Pabrik Gula Karangsuwung, Saksi Keemasan Industri Gula yang Tinggal Kenangan

Cerobong asap Pabrik Gula Karangsuwung, pabrik tertua (Foto Pribadi)


Puas mendokumentasikan dan menyelami layer kisah PG Rajawali Sindanglaut yang masih berdiri gagah hingga kini, si Jumbo kembali angkat jangkar mengantar pasukannya yang penuh rasa ingin tahu. 

Kalau sebelumnya pabriknya masih beroperasi, kami bertolak ke pabrik gula lain yang sayangnya kini tinggal memori.

Kendati begitu, kami tetap bersemangat. Pasalnya, Pabrik Gula Karangsuwung ini digadang sebagai pabrik gula tertua dan berkontribusi besar pada perekonomian warga lokal pada masanya.


Pabrik Gula Karangsuwung, Saksi Keemasan Industri Gula pada Masanya

Interior PG Karangsuwung, jejak kereta lori masih jelas terlihat (Foto Pribadi)

Baru masuk gerbang, seruan 'Woooow' sudah menggema di penjuru mobil. Bak benteng, PG Karangsuwung berdiri megah. Ia menyambut kami, seolah membusungkan dadanya: aku dulu berjaya.

Gerbang masuk pabriknya belum menunjukkan tanda rapuh sedikit pun. Sisi yang membuatku kagum pada pemerintah Belanda kendati mereka menjajah Indonesia begitu lama. Apapun yang mereka bangun di sini, masih awet dan tak terbantahkan kualitasnya.

Begitu masuk, pasukan kelelawar mendadak muncul entah berapa banyak jumlahnya. Nampaknya merekalah kini pemilik asli pabrik, bersanding dengan deretan mesin tua yang kini tak lagi tersentuh tangan manusia.


"Pabrik ini berdiri tahun 1867 oleh Hubertus Paulus Hoevenaar," ujar Mas Lingga, pemandu lokal usai memberikan kami kesempatan mengagumi gedung beserta isinya.

Menurut jurnal sejarah yang ia pegang, Hoevenaar merupakan pemilik Maatschappij tot exploitatie der suikerfabrieken Karangsoewoeng.

Ia juga pemilik sah Adiwerna en Djatibarang atau dikenal dengan PG Oejoengroesi di Slawi, Tegal serta PG Jatibarang di Kabupaten Brebes yang popular dengan sebutan “Hoevenaar Concern”.

Pabrik ini memang dibangun di era pemerintah Belanda menerapkan kebijakan Cultuurstelsel alias politik tanam paksa. Kala itu, para petani wajib menyetor hasil panen pada kolonialis sehingga merugikan masyarakat. Kabarnya, sempat terjadi protes di PG Karangsuwung ini karena ketidakadilan yang terjadi.


Si Kecil Cabe Rawit yang Akhirnya Redup 

Salah satu tungku pemanas gula yang masih tersisa

PG Karangsuwung mencapai masa kejayaan pada awal abad ke-20. Saat itu, mesin yang ada mampu menghasilkan gula hingga 20 ribu ton per tahun dan menjadi salah satu pabrik gula terbesar di Jawa Barat.

Baca Juga: 6 Tips Ampuh Menabung Agar Hobi Walking Tour Lancar

Uniknya, secara luas pabrik ini justeru tergolong mungil jika dibandingkan PG di area Jawa lainnya.

"Luasnya hanya 800 gouw (hitungan Belanda dulu). Kalau hitungan sekarang itu kurang lebih 0,7 hektare. Kecil untuk pabrik gula," sambung Mas Lingga.

Kecil cabe rawit, pabrik ini yang menghidupi rumah tangga petani Cirebon dulu. Goresan rel kereta lori di dalam pabrik seolah membuktikan betapa tangguh pabrik satu ini.

Setelah Indonesia merdeka tepatnya pada 1958, pabrik dinasionalisasi oleh pemerintah Indonesia kemudian dikelola oleh PT Perkebunan Nusantara (PTPN) VIII.

Cerobong asap yang masih berdiri tegak, tak lekang dimakan zaman