Kesalahan Iklan OOH (Sumber gambar: PxHere.com)
Like
Banyak pebisnis yang sudah tahu betul soal iklan OOH. Billboard di pinggir jalan, poster besar di pusat perbelanjaan, hingga spanduk raksasa di gedung-gedung tinggi.
Semua itu sudah jadi pemandangan yang sangat biasa. Tapi justru di situlah masalahnya. Karena sudah terlalu familiar, banyak pebisnis yang akhirnya menganggap iklan OOH itu mudah.
Pasang, bayar, selesai. Tanpa riset mendalam, tanpa strategi yang matang, dan tanpa evaluasi yang jelas. Mereka pikir selama iklannya terlihat besar dan mencolok, audiens pasti akan merespons.
Kenyataannya? Tidak selalu begitu. Ada cukup banyak pebisnis yang sudah menggelontorkan anggaran besar untuk kampanye OOH, tapi hasilnya jauh dari ekspektasi.
Bukan karena OOH tidak efektif, melainkan karena ada kesalahan-kesalahan mendasar yang terus diulang tanpa mereka sadari.
Nah, jika kamu sedang merencanakan kampanye OOH atau bahkan sudah pernah menjalankannya dan merasa hasilnya kurang maksimal, artikel ini mungkin bisa jadi bahan refleksi yang cukup penting buat kamu.
Baca Juga: 5 Teknik Copywriting Sederhana Supaya Iklan Billboard Iklan Kamu Lebih Menarik!
Sebelum Be-emers mengalokasikan anggaran lebih jauh, ada baiknya kamu tahu dulu kesalahan-kesalahan fatal apa saja yang sering dilakukan saat menggunakan iklan OOH.
4 Kesalahan Iklan OOH yang Wajib Kamu Hindari
Karena dengan mengenali kesalahannya lebih awal, kamu bisa menyusun strategi yang jauh lebih efektif dan pastinya lebih hemat di kantong.
Yuk, simak selengkapnya!
1. Teks dan Gambar Iklan yang Tidak Proporsional
Audiens di ruang publik punya banyak hal yang bisa mengalihkan perhatian mereka, mulai dari kendaraan yang lalu lalang, ponsel di tangan, hingga obrolan di sekitar mereka.
Artinya, waktu yang tersedia untuk melihat iklan Be-emers itu sangat singkat. Jika kamu memadatkan terlalu banyak informasi dalam satu bidang iklan, besar kemungkinan pesanmu tidak akan sampai.
Baca Juga: 5 Cara Mengukur Iklan DOOH Supaya Cuan untuk Pebisnis
Belum selesai audiens membaca, mereka sudah berlalu. Di sinilah kreativitas benar-benar diuji. Tantangannya bukan sekadar membuat iklan yang indah secara visual, tapi bagaimana mengemas pesan brand yang kompleks menjadi sesuatu yang bisa dipahami hanya dalam hitungan detik.
Proporsi antara teks dan gambar harus benar-benar dijaga, visual yang kuat seharusnya mendukung pesan, bukan malah bersaing dengannya.
2. Mengabaikan Copywriting
Pernah tidak kamu melihat iklan dengan kalimat yang sangat sederhana, tapi langsung paham maksudnya? Itulah kekuatan copy iklan yang baik.
Sayangnya, masih banyak brand yang menggunakan kalimat terlalu panjang, terlalu teknis, atau terlalu "korporat" dalam iklan OOH mereka.
Padahal, rata-rata audiens hanya punya waktu sekitar 3 hingga 5 detik untuk membaca sebuah iklan di ruang publik. Jika dalam rentang waktu sesingkat itu audiens belum juga menangkap apa yang kamu tawarkan, iklan tersebut praktis tidak bekerja.
Copywriting yang baik bukan berarti membosankan, justru sebaliknya. Satu kalimat yang tepat bisa jauh lebih bertenaga dibandingkan satu paragraf penjelasan yang lengkap.
3. Tidak Memperhatikan Keterbacaan Iklan
Banyak brand terlalu fokus pada estetika visual sampai lupa mempertimbangkan satu hal yang sangat mendasar, yaitu apakah iklan ini benar-benar bisa dibaca oleh audiens di lapangan?
Jarak antara audiens dan lokasi iklan OOH bisa sangat bervariasi, ada yang puluhan meter, bahkan lebih. Pertanyaan yang perlu kamu jawab sebelum iklan naik cetak antara lain: apakah teks masih terbaca dari jarak 10 meter atau lebih?
Apakah kontras warna tetap terlihat jelas di bawah paparan sinar matahari langsung? Sudahkah font yang dipilih benar-benar memudahkan audiens untuk membaca, bukan sekadar terlihat bagus di mockup? Iklan yang gagal terbaca sama saja dengan iklan yang tidak pernah ada.
4. Mengabaikan Konteks Lokasi Sebagai Kekuatan Iklan
Tahukah kamu, lokasi yang tepat bisa membuat iklan OOH terasa jauh lebih "ngena" di benak audiens? Sayangnya, banyak brand yang masih memasang iklan tanpa benar-benar mempertimbangkan siapa yang akan melihatnya dan dalam kondisi apa.
Pernah lihat billboard properti di lampu merah jalan raya besar dengan tulisan "Ayo Pulang ke Rumah yang Sebenarnya"? Atau billboard jam weker bergambar pukul 06.00 pagi bertuliskan "Dijamin Gak Terlambat Lagi" yang dipasang di titik macet pagi hari?
Baca Juga: Strategi Ambush Marketing dengan Menggunakan OOH dan DOOH, Tertarik Coba?
Tulis Komentar
Anda harus Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.