radhi selaku Pengamat Ekonomi Energi Universitas Gadjah Mada, menyebutkan bahwa PLN perlu melakukan terobosan baru seiring dengan larangan penggunaan PLTU (pembangkit listrik tenaga uap) agar bisa menghasilkan energi listrik yang bersih.

Nah, salah satu upayanya adalah memulai pengembangan pembangkit listrik tenaga nuklir sejak saat ini. Menurut Fahmy, PLTN dianggap bisa menjadi solusi efektif dengan memanfaatkan uranium untuk bahan baku penghasil panas yang besar.

Fahmy juga menambahkan bahwa PLTN merupakan clean energy yang melengkapi bauran energi pembangkit listrik, sekaligus dapat mengatasi pembangkit listrik energi baru dan terbarukan yang intermittent, yaitu tidak dapat memasok listrik secara penuh.

Selain itu, pasokan listrik PLTS yang terbatas cuaca dan PLTB yang dipengaruhi tiupan angin bisa membuat terjadinya penurunan pasokan listrik.


Ada beberapa syarat agar pengembangan PLTN di Indonesia ini bisa berjalan dengan lancar. Salah satunya adalah komitmen. Komitmen yang kuat untuk merealisasikan PLTN dari kepala negara dibutuhkan dalam pembangunan infrastruktur yang masif ini.

Sementara itu, DPR (Dewan Perwakilan Rakyat) dan DEN (Dewan Energi Nasional) selaku pemerintah juga harus merealisasikan komitmen tersebut dengan merevisi Kebijakan Energi Nasional dan menjadikan nuklir sebagai energi prioritas.

Untuk meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap penggunaan PLTN, dibutuhkan kampanye publik oleh pemerintah dan pihak berwenang, karena tingkat penerimaan masyarakat terhadap nuklir, khususnya pada PLTN masih tergolong sangat rendah.

Hal tersebut disebabkan oleh peristiwa kecelakaan reaktor nuklir yang membuat trauma mendalam bagi masyarakat, seperti yang terjadi di Rusia, Jepang, dan Ukraina.

Dengan perkembangan teknologi nuklir yang semakin mutakhir, seperti yang digunakan oleh Rostov Rusia, kecelakaan nuklir dapat dicegah hingga mencapai 0 persen lho, Be-emers!

Jika tidak memanfaatkan energi nuklir, PLN akan sulit untuk mencapai 100 persen pembangkit listrik energi baru dan terbarukan, yang mana hal tersebut menjadi syarat dalam mencapai zero carbon 2050.

Namun, di sisi lain, Dwi Hary Soeryadi selaku anggota DEN menyebutkan bahwa faktor keamanan PLTN bagi Indonesia masih harus dikaji ulang, salah satunya disebabkan bahwa Indonesia berada di ring of fire.

Dwi menyebutkan bahwa kecelakaan atau kebocoran nuklir tak hanya berupa kecelakaan besar, tapi juga banyak kecelakaan-kecelakaan kecil yang tidak terekspos.

Menurutnya, demi keselamatan masyarakat, pengembangan PLTN di Indonesia benar-benar harus dipertimbangkan secara matang sebelum akhirnya dilaksanakan.

Kalau kamu gimana, setuju nggak nih dengan dibangunnya PLTN di Indonesia, Be-emers?