Bunyinya Langka di Kota Besar, Benarkah Tonggeret Makan Angin?

Tonggeret masih mudah dijumpai di pedesaan Purwakarta [Instagram Unlocked Historical]


Pegal di kaki mulai terasa, peluh membasahi tubuh. Semangat membara karena sebentar lagi kami akan tiba di Curug Cilamaya. 

Curug Cimalaya memiliki tinggi kurang lebih 30-40 meter yang ada di Kampung Parakanceuri, Kecamatan Kiarapedes, Kabupaten Purwakarta.

Sepanjang perjalanan trekking, rombongan kami dimanjakan bunyi tonggeret yang saling bersahutan di pepohonan. Betapa bahagianya, mengingat serangga satu ini sudah sangat langka di kota besar seperti Jakarta.

Di Desa Pusakamulya ini, tonggeret masih sangat mudah dijumpai. Bahkan, tak sedikit masyarakat lokal yang melihatnya langsung ketika sedang dalam perjalanan pulang berladang. Beruntung sekali!


Benarkah Tonggeret Itu Makan Angin?

Trekking ditemani alunan musik persembahan alam [Dokumentasi Pribadi]

Saking terkesannya dan agar melupakan pegal yang mulai terasa di otot paha, aku terus membahas perihal tonggeret. Sebagai orang kota, aku menilai suara serangga yang punya sebutan lain cicada ini ringtone alam termewah yang selalu kunikmati.

"Mba, tahu enggak? Tonggeret tuh makannya angin. Makanya bisa kencang begitu suara dia," cuitan pemandu lokal yang mendampingi kami siang itu memecah paduan suara di udara.


"Hah, emang iya?"

"Iya mba. Tapi ini suaranya masih yang kualitas bawah sih. Ada yang intonasinya panjang dan lebih nyaring, ukurannya lebih gede kayak jangkrik," sahut si pemandu lagi. Nahlo, baru tau lagi tonggeret ada jenisnya!

Dasar emang anaknya ngga percaya dengan 'katanya', sepulang dari Purwakarta aku memutuskan untuk meriset perkara tonggeret ini.

Melansir laman Kompas, ternyata "Tonggeret makan angin" adalah istilah populer yang berkaitan dengan cara hewan ini makan. Seekor tonggeret dewasa menggunakan mulutnya yang tajam seperti jarum untuk mengisap getah pohon kaya nutrisi.

Selanjutnya, sisa cairan berupa urin akan dikeluarkan melalui anus dalam bentuk tetesan kecil. Karena jumlah tonggeret akan sangat banyak saat memasuki musim kawin, tetesan urin menjadi sering dan banyak sehingga terlihat seperti "hujan" atau "makan angin" dari pohon. OH BEGONO.

Kendati tampak menjijikkan, cairan urin tersebut tidak berbahaya bagi manusia. 

Lalu, suara nyaringnya darimana? Tuhan memberkati hewan suara alam ini dengan organ di tubuhnya bernama tymbal di perut si pejantan yang ternyata berfungsi untuk memikat tonggeret betina. Menarik ya!