Mengelola Keuangan Generasi Sandwich di Masa Pandemi

Mengelola dana yang ada agar tetap cukup (sumber: pixabay)

Like

Perekonomian dunia terguncang sejak kehadiran pandemi Covid-19 di berbagai negara di dunia, termasuk Indonesia. Lamanya pembatasan sosial dan belum menghilangnya virus menyebabkan banyak pengusaha gulung tikar dan banyak karyawan kehilangan pekerjaan.

Sangat beruntung bagi mereka yang hingga kini masih memiliki pekerjaan meskipun nominal gajinya mungkin tak lagi sama. mungkin tak ada lagi THR, yang ada justru potongan gaji atau berkurangnya tunjangan ini itu. Sementara kehidupan sebagai generasi sandwich terus berjalan.

Apa itu generasi Sandwich?

Generasi sandwich adalah istilah yang diciptakan pertama kali oleh seorang pekerja sosial bernama Dorothy A. Miller sejak 1981 untuk menyatakan sebuah generasi yang hidupnya harus membiayai generasi di atasnya (orang tuanya), keluarganya sendiri dan generasi dibawahnya yakni adiknya, sehingga kondisi yang di apit dua generasi ini di istilahkan seperti sandwich. Faktanya, studi demografis menyatakan bahwa ada sekitar 47% orang dewasa berusia 40-50 tahun yang terjebak generasi sandwich.

Banyak pakar keuangan mengatakan, rantai generasi sandwich ini sebenarnya bisa di putus apalagi dalam kondisi pandemi seperti ini. caranya dengan berbicara secara logis dan melakukan pendekatan untuk bisa menghapus budaya yang menyebutkan seolah-olah jika tidak membiayai dua generasi ini dikatakan tidak berbakti.

Namun, topik kita kali ini tidak membahas hal ini. Melainkan fokus kepada mereka yang dengan komitmennya tetap memilih untuk menjadi generasi sandwich. Sekalipun mampu untuk melepaskan diri untuk tidak membiayai orang tua dan adik namun tetap memilih melakukannya, mari kita bicara soal pengelolaan keuangannya.


Tentu saja mereka yang sampai hari ini masih memiliki gaji merasa sangat bersyukur karena menjalani kehidupan sedikit lebih mudah daripada mereka yang kehilangan pekerjaan. Namun rasa syukur tidak lantas membuat semuanya beres, melainkan harus memilah pengeluaran mana yang bisa di tekan selama pandemi.

Pekerja pada umumnya membagi pengeluaran menjadi 3 bagian, yaitu kebutuhan, tabungan dan hiburan. Dan bagi generasi sandwich, membiayai orang tua dan anak adalah kebutuhan yang memang harus dikeluarkan. Lalu bagaimana tahap selanjutnya?
 

Strategi mengelola keuangan bagi generasi sandwich selama pandemi
 

1. Tekan budget entertainment

Bagaimana bisa? selama pandemi budget hiburan justru meningkat tajam karena tidak bisa kemana-mana. hiburan hanya di rumah saja. Tunggu, yang akan kita tekan hanya budgetnya saja, bukan berarti dihapuskan. artinya hiburan selama pandemi, bagaimana caranya agar kita bisa menemukan hobi yang sifatnya tidak perlu rutin.

Mungkin kita hanya perlu mengeluarkan dana di awal yang meskipu agak besar lalu selebihnya hiburan tersebut gratis. Misalnya membeli perkakas berkebun, bersepeda, play station. Atau hobi lain yang lebih murah seperti memasak, crafting, menggambar atau bahkan berlangganan bioskop rumah. Yakinlah kondisi pandemi membuat kita akan menemukan sendiri hiburan yang tepat dan berbiaya murah.


2. Melatih Generasi Bawah untuk Hidup Sederhana

Kondisi pandemi yang serba prihatin ini adalah saat yang tepat untuk mengajarkan anak-anak kita pola hidup sederhana atau lebih sederhana lagi dari biasanya, juga generasi bawah yang kita biayai. Melakukan banyak di rumah dan tidak perlu membeli kebutuhan sekunder dan tersier.

Tidak perlu membeli produk fashion karena tidak banyak kemana-mana, semua pekerjaan bahkan banyak di lakukan via daring. Mengajak anak-anak untuk menikmati makanan apapun yang ada di rumah dengan mencoba resep-resep baru yang kekinian dan mensyukuri apa yang ada terutama kondisi sehat.

Harapannya selain menekan pengeluaran selama pandemi, juga melatih anak-anak dan adik kita agar setelah pandemi bisa menurunkan pengeluaran dengan gaya hidup sederhana.

3. Subtitusi kebutuhan pribadi

Selama pandemi banyak biaya hilang dari kebiasaan, misalnya biaya transportasi ke kantor, biaya trasnportasi antar jemput anak sekolah, bahkan Biaya sekolah anak sebagian ada yang di turunkan SPP-nya karena tidak ada biaya catering sekolah.

Namun jangan langsung bahagia, karena pengeluaran tersebut harus di subtitusi dengen kebutuhan lain yang tak kalah penting, seperti membeli kuota, masker, hand sanitizer, face shield dan disinfektan. Jadi tidak perlu membuat kolom budget baru melainkan subtitusi dengan yang ada.

Dengan kondisi ekonomi menurun atau gaji yang di potong, maka usahakan pengeluaran saat ini lebih rendah daripada budget yang hilang. Apabila harus new normal dan pergi bekerja, maka subtitusi biaya makan siang di kantor dengan membawa bekal dari rumah, gunakan masker yang bisa dicuci berulang-ulang dan subtitusi pengeluaran lainnya.

4. Bayar cicilan di awal

Bila anda memiliki cicilan, maka bayarlah cicilan diawal waktu ketika gajian tiba. Jangan menambah beban pikiran dengan tagihan dari pihak pemberi cicilan. Tentu saja, anda pun sangat tidak disarankan membuat cicilan baru selama pandemi masih berlangsung ditengah ketidak pastian kondisi. Jangan membuka masalah baru yang kelak tidak bisa di prediksi akhirnya.

Dengan jadi generasi sandwich bukan berarti hidup kita dibilang gagal untuk hidup enak. Kebanyakan generasi sandwich justru mengalami kegagalan hidup karena berupaya memenuhi kebutuhan hidup dengan cara berhutang.

Namun bagi generasi sandwich yang memenuhi kebutuhan hidup bukan dengan berhutang justru berpeluang memutus rantai generasi sandwich karena tidak menyusahkan generasi di bawahnya. Maka manajemen hutang terutama untuk kebutuhan yang bukan primer, harus benar-benar di perhatikan terutama dimasa pandemi saat ini.

5. Tetap Menabung

Semua terjadi karena Pandemi, jangan sampai menjadi generasi sandwich yang berdompet tebal tapi tabungan tipis, terutama dalam tabungan kesehatan. Jika memiliki iuran kesehatan, maka pastikan jangan lupa di bayar. Karena kