Dari Sampah Menjadi Barang dan Uang: Kelompok Mahasiswa Ini Buat Inovasi Sistem Pengelolaan Sampah

Kegiatan bank sampah bersama Karang Taruna dan Kelompok Wanita Tani Desa Gupit (Sumber gambar: Pribadi)

Kegiatan bank sampah bersama Karang Taruna dan Kelompok Wanita Tani Desa Gupit (Sumber gambar: Pribadi)

Like

Membenahi permasalahan sampah yang tidak kunjung terselesaikan, mahasiswa KKN Universitas Diponegoro Semarang berkolaborasi terkait sistem pengelolaan sampah bersama Karang Taruna ‘Tojiro” dan Kelompok Wanita Tani (KWT) Sari Makmur Tumpaksari Gupit, Sukoharjo.

Inovasi sistem pengelolaan sampah ini dilatarbelakangi oleh kurangnya kesadaran warga akan dampak dari pengolahan sampah yang tidak tepat, khususnya melalui pembakaran.

Masyarakat tidak mengetahui bahwa sampah sejatinya dapat menjadi barang pakai bahkan uang yang lebih bermanfaat dibandingkan dengan sekadar dibakar.

Mahasiswa mengembangkan inovasi sistem pengelolaan sampah melalui beberapa tahap pendampingan, baik dengan Karang Taruna maupun KWT.

Adapun beberapa inovasi sistem pengelolaan sampah yang didorong oleh mahasiswa Undip sejalan dengan kegiatan pendampingan, yaitu sebagai berikut.


Baca Juga: ByBlock, Balok Beton dari Sampah Plastik Bisa Jadi Solusi?
 

Sistem Tabungan Sampah

Tabungan sampah menjadi salah satu inovasi paling menarik dalam sistem pengelolaan sampah anorganik.

Sampah-sampah yang disetorkan ke bank sampah akan melalui proses pemilahan, penimbangan, dan penjualan kepada pengepul untuk menghasilkan uang tunai.

Buku Tabungan Sampah (Sumber gambar: Pribadi)

Buku Tabungan Sampah (Sumber gambar: Pribadi)


Sebagai pengurus, Karang Taruna menjalankan segala koordinasi yang berkaitan dengan tabungan sampah.

Penyetor sampah akan memiliki tabungan yang digunakan untuk menghimpun maupun mengambil keuntungan dana. Di samping itu, Karang Taruna dan KWT juga turut memperoleh bagi hasil atas keuntungan yang didapatkan.
 

Ecobrick

Inovasi dalam pendampingan pembuatan ecobrick juga merupakan alternatif guna mengolah jenis sampah anorganik, khususnya plastik.
 

Ecobrick dari Sampah Plastik

Ecobrick dari Sampah Plastik (Sumber gambar: Pribadi)
 

Melalui ecobrick, sasaran yang dituju, yaitu KWT Sari Makmur menjadi lebih paham dan sadar akan edukasi bahwa sampah-sampah yang dianggap tidak berguna dapat memiliki nilai guna dan nilai jual kembali melalui pengolahan yang kreatif.

 

Ecoenzyme

Berbeda dengan sebelumnya, pendampingan pembuatan ecoenzyme merupakan alternatif untuk mengelola jenis sampah organik, seperti sayur sisa hingga kulit buah.

Sampah yang mudah busuk ini nyatanya dapat diolah menjadi produk bermanfaat dan memiliki nilai jual. Sebagai kelompok sasaran, KWT juga dapat memanfaatkan hasil dari pengolahan sampah organik ini menjadi ecoenzyme sebagai nutrisi bagi tanaman.

Di samping ketiga inovasi tersebut, mahasiswa Undip juga turut memberikan edukasi dalam pembentukan mindset tentang sampah dan juga perencanaan sistem pada bank sampah sepanjang kegiatan pendampingan terkait pengelolaan sampah tersebut.   


Pendampingan Pembuatan Ecoenzyme (Sumber gambar: Pribadi)

Pendampingan Pembuatan Ecoenzyme (Sumber gambar: Pribadi)
 

Ketua KWT Tumpaksari, Ibu Endang, mengungkapkan bahwa inovasi sistem pengelolaan sampah yang dicanangkan oleh mahasiswa Undip menuai respons dan penerimaan yang positif.

“Kami selaku Ibu-Ibu KWT sangat senang dan menerima solusi yang dibawa oleh Mas dan Mba KKN untuk turut berkontribusi dalam membenahi permasalahan sampah di lingkungan Gupit. Semoga melalui upaya ini, KWT dan Karang Taruna dapat menjadi contoh bagi masyarakat dan permasalahan sampah kita dapat cepat terselesaikan”, ujar Ibu Endang.

Mahasiswa yang tergabung dalam kegiatan ini juga sangat bersemangat untuk berkontribusi dalam memerangi permasalahan sampah. Mereka bertekad penuh untuk selalu turut terlibat dalam mewujudkan kehidupan masa depan yang lebih sehat dan tangguh melalui langkah-langkah kecil.

Baca Juga: Kenapa Sampah Selalu Berserakan setelah Kegiatan Warga? Ini Jawabannya

“Pendampingan pengelolaan sampah ini merupakan upaya mahasiswa Undip untuk membantu masyarakat sendiri dalam memahami dan menciptakan kehidupan yang lebih sejahtera tanpa bergumul dengan sampah. Inovasi-inovasi yang kami bawa ini pun membuahkan hasil optimal berkat semangat dari Karang Taruna dan KWT”, ujar salah satu mahasiswa yang tergabung dalam pendampingan ini.

Secara keseluruhan, pendampingan terkait pengelolaan sampah telah menjadi contoh konkret akan pentingnya peran mahasiswa sebagai penggerak masyarakat dalam memerangi persoalan sampah. Mereka membuktikan bahwa setiap ilmu yang didapat di bangku perkuliahan dapat turut membangun masyarakat yang lebih baik.   

   

Sampah Bukan Warisan Anak Cucu Kita



___________________________________________________

Punya opini atau artikel untuk dibagikan juga? Segera tulis opini dan pengalaman terkait investasi, wirausaha, keuangan, lifestyle, atau apapun yang mau kamu bagikan. Submit tulisan dengan klik "Mulai Menulis".

Submit artikelnya, kumpulkan poinnya, dan dapatkan hadiahnya!

Gabung juga yuk di komunitas Telegram kami! Klik di sini untuk bergabung!