Gimana Dampak Industri Asuransi Saat Ekonomi Minus?

Insurance - Canva

Like

Seperti yang kita ketahui, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), pertumbuhan ekonomi Indonesia tercatat terjun hingga minus 5,3 persen di kuartal II/2020. Dinilai jadi koreksi yang terdalam setelah krisis moneter, gimana dampaknya ke industri asuransi?

Menurut dosen Fakultas Ekonomika dan Bisnis UGM Kapler Marpaung, dikutip dari laman Bisnis, pertumbuhan ekonomi jadi salah satu faktor yang dapat mempengaruhi permintaan asuransi (demand of insurance).
 

Baca juga: Ekonomi Indonesia Minus 5,32 Persen di Kuartal II/2020, Akankah Membaik?
 

Soalnya, objek asuransi berupa risiko atas semua aset atau kepentingan berupa barang, jasa, dan manusia yang menggerakkan ekonomi. Jadi, kalau perekonomian tumbuh, permintaan asuransi pun bakal meningkat.

Sebaliknya, perekonomian yang lemah juga bakal berdampak pada operasional dunia usaha. Nah, kondisi itu akan berdampak pada risiko yang menurun. Alhasil, demand pun akan merosot.

Hal itu diperparah dengan kondisi kinerja keuangan yang lemah. Dalam pengamatan Kapler, kalau suatu perusahaan terpaksa harus melakukan efisiensi, biasanya biaya atau anggaran asuransi lah yang akan dipotong.


Hal itu tentunya akan semakin menurunkan jumlah permintaan asuransi nih, Be-emers.

Baca juga: Biaya Apa Saja yang Ada di Dalam Sebuah Polis Asuransi?
 

Kebutuhan Tersier atau Primer?

Meski begitu, asuransi rupanya masih dinilai sebagai kebutuhan tersier lho. Meski asuransi sangat penting untuk memenuhi kebutuhan, terutama di masa kritis, tapi rupanya masih banyak nih yang menganggap asuransi enggak penting-penting banget.

Apakah kamu salah satunya, Be-emers? Hihi.

Hal itu terlihat dari jumlah pemegang polis yang hanya mencapai 20 persen dari total penduduk Indonesia. Itu artinya, pola pikir berasuransi masih cukup rendah.

Namun, pandemi Covid-19 yang mengancam kesehatan, justru membawa dua sisi pengaruh bagi industri asuransi. Kapler melihat ada kenaikan permintaan asuransi di beberapa produk, seperti asuransi kesehatan dan jiwa.

Sayangnya, di sisi lain, daya beli masyarakat yang tertekan memicu berkurangnya minat masyarakat untuk punya produk asuransi lain. Menurutnya, kenaikan permintaan asuransi tersebut pun tidak bisa mengimbangi penurunan asuransi secara umum.

Jadi, seberapa penting sih punya asuransi, menurut Be-emers?