Teknik Pembenihan Ikan Patin Siam (Pangasius hypopthalmus) Secara Butaan dengan Tepat

Ikan patin siam (Sumber gambar: sehatq.com)

Like

Pembenihan ikan adalah suatu upaya yang dilakukan untuk menghasilkan benih ikan yang baru, sehingga menghindari terjadinya kepunahan. Pembenihan ada dua cara, yaitu pembenihan secara alami dan secara buatan.

Pembenihan alami adalah pembenihan yang dilakukan tanpa bantuan alat dari manusia, sehingga hanya mengandalkan dari alam. Sedangkan pembenihan buatan adalah pembenihan yang dilakukan dengan bantuan tangan dan alat dari manusia. 

Teknik pembenihan ikan secara buatan biasanya dibantu dengan menggunakan hormon ovaprim. Hormon ovaprim adalah hormon yang nantinya akan disuntikkan pada induk ikan  yang akan dipijahkan, baik induk ikan jantan dan induk betina.

Biasanya, penggunaan hormon ovaprim menggunakan dosis tertentu tergantung pada perbandingan atau banyaknya induk ikan yang akan dipijahkan.

Misal, induk ikan betina yang digunakan sebanyak tiga ekor, sedangkan induk jantan lima ekor, maka dosis penggunaan hormon ovaprim sebanyak 0,6 ml. Hormon ovaprim diberikan dengan tujuan untuk merangsang hormon reproduksi pada induk jantan dan betina yang akan dipijahkan, sehingga dapat menghasilkan sel telur dan cairan sperma.


Teknik pembenihan secara buatan biasanya sering dilakukan pada ikan patin. Mengapa demikian?

Sebab, ikan patin adalah ikan yang lebih suka memijah pada musim tertentu, yaitu musim hujan. Sehingga, hal ini tentu akan mempengaruhi produksi benih ikan patin itu sendiri.

Jenis ikan patin pada umumnya ada 2, yaitu ikan patin siam dan ikan patin jambal. Namun, kebanyakan masyarakat Indonesia lebih suka mengonsumsi ikan patin siam.

Berhubungan dengan hal tersebut, tentu permintaan produksi ikan patin siam pun semakin meningkat. Sehingga, perlu dilakukannya upaya untuk menigkatkan produksi benih ikan patin siam. 

Teknik pembenihan ikan patin siam dilakukan dengan cara menggunakan indukan yang memiliki bobot sekitar 3-5 kg.

Berdasarkan pengalaman yang telah saya lakukan, induk ikan patin dengan bobot diatas 5 kg produksi sel telur dan sperma sudah tidak banyak, hal ini bisa jadi karena faktor usia dan lingkungan.

Teknik pembenihan ikan patin siam dengan tepat yaitu dilakukan proses penyuntikan induk jantan dan betina sebanyak 2 kali penyuntikan. Penyuntikan pertama dilakukan pada pukul 17.00 sore, kemudian dilanjutkan pada malam hari pukul 21.00. Hal ini dapat memicu perangsangan hormon reproduksi pada indukan ikan patin untuk dipijahkan.

Setelah 4-5 jam proses penyuntikan usai dilakukan, selanjutnya induk ikan patin sudah siap untuk dilakukan stripping atau proses pengurutan sel telur dan sperma. Ketika sel telur dan sperma sudah diperoleh, maka pencampuran keduanya dilakukan untuk bertujuan melakukan proses pembuahan.

Usahakan saat proses pencampuran dilakukan pada air yang mengalir, agar telur dan sperma tercampur rata dan bersih dari sisa-sisa lendir.

Setelah proses pencampuran selesai, kemudian dituangkan kedalam corong penetasan telur. Setelah sampai 3-4 jam telur akan menetas menjadi larva. Telur yang menetas menjadi larva sesegera mungkin untuk dipindahkan agar memudahkan untuk memisahkan telur-telur yang mati atau tidak menetas. 

Pada tahap pemeliharaan larva, tentu hal ini adalah kegiatan yang paling rentan dan sangat diharuskan untuk telaten. Pada usia larva adalah usia dimana ikan menghabiskan masa kuning telur yang dibawanya hanya 3 hari.

Setelah itu, dilanjutkan dengan pemberian pakan alami seperti arthemia dan cacing tubifex. Pada saat pemeliharaan larva, usahakan menggunakan air yang diberi dengan aerator.

Aerator adalah alat bantu untuk menyuplai oksigen dengan tujuan agar ikan tidak mudah stress dan mati. Biasanya, pemberian pakan alami hanya sampai dengan pemeliharaan 15 hari setelah menetas menjadi larva.

Setelah lebih dari 25 hari makan larva sudah bisa menjadi benih, yang dilanjutkan pemberian pakan buatan seperti pemberian pelet yang dimulai dari variasi PF 0,PF 100, PF 500 hingga PF 1000.

Pada saat pemberian pakan pelet PF 0-100 benih sudah bisa dipindahkan kedalam waring atau pun akuarium besar. Sebelumnya dilakukan gradding atau pengayakan untuk memilih ukuran benih yang sama.

Hal ini dilakukan untuk menghindari terjadinya proses kanibal, dimana ikan yang lebih besar dapat memakan ikan yang lebih kecil.

Beralih pada teknik pembenihan secara alami, tentu berbeda dengan Teknik pembenihan secara buatan.

Teknik pembenihan secara alami yaitu teknik pembenihan yang dilakukan hanya dengan bermodalkan hasil dari alam. Kita hanya mempersiapkan indukan yang akan dipijahkan dengan melakukan perbandingan 1:2 atau lebih, kemudian mempersiapkan wadah pemijahan, wadah penetasan telur, dan wadah pemeliharaan larva dan benih.

Pada teknik pemijahan alami, kita perlu mempersiapkan substrat sebagai media untuk menempelnya telur setelah proses pemijahan. Telur yang menempel pada substrat nantinya akan dibuahi oleh indukan jantan dan dijaga serta dirawat oleh indukan jantan sampai dengan menetas menjadi larva.

Setelah menjadi larva, tentu kita harus sesegera mungkin untuk mengangkat atau memindahkan indukan jantan dan betina dari kolam pemijahan untuk menghindari terjadinya indukan yang memakan larva ikan yang sudah menetas tadi.

Biasanya, larva ikan yang sudah menetas akan menghabiskan makanan yang dibawanya berupa kuning telur selama 3 hari berturut-turut. Setelah itu, larva dapat diberi makanan alami berupa kuning telur ayam yang sudah dikocok atau bisa juga berupa cacing tubifex.

Pembenihan secara alami atau pun buatan tentu memiliki cara masing-masing yang sesuai dengan kebutuhan ikan. Namun, kedua cara tersebut sama-sama efisien tergantung bagaimana kita melakukannya secara tepat atau tidak.