Tak Perlu Takut, Kita Bisa Bangkit dari Pandemi

Konten Kreator di tuntut untuk senantiasa berinovasi dan mengasah kreatifitas

Like

Terlalu naif rasanya mengatakan bahwa saya salah satu termasuk orang yang beruntung dengan adanya pandemi. Berbulan-bulan harus di rumahkan karena perusahaan tidak bisa beroperasi dengan normal. Rencananya nanti, bila semua kembali normal maka kami semua akan dipanggil bekerja.

Tak ada rasa sedih atau kekecewaan meski ratusan kawan-kawan mengungkapkan kesedihan dan kekecewaan mereka. Yang ada hanya cukup berpikir positif, perusahaan harus tetap menyelamatkan kapal meski harus mengurangi sedikit penumpang.

Selanjutnya adalah berpikir tentang bagaimana bisa bertahan hidup ketika tidak ada gaji bulanan. Memaksa otak terus berpikir besok akan kerja apa untuk menyambung hidup.

Jujur saya adalah perantauan dari Jogja dan saat ini tinggal di Tangerang. Memboyong anak istri dan tinggal di kontrakan rumah petak.

Jelas di depan mata selain harus memikirkan urusan perut tentu bagaimana melunasi tagihan kontrakan dan listrik yang terus berjalan. Berbeda mungkin ketika saya tinggal di Jogja di kampung halaman dimana untuk urusan perut sangat mudah sekali. Selain ada hasil pertanian tentu masih ada hasil kebun untuk tetap survive.


Yang ada kemudian adalah tiap hari harus memerah otak untuk kemudian dikonversi dalam bentuk rupiah. Saya mungkin tidak takut lapar, tapi anak istri tetap harus makan.

Beruntung selain sebagai human capital business partner saya sedikit banyak memiliki pengalaman di bidang konten kreator. Entah itu untuk blog atau media sosial berupaya menyanggupi pesanan.

Untuk blog sendiri selain menerima pemasangan iklan untuk beberapa blog yang dikelola saya juga menulis artikel bagi mereka yang membutuhkan. Tema-tema seputar dunia kerja, motivasi, wisata dan teknologi adalah wilayah yang bisa digarap.

Konten untuk media sosial biasanya terfokus untuk instagram dan twiiter. Biasanya ada beberapa brand yang mengajak para konten kreator untuk mempromosikan mereka.

Dan alhamdulillah, meski hidup serba ketidak pastian masih saja ada rezeki yang mengalir. Tak banyak memang tapi cukup untuk bisa bernafas hingga semua ini berakhir.

Namun jujur, saya secara pribadi justru merasa bersyukur karena diberi jeda waktu untuk mengasah kreatifitas. Bayangkan selama bertahun-tahun bekerja untuk perusahaan kita cenderung hanya bagaimana menyelesaikan tugas yang diberikan pimpinan.

Tapi kini ada banyak kesempatan untuk mengasah ilmu dan wawasan diberbagai bidang. Menjadi seorang konten kreator tentu di tuntut kreatifitas dan keharusan untuk senantiasa belajar.

Bukan hanya para pelaku kreator tapi di kutip dari bisnis.com para pelaku usaha pun harus memiliki kreatifitas dan inovasi. Tanpa dua hal itu maka barang atau jasa yang dijual akan ditinggalkan.

Menghadapi era new normal pun membutuhkan kreatifitas dan inovasi. Bila ditelisik lebih dalam seorang Business Innovation Consultant Indrawan Nugroho menegaskan bahwa hal ini juga akan memunculkan peluang bisnis baru yang bisa digarap dengan serius.

Sedikit lengah bisa jadi apa yang ditawarkan tidak up to date dan ini menjadi kegagalan bagi siapa saja baik itu pelaku usaha maupun konten kreator. Hidup tidak lagi monoton dimana dulu terbiasa bekerja dari pagi hingga sore.

Kini waktu bekerja bukan lagi seperti karyawan pada umumnya. Bisa jadi 1x24 jam adalah waktu bekerja bila memang di tuntut deadline. Tapi bisa jadi saya istirahat 1x24 jam meski itu bukan week end.

Tak ada yang salah dengan semua ini. Tak ada juga yang menginginkan wabah ini terjadi. Paling penting adalah memandang sebuah peristiwa dengan cara positif dan menularkan energi positif.

Tak dapat dibayangkan, bila jutaan pekerja terdampak berpikir dan memandang dengan cara negatif. Yang ada kemudian mereka akan mengeluh dan menciptakan energi negatif. Akumulasi energi tak baik ini tentu bahaya bagi psikologis seseorang.

Dalam kondisi ini pun saya mengajak rekan-rekan senasib untuk bagaimana bisa bertahan dengan mengandalkan apa yang mereka miliki. Kreatifitas yang bisa jadi selama ini terpendam karena tidak ada kesempatan untuk mencoba.

Benar saja, meski tak banyak langkah untuk menulis diikuti yang lain. Kondisi memaksa siapa saja tidak bisa keluar rumah hingga dinyatakan aman.

Praktis mereka harus memiliki satu kegiatan yang positif. Menulis selain kegiatan yang paling mudah dan sederhana tentunya bisa dilakukan kapanpun di manapun.

Bila tak ada media berupa laptop kita masih bisa menulis dalam selembar kertas atau buku. Nantinya tulisan tersebut kemudian bisa dipindah dan dipublikasikan.

Di awal mungkin terasa susah karena menjadi kali pertama. Tapi yakinlah bila dilakukan secara konsisten akan memperbaiki kualitas tulisan.

Tinggal bagaimana nanti memasarkan produk tulisan sesuai kebutuhan. Kawan-kawan yang mayoritas bekerja sebagai human capital tentu memiliki kemudahan untuk menulis tema seputar dunia kerja.

Kalau tidak mereka bisa memilih berbagai tema sesuai dengan keyakinan dan kompetensi dimiliki. Paling penting adalah bagaimana kita bisa bangkit dari pandemi, titik.