Patriotisme sang Kusuma Bangsa Kala Covid-19

Ilustrasi Tenaga Medis sebagai sang Kusuma Bangsa yang Merangkul Pasien Covid-19. (Sumber: Lampost.co)

Like

Tahun 2020 menjadi tahun terukirnya sejarah baru dalam kehidupan masyarakat. Tak hanya di Indonesia, seluruh dunia juga mengukir hal yang sama. Di tahun ini pula, Covid-19 atau Coronavirus Disease-19 menjadi objek sejarah ini.

Penyakit yang disebabkan oleh virus
SARS-CoV-2 ini telah menginfeksi berbagai individu di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Mengapa penyakit ini dapat mengukir sejarah baru?

Penyakit pandemi ini baru muncul pertama kali sejak peradaban manusia dimulai. Dengan demikian, segala sesuatu yang dapat dikatakan baru muncul dalam peradaban dapat dikategorikan sebagai sejarah dan dibuktikan dengan bukti-bukti empiris yang menguatkan fakta kasus ini.

Ilustrasi virus corona yang tumbuh di kehidupan masyarakat. (Sumber: health.grid.id)

Mari kita bahas secara seksama mengenai sosok kusuma bangsa (tenaga medis) pada permasalahan Covid-19 dalam perspektif nasional!

Perlu diketahui, awal mula terkonfirmasinya Covid-19 di Indonesia terjadi di Kota Depok tanggal 2 Maret 2020. Seorang ibu bernama Maria Darmaningsih dan kedua anaknya yaitu Sita Tyasutami serta Ratri Anindyajati yang terinfeksi virus corona setelah mereka berada dalam satu tempat dengan WNA. Semenjak itulah, mereka menjadi orang pertama yang mengidap corona di Indonesia. Akhirnya, penyebaran dan reproduksi virus corona pun semakin masif dan merajalela.

WHO menjelaskan bahwa gejala umum seseorang terinfeksi virus corona ialah mengalami demam, kelelahan, batuk kering, sesak napas, nyeri, dan radang tenggorokan. Namun, seiring fluktuatifnya penyebaran yang ditambah dengan perbedaan imunitas seseorang, munculah kasus Orang Tanpa Gejala (OTG) yang membuat khalayak awam menjadi cemas. Kasus ini merupakan kasus terbaru dalam penanganan Covid-19 di Indonesia selama tiga bulan terakhir, semenjak virus ini perdana masuk di tanah air tercinta.


S­aat ini, khalayak membutuhkan uluran dari sosok sociopreneur dan local heroes yang mengharuskannya untuk terjun langsung dalam penanganan Covid-19. Uluran ini dapat berasal dari tenaga medis. Sosok ini sangat dibutuhkan oleh semua pasien yang ada di rumah sakit maupun instansi pemerintahan dalam upaya menciptakan produktivitas, penanggulangan, dan penyelesaian medis dalam penanganan Covid-19.


Namun, salah satu tantangan muncul berupa penyebaran tenaga medis tiap daerah yang tak merata.

 

"Menurut Profil Kesehatan Indonesia 2015, Jawa Timur; Jawa Barat; dan Jawa Tengah menjadi provinsi kepemilikan tenaga medis terbanyak di Indonesia yang mencapai 32,8% total tenaga medis seluruh Indonesia sebanyak 647.170 orang (Amanda Kusumawardhani, Bisnis.com)."



Hal inilah yang menjadi salah satu penyebab banyaknya daerah khususnya luar Jawa yang sangat membutuhkan keberadaan tenaga medis yang banyak dan memadai saat Covid-19.

Tenaga medis menjadi pihak terdepan dalam mengetahui seberapa masif kah virus corona berkembang biak di tubuh inangnya yakni manusia. Tenaga medis yang ada di zaman modern ini sudah dibekali dengan ilmu-ilmu kedokteran dan disokong oleh teknologi yang berkembang pesat. Banyak ahli yang berasal dari anak bangsa Indonesia yang sedang mengonstruksi vaksin agar tak bergantung pada impor dengan negara lain juga menjadi salah satu kajian yang ikut meramaikan ruang publik.

