Long Weekend: Ketika Jalan-Jalan Terasa Seperti Olahraga

Long weekend dan jalan-jalan, sumber gambar: editing pribadi


Loooooonggggggggg weekend. Benar-benar libur panjang bagi kamu pekerja kantoran. Terlebih ASN. Hem, saya ini juga termasuk ASN yang kepanjangannya: Alhamdulillah, Sudah Nikah. 

Meskipun namanya long weekend, toh tidak semua orang memanfaatkan untuk tidak masuk kerja. PNS dan PPPK juga tidak semua. Bagi guru, masih masuk di hari Sabtu. Masih ada yang mengawasi ujian sekolah. Padahal, ujian sesungguhnya adalah ujian kehidupan. Lha terus? 

Bagi pekerja sektor informal juga tidak libur. Misalnya, driver ojek online. Masih tetap bekerja, masih tetap mencari nafkah. Begitu pula para pedagang. Nasi kuning misalnya. Masih tetap buka, menyajikan menu nasi yang mungkin warnanya hanya bisa ditemui di acara ulang tahun maupun tumpengan para pejabat. 

Ketika benar-benar libur, banyak yang memanfaatkan long weekend ini. Ada yang merencanakan untuk menyusuri pulau. Maksudnya, mau tidur sepanjang hari, sampai membuat pulau buatan di atas bantalnya. Hii! 

Ada pula yang travelling alias jalan-jalan. Entah itu di dalam kota maupun di luar kota, bolah-boleh saja. Selama masih di dalam Planet Bumi, masih bisa, kok. Beda kalau mau ke luar angkasa, ini jelas susah karena tidak ada angkot maupun bus jurusan ke sana. 


Kalau jalan-jalan wisata itu biasa dikenal dengan yang namanya healing. Ya, asal jangan terlalu jauh saja dan tanpa kontrol juga. Jangan sampai dari yang awalnya jadi healing, akhirnya malah jadi hilang! 


Dilema Ketika Musim Liburan

Memasuki musim liburan seperti sekarang ini, sebuah dilema ternyata muncul. Dilema ini bukanlah nama buah, kalau itu namanya buah delima. Cuma sampai lima, tidak ada detujuh. 

Mau waktu liburan atau tidak, sebagian orang merasa ketika melakukan jogging sudah ngos-ngosan. Padahal waktunya hanya sebentar. Sudah bersimbah keringat, meskipun dia belum menjadi simbah-simbah juga. 

Dari segi umur pun, sebenarnya masih terbilang muda. Masih jauh lebih tua kaumnya Nabi Nuh alaihissalam. Namun, dari segi stamina dan motivasi, rupanya sependek nyala korek api.  

Akhirnya, karena merasa sangat capek, memutuskan diri untuk tidak mau lagi jogging. Tidak usah lagi lari. Ternyata, lari itu tidak seindah yang dibayangkan. Apalagi lari dari kenyataan, setelah harapan tidak sesuai kenyataan. Eh, terbalik, ya?

Namun, herannya, ketika jogging cuma sebentar, tetapi sudah ngos-ngosan itu, berbeda ketika putar-putar di tempat wisata. Rupanya dia kuat. Rupanya dia mampu dan sanggup. Lah, bagaimana Muhsin? Maksudnya, bagaimana mungkin? Kalau Muhsin itu nama teman saya.

Termasuk, jika mereka keliling mal. Cari-cari diskon misalnya. Jalan-jalan dari satu outlet ke outlet lain, ternyata kakinya tidak selemah yang dikira. Bahkan, dari pagi, siang, sore, hingga malam, tetap mampu. 

Ini yang banyak tidak disadari, bahwa ketika banyak jalan kaki, masuk ke tempat wisata alam, cari spot foto yang bagus, dan pindah lagi ke tempat wisata lainnya, ternyata tubuh tetap aktif bergerak.

Bila masuk ke mal, seharian di sana keliling ternyata bisa. Mengapa bisa terjadi hal yang demikian? Apakah karena demikian surat ini disampaikan, atas perhatiannya diucapkan terima kasih? 


Aktivitas Fisik Tidak Selalu Dibenci Tubuh

Ketika namanya olahraga, sering sebagian dari kita merasa berat untuk melakukannya. Membayangkan olahraga itu sebagai suatu hal yang menjadi beban. 

Misalnya, dalam sehari harus jalan kaki minimal 30 menit. Harus lari sekian kilometer. Harus angkat beban di gym sekian kilogram. 

Meskipun kita menyesuaikan dengan kemampuan tubuh, tetap semacam ada "paksaan". Apalagi ketika kita melihat di tayangan video di medsos, wuih, kok bisa ada yang perutnya sixpack begitu? 

Sedangkan, banyak dari kita yang perutnya onepack alias perut buncit, terutama kaum Adam, termasuk yang pernah mengidolakan Adam Sheila on 7. Saya dahulu juga pernah punya perut yang lumayan buncit. Saya menempuh jalur perubahan, bukan jalur hukum. 

Saya coba menerapkan cara dari dr. Zaidul Akbar, yaitu: tidak makan nasi. Yap, nasi yang selama ini menjadi bahan makanan pokok, rupanya menghasilkan gula yang cukup menohok. 

Dalam tiga hari, saya tidak makan nasi sama sekali. Satu butir pun tidak, apalagi setengah hingga seperempat butir. Pokoknya, betul-betul stop nasi. Saya menggantinya dengan protein dan vitamin seperti tempe, sayur, dan buah. 

Ternyata, hasilnya betul-betul tidak terbayangkan. Saya menjadi cukup kurus dan tidak lagi terlihat buncit. Namun, masalah yang muncul kemudian, saya ditegur oleh beberapa teman. Meskipun teguran tersebut masih berbentuk lisan, tidak sampai surat. 

Kata mereka, saya tidak cocok punya postur badan yang seperti itu. Postur yang cukup tinggi, tetapi kurus, ibarat orang yang penyakitan. Saya pun berpikir, mengaca di cermin. Betul juga. Ada benarnya juga. Akhirnya, saya pun kembali makan nasi sampai sekarang! 

Nah, kira-kira begitulah jika kita inginnya menjadi orang lain. Kita ingin berotot, bertubuh kekar, bahkan kalau bisa mirip Ade Rai. Kalau beliau itu binaraga, sementara masih banyak yang binarangka. 

Be-emers, ada sebuah video tentang beberapa orang yang rutin ngegym. Ketika melihat ke luar jendela, mereka malah jadi merasa minder.

Sebab, yang dilihatnya adalah seorang kuli yang terbiasa angkut barang berat. Kuli tersebut bertubuh cukup kekar dan bagus badannya.

Padahal, dia tidak pernah ngegym. Apa mereka mau juga jadi kuli? Kalau kuliah mereka mungkin sanggup, tetapi kalau jadi kuli angkat-angkat berat, belum tentu akan semangat. 

Pikiran ingin selalu menjadi orang lain seperti itu akhirnya menjadi beban. Terbayang setiap hari, bahkan masuk ke alam mimpi. Untunglah Siluman Mimpi sudah dilenyapkan oleh Kera Sakti, jadi tidak akan mengganggu lagi. 

Justru yang mengganggu adalah rasa ingin menjadi kuat, kekar, dan besar. Akhirnya memunculkan tekanan. Saking semangatnya langsung ambil membership tahunan, padahal semangatnya keok juga di bulan ketiga.