7 Cara Mencegah dan Menghindari Child Grooming yang Perlu Dipahami oleh Orang Tua

7 Cara Pencegahan dan Menghindari Child Grooming. Sumber Gambar Adobe Express

Be-emers, masih di awal bulan Januari 2026, child grooming masih menjadi isu serius yang tidak boleh diremehkan.
 
Apalagi yang perlu diwaspadai, modus para predator seksual, sebutan bagi seseorang yang aktif mencari dan memanfaatkan orang lain untuk melakukan aktivitas seksual, itu halus dan manipulatif. 

Dikutip dari rri.co.id misalnya, kasus child grooming ini bukan yang kontak fisik secara tiba-tiba. Tetapi merupakan proses yang panjang, dengan cara membangun kepercayaan terlebih dahulu. Yang ini ditujukan untuk eksploitasi seksual.
 

Tempat Rentan yang Perlu Diwaspadai dari Praktek Child Grooming 

Informasi yang penulis peroleh dari berkas.dpr.go.id berikut merupakan beberapa tempat rentan anak mengalami child grooming, yang perlu diwaspadai:
 

1. Media Digital

Misalnya, berbagai media sosial, WhatsApp (WA), bahkan game online. 
 
Di platform ini, predator sering menyamar sebagai teman sebaya, orang yang menyenangkan, terbuka, teman curhat, bisa diajak komunikasi. Sehingga mereka mudah mendekati korban.
 

2. Lingkungan Rumah, Les, Sekolah

Be-emers, child grooming juga sering terjadi di area-area yang dianggap aman. Misalnya lingkungan rumah, les, dan sekolah.
 
Bahkan predator biasanya adalah orang yang sudah dikenal atau dipercaya oleh keluarga, seperti guru, pelatih, atau anggota keluarga jauh.
 


7 Cara Pencegahan dan Menghindari Child Grooming

Berikut adalah 7 cara mencegah dan menghindari child grooming yang perlu dipahami oleh orang tua: 
 

1. Kerja Sama dengan Berbagai Pihak

Yaitu antara orang tua, anak, dan guru. Diskusikan mengenai pengenalan dan pemahaman sederhana mengenai child grooming.

Yang ini sangat bermanfaat untuk memudahkan pengawasan, deteksi awal, dan pencegahan sejak dini. 
 

2. Jadi Pendengar Baik dan Bangun Komunikasi Terbuka

Terutama untuk orang tua, menjadi pendengar yang baik bagi anak adalah kunci utama.
 
Orang tua yang menjadi pendengar yang baik, akan membuat anak merasa nyaman bercerita, menceritakan semua hal, termasuk rasa takut dan rasa tidak nyaman, tanpa rasa takut dihakimi.
 

3. Waspadai Perubahan Perilaku Anak

Misalnya: 1) tiba-tiba anak menjadi tertutup, 2) tiba-tiba kentara menyembunyikan ponsel, 3) membicarakan sosok dewasa tertentu, 4) membicarakan ada orang yang memberi hadiah atau perhatian, dan sebagainya