Iduladha Lebih dari Kurban: Berbagi ke Tetangga dan Tips Kelola Daging Agar Sehat

Daging kurban/Dokumentasi pribadi


Iduladha menjadi perayaan yang sakral bagi kaum muslim di mana pun setelah Idulfitri meskipun keramaian sangat berbeda. Kesan di suatu daerah dalam menjalani dua perayaan hari raya ini sangatlah kontras.

Orang banyak yang menganggap Iduladha sebelah mata padahal Iduladha adalah hari raya besar.
 
Hari libur pada hari raya Iduladha pun tidak banyak padahal ada ibadah besar setelah sholat Id. Di keluarga besar di Jawa, orang bersikap biasa (tidak seperti lebaran Idulfitri), bekerja, ke sawah, dan tidak ada hidangan.

Di kampung halaman saya, saat Iduladha setiap rumah masih harus menyiapkan hidangan dan kue sebagai jamuan meskipun tidak sebanyak Idulfitri.
 

Iduladha dan Berkurban

Iduladha menjadi momen untuk semua, bukan hanya kaum muslimin saja. Non muslim pun bisa merasakan kegembiraan berhari raya. Daging kurban bisa diberikan kepada tetangga yang beragama di luar Islam.
 
"Allah tiada melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil." (QS. Al Mumtahanah: 8)
 
Dari ayat di atas menyatakan bahwa boleh saja orang muslim yang berkurban memberikan daging kurbannya untuk orang-orang non muslim yang tidak memerangi atau mengusir kaum muslim.

Keadaan ini memberikan gambaran kepada kita bahwa Islam mengatur hubungan baik dengan orang nonmuslim, termasuk dalam hal bermuamalah.
 
Bermuamalah di sini adalah melakukan pekerjaan antara dua orang atau lebih dalam kebaikan. Jika tetangga kita nonmuslim dan selalu berbuat baik, tidak melakukan tindakan yang merugikan kaum muslim, maka tak ada salahnya untuk berbagi dengan mereka.

Begitulah Islam mensyiarkan adab dan perilaku dengan nonmuslim. Iduladha memberi gambaran bahwa hubungan dengan nonmuslim pun harus tetap terjaga.
 
 

Mengelola Daging Kurban

Pelaksanaan penyembelihan di beberapa tempat atau daerah biasanya dilakukan di pagi hari setelah sholat Iduladha. Pisau diasah, perlak dibentangkan, kantong, tanah sudah digali, dan semua perlengkapan itu disiapkan. Dengan menyebut nama Allah, hewan sembelihan satu persatu tumbang.


Para panitia bagian pemotongan dan pembagian sudah siap di tempat. Dalam beberapa jam semua daging siap dibagikan hingga akhirnya sampailah di tangan kita.
 
Ketika daging-daging itu sudah sampai di tangan kita, maka kita harus tahu bagaimana mengelolanya dengan baik dan menjadi makanan yang sehat.

Berikut ini adalah cara yang saya gunakan di rumah dalam mengolah daging kurban atau daging apa pun.

Pertama, bagi daging kurban itu beberapa porsi kecil untuk sekali makan. Masukkan ke dalam wadah kedap udara dan simpanlah di freezer sehingga bisa digunakan lebih lama jika dibutuhkan.
 
Kedua, para ahli masak, yang kita sebut chef mengatakan jangan mencuci daging kurban. Biarkan saja seperti apa adanya meskipun harus dipisahkan dalam beberapa porsi.

Sejalan dengan hal itu, ikutip dari laman health.detik.com, seorang Guru Besar Teknologi Pangan IPB University, Prof Dr Ir Purwiyatno Hariyadi, MSc, mengatakan mencuci daging kurban sebenarnya tidak disarankan.

Sebab mencuci daging akan meningkatkan kadar air di permukaan daging. Kondisi basah dan lembab ini dapat menjadi media sekunder yang sangat ideal bagi mikroorganisme untuk tumbuh subur dan mempercepat pembusukan.