Pandemi ini menjadi momentum untuk melatih kesabaran para stakeholders, masyarakat, dan pasien secara maksimal. Hal ini juga dialami oleh tenaga medis yang bertugas merawat seluruh pasien yang terduga dan terkonfirmasi mengidap Covid-19. Mereka berniat untuk menjadikan Indonesia pulih kembali seperti dahulu dengan pantang semangat. Realita ini tercantum secara umum mengenai upaya kesehatan dan di nomenklatur dalam UU No. 36 Tahun 2014, pasal 1 ayat 4 tentang upaya kesehatan yang harus dilakukan tenaga kesehatan di Indonesia.

Berpakaian hazmat lengkap dengan Personal Protective Equipments seperti masker n95, face shield, nurse cap, sarung tangan, dan sebagainya sudah menjadi keharusan bagi para tenaga medis untuk mengabdi pada Ibu Pertiwi. Tidak hanya di rumah sakit, berbagai klinik umum rawat jalan pun mewajibkan seluruh tenaga medisnya (terkecuali pasien) untuk mengenakan hazmat dengan PPE atau APD lengkap.

Saat bertemu dengan pasien non infeksi virus corona pun, tenaga medis harus terpisahkan jarak minimal satu meter dengan pasien tersebut. Pasien itu pun harus mengenakan masker sebagai perlindungan minimal dari paparan virus corona.

"Berdasarkan data yang dihimpun dari Bisnis.com pada tanggal 19 Juni 2020, jumlah pasien terkonfirmasi positif corona yang ada di Rumah Sakit Darurat Wisma Atlet sebanyak 624 orang dengan total pasien yang dirawat di sana sebanyak 653 orang."

Kita dapat membayangkan betapa gigihnya tenaga medis yang bertugas di rumah sakit darurat rujukan Covid-19. Mereka harus menghadapi pasien yang terinfeksi Covid-19. Dengan demikian, hanya tenaga medis profesional-lah yang dapat menangani pasien Covid-19 kategori anak-anak, dewasa, bahkan lansia.
 

Seorang tenaga medis yang tertidur saat bertugas di rumah sakit. (Sumber: jawapos.com)


Sejak pagi bertemu pagi kembali, tanpa istirahat yang cukup, dan makan yang sekadarnya, semuanya itu semata-mata hanya terfokus untuk kesembuhan dan keselamatan pasien Covid-19 yang dirawatnya. Namun, ada kalanya Tuhan memberikan kisah lain, tak sedikit pasien terduga maupun terkonfirmasi Covid-19 yang gugur di ‘medan tempur’. Maksud dari istilah ini adalah seberapa kuatnya sistem imunitas mereka menghalau dan memerangi virus corona agar tak terinfeksi ke organ targetnya, seperti paru-paru.  

Selain bertugas untuk mengobati pasien secara fisik, tenaga medis juga mengobati pasien secara spiritual, agar semangat pasien untuk melawan virus corona ini dapat bergelora baik jiwa maupun raga. Salah satu kunci keberhasilan pasien dalam memerangi virus corona adalah dengan kondisi imunitas pasien yang dijaga dengan rasa semangat, penuh optimis, dan berpikiran positif. Pasien Covid-19 tak mengharapkan hal lain yang berlebih, namun hanya kesembuhanlah yang mereka harapkan saat itu.

Kontribusi dari Pemerintah Indonesia untuk mengurangi penyebaran kasus ini pun mulai terlihat, yakni dengan dibentuknya Tim Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 berskala nasional pada 13 Maret 2020 yang dikomandoi oleh Bapak Doni Monardo, selaku Kepala Eksekutif dan Kepala Pelaksana Gugus Tugas Nasional melalui pertimbangan Bapak Joko Widodo, selaku Presiden Republik Indonesia. Tim ini akan mengoordinasikan seluruh lembaga daerah dalam upaya mencegah dan menanggulangi dampak corona di Indonesia. Sampai saat ini, kontribusi pemerintah tersebut masih dapat diamati melalui media massa.

Dalam buku A Book of Story Meditations yang berjudul The Heart of the Enlightened karangan Anthony de Mello, "jumlah korban bisa menjadi lima kali lipat, kalau terjadi ketakutan di saat terjadi wabah penyakit. Seribu orang menjadi korban karena sakit, sedangkan empat ribu orang menjadi korban karena panik." (Protokol Komunikasi Publik Covid-19, KSP).

Pernyataan tersebut mengandung implikasi secara eksplisit, bahwa kepanikan dan ketakutan dalam penyakit dapat melekat pada korban serta dapat menambah jumlah korban. Masalah ini dapat teratasi dengan adanya komunikasi privat maupun publik yang intensif namun terstruktur, semata-mata agar tak menimbulkan kepanikan dan penanganan korban dapat berjalan dengan sebagaimana mestinya. Hal inilah yang menjadi salah satu dari beberapa latar belakang dibentuknya Tim Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 di Indonesia.
 

Potret close up dr. Achmad Yurianto (kiri) dengan dr. Reisa Broto Asmoro (kanan).
(Sumber: liputan6.com)


Berdasarkan pemaparan di atas, dapat dikatakan bahwa tenaga medis adalah agen sociopreneur dan local heroes saat pandemi Covid-19 mewabah di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Sebagaimana yang dijelaskan Aisyah Supernova, sang penulis di salah satu platform jurnalisme digital, bahwa:

"Sociopreneur adalah pengusaha yang tak mengharapkan profit alias laba, tapi bagaimana caranya pengusaha itu membuat profit orang lain."

Pengusaha di sini dapat pula dikatakan sebagai pengusaha sosial untuk membangun tatanan sosial yang menguntungkan dan pada hakikatnya tak mengedepankan untuk mendapatkan imbalan atas jasa yang telah diberikannya kepada pasien. Sementara, penulis dapat menyimpulkan makna dari local heroes, yakni:

"Local heroes adalah seseorang atau kelompok yang dapat dijadikan sebagai pahlawan penolong untuk daerahnya dengan jangkauan lokal yang diharapkan mampu menciptakan perubahan ke arah yang lebih baik."

Untuk itu, sebagai khalayak atau masyarakat awam, Sepatutnya kita memberi dukungan kepada tenaga medis dan mengapresiasi perjuangannya dengan tiga cara, yaitu:
  1. Selalu memakai masker jika di luar rumah
  2. Rajin mencuci tangan atau menggunakan hand sanitizer (jika tempat cuci tangan tidak tersedia)
  3. Menjaga jarak minimal satu meter dari orang lain
Melalui ketiga cara inilah, beban dokter dalam menangani pasien Covid-19 akan berkurang, sehingga Indonesia dapat kembali seperti kenormalan yang hakiki saat sebelum virus corona menyerang rakyat di Ibu Pertiwi.

Dapat kita bayangkan bersama, bagaimana mungkin Indonesia akan mencapai kondisi nihil corona jika tak ada tenaga medis yang bersikukuh untuk merawat pasien terduga dan terkonfirmasi positif Covid-19? Penyebaran pun akan terus membesar dan dapat merenggut nyawa seluruh rakyat jika penanganannya terlambat. Untuk itu, patutlah berterima kasih kepada para tenaga medis yang berjuang untuk memulihkan Indonesia dan melawan virus corona.
 

BANGKITLAH GARDA KAMI!
ISTIQAMAHLAH PENOLONG KAMI! BERJUANGLAH PENYEMANGAT KAMI!

Salam kami,
Rakyat Indonesia.

Simak kisah tenaga medis sebagai sang kusuma bangsa Indonesia berikut!
 
 

Tampilan awal video. (Sumber: Youtube.com/BBCNewsIndonesia)