Kesejahteraan Pekerja Fashion, Sumber Gambar: Editing Pribadi
Bagi kamu yang sering berbelanja baju, pernah terpikir ketika melihat model baju yang kamu suka, ada rahasia di baliknya?
Misalnya, baju yang dipajang pada sebuah manekin. Apakah ada rahasianya manekin itu jalan sendiri kalau malam?
Waduh, itu mungkin cuma khayalan di film horor! Namun, seandainya benar-benar terjadi, mungkin dia jalan sendiri karena pegal seharian berdiri terus. Ingin stretching.
Kenapa saya meminta kamu untuk sedikit merenungkan tentang baju yang akan kamu beli atau yang memang sudah kamu beli itu. Rupanya, dalam setiap baju yang kamu beli, tidak pernah benar-benar "diam".
Selalu saja ada cerita di baliknya. Dan, cerita itu bisa jadi suka, bisa jadi derita. Cerita tentang banyak orang yang tidak kita kenal. Yang selama ini tersembunyi. Yang selama ini namanya tidak pernah muncul di media, apalagi media di Amerika.
Sebuah Baju Tidak Pernah Berdiri Sendirian
Kita tahu bahwa manusia itu adalah makhluk sosial. Ini artinya manusia itu selalu tergantung dengan manusia yang lainnya. Bukan karena jurusannya di SMA adalah IPS yang mungkin bisa diartikan Ilmu Paling Santai karena sering ada jam kosong. Kalau kaitannya manusia sebagai makhluk sosial, maka sebuah baju, misalnya, pasti melewati mata rantai orang-orang yang telah berperan di dalamnya. Mulai dari petani kapas, para pekerja di bagian pemisahan serat, pemintalan, penenunan, pewarnaan, pembuatan pola, menjahit, hingga finishing dan distribusi.
Jadi, sebuah baju memang prosesnya panjang. Namun, pernahkah kamu terpikir juga baju yang kamu beli sekarang dengan harga tertentu itu, apakah orang-orang yang berperan sebelumnya, sudah mendapatkan haknya?
Apakah mereka sudah sejahtera? Apakah mereka sudah jadi miliarder dan mengalahkan Elon Musk? Sepertinya kalau yang itu masih jauh, meskipun belum bisa menyaingi Elon Musk, tetapi mungkin salah satunya ada yang dipanggil Mas Elon.
Realitas di Balik Industri Fashion yang Tidak Selalu Nyaman
Biasanya, bagi seorang pengusaha, jika mengharapkan keuntungan yang sebesar-besarnya, maka menekan ongkos atau upah pekerjanya serendah-rendahnya. Ada yang memberikan upah yang kadang tidak cukup buat kebutuhan dasar, padahal pekerja tersebut sudah melakukan tugasnya selama berjam-jam. Jangankan untuk sesuap nasi, sebutir nasi saja tidak bisa terbeli. Wah, ini memang parah!
Selain itu, ada pula pekerja di industri fashion yang memiliki jam kerja panjang, sedangkan dikenakan target yang tinggi. Bagi pengusaha seperti itu, pekerja hanya dianggap “biaya produksi”. Tidak dimanusiakan, tidak diorangkan, ora diwongke.
Ironisnya, baju yang mereka buat bisa dijual berkali-kali lipat. Bahkan, yang lebih miris lagi, baju yang mereka buat dan sudah jadi, lalu dipajang di manekin, belum tentu dapat mereka beli.
Hal ini sama dengan tukang bangunan yang membangun rumah dengan ukuran cukup besar. Mereka dibayar sebatas kerjanya saja, namun untuk memiliki rumah semacam itu, tentunya dan sepertinya menjadi hil yang mustahal.
Namun, untuk masalah bangunan tidak akan dibahas di sini. Sebab, banyak orang yang bangunan pagi saja susah. Kita akan membahas tentang baju, tentang fashion, tentang kebutuhan dasar ktia berupa sandang.
Kita menikmati hasil dari pembuatan baju tersebut. Baju yang luar biasa cantik tersebut. Namun, kita mungkin tidak pernah tahu prosesnya hingga menjadi seperti itu. Atau mungkin benar-benar tidak ingin tahu?
Saat Kondisi Dibalik Jadi "Naik Kelas"
Sebagai manusia biasa, kita mungkin akan merasa bangga mendapatkan diskon spesial dari baju yang kita beli. Mendapatkan diskon 50%, kita merasa mendapatkan "harta rampasan perang". Dianggap kategori langka, lebih langka daripada badak bercula satu. Saat mendapatkan harga murah seperti itu, sebenarnya murahnya ini untuk siapa? Apakah murah semata-mata untuk kita saja? Coba kita berpikir sedikit, ketika harga pakaian ditekan setekan-tekannya, maka pasti ada yang "dibayar" pada bagian lain.
Pasti ada pengorbanannya. Pasti ada yang dikorbankan. Dan, sebentar lagi memang akan ada Hari Raya Kurban. Wah, ini tidak ada kaitannya dengan pakaian, nih! Sudah siap berkurban belum?
Harga diskon dan jadi murah tersebut, muncul dua pertanyaan. Pertama, ini yang dikurangi kualitas bahannya? Ataukah yang kedua dan ini bisa membuat trenyuh, kualitas hidup pekerjanya? Justru yang kedua ini sering luput dari perhatian kita.
Saat menghadapi pola yang seperti itu, atau mungkin saja menjadi pola umum dalam bidang fashion, ada sebagian pelaku usaha yang menempuh jalan lain. Bukan yang paling mudah, melainkan setidaknya yang termasuk paling bertanggung jawab.
Pelaku usaha tersebut boleh jadi memilih untuk memberi upah pekerjanya dengan lebih layak. Tidak hanya itu, juga menciptakan lingkungan kerja yang sehat. Ditambah satu lagi, membangun transparansi dalam proses produksi.
Tiga cara itu dilakukan, maka konsekuensinya jelas. Margin bisa lebih kecil atau keuntungan yang didapatkan tidak secepat yang lain.
Namun, namanya dunia, selalu ada dua sisi mata uang. Ada sesuatu yang didapatkan, yaitu: keberlanjutan dan kepercayaan. Sebab, bisnis bukan cuma soal angka-angka di atas kertas, apalagi kertas bekas bungkus nasi kuning, melainkan juga soal manusia yang diperlakukan di dalamnya.
Tulis Komentar
Anda harus Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.