Ketika Engkau Mau, Maka Engkau Akan Mampu

Menulis artikel (sumber gambar: panduanim.com)

Like

Menulis bukanlah hal yang baru bagiku. Sejak duduk di bangku menengah pertama, aku sudah diperkenalkan dengan catatan harian oleh guru bahasa Indonesia kala itu. Dimulai menulis catatan harian yang sering disebut juga dengan "diary" aku melanjutkan dengan menuliskan puisi dan beberapa cerpen atau cerita pendek. 

Melanjutkan pendidikan sampai ke perguruan tinggi dengan jurusan sastra inggris membuat aku semakin banyak belajar tentang aspek bahasa dimana salah satunya adalah kemampuan menulis. Pernah mengikuti pelatihan menulis saat mahasiswa membuat aku semakin tertarik untuk mengembangkan kemampuan menulis dengan menulis artikel. Walau tak pernah mencoba mengirimkan karya tulisan ke media cetak surat kabar namun aku sering menulis untuk buletin bulanan organisasi yang aku ikuti. 

Namun perkembangan kemampuan menulisku tak sempurna. Aku layu sebelum berkembang. Kesibukan dan kemalasan membuat aku jarang menulis. Trend menulis kian "booming" di kalangan mahasiswa dan alumni di organisasi kami, banyak penulis-penulis handal bermunculan. Melatih diri dengan menulis untuk sekedar dipajang di mading hingga akhirnya tembus di media cetak surat kabar lokal dan nasional, beberapa bahkan telah menjadi pelatih yang melahirkan penulis-penulis handal baru selanjutnya. 

Lain diriku, lain pula dengan suamiku. Berlatar belakang Pendidikan Ilmu Fisika, suamiku bukanlah orang yang suka menulis. Pernah mengikuti 1 atau 2 kali pelatihan menulis tidak lantas membuat dia tertarik untuk menulis. sering aku mendorongnya bahkan menantangnya untuk membuat tulisan tetapi dia "ogah".

Namun, jika ia melihat tulisan orang-orang di media sosial atau media cetak, dia selalu berkata bahwa menulis itu kelihatan sangatlah mudah. Ku tantang dia untuk membuat sebuah tulisan tetantang apa saja sesukanya, akhirnya ia merasakan dan menyadari bahwa menulis tidaklah semudah yang dipikirkan. Tak bisa dia menuliskan atau menuangkan apa yang dia pikirkan dalam bentuk tulisan.


Semakin dia sering melihat tulisan - tulisan para sahabat dan penulis lainnya, semakin besar kemauannya untuk juga dapat menulis seperti mereka. terus berusaha dan terus berusaha sampai akhirnya suatu hari tulisannya muncul si sebuah tabloid bulanan tempat kami beribadah. Rasa bangga dan puas menyelimuti hatinya. Tidak hanya tabloid, tapi penulis buku kini menjadi cita-cita dan impiannya. 

Mestakung, Semesta mendukung, dimana ada kemauan disitu ada jalan. melalui WA seorang sahabat, suami mendapat undangan untuk ikut bergabung dalam pelatihan menulis melalui WA Group. Tanpa pikir panjang dia segera mendaftakan dirinya dan juga diriku. Kami sama-sama mengikuti pelatihan itu, walau dia dikelompok I dan aku di kelompok IX.

Ada perbedaan lain diantara kami, dia mengikuti pelatihan dengan serius, aku mengikutinya dengan ogah-ogahan. Akhirnya kini lihatlah, bolgspotnya yang dulu kopong melompong, kini telah berisi berbagai tulisan yang dia tulis setiap hari. Slogan yang dihayo-hayokan pada pelatihan yang sama-sama kami ikuti dipatuhinya, "MENULISLAH SETIAP HARI DAN LIHATLAH APA YANG AKAN TERJADI". 

Dia sudah dan akan terus menikmatinya, sedangkan aku, tulisanku inipun karena dorongan yang telah suami berikan setiap hari. Sekian lama dia telah memotivasiku bahkan menantangku untuk menulis, tulisan inilah akhirnya kubuat sebagai buah dari tantangan yang diberikannya. Sekarang semua sudah terbalik, bukan aku lagi yang mampu dan mendorong suami tapi suami yang dulu tidak mampu dan kudorong untuk mau yang kini menjadi lebih mampu dan mendorongku untuk mau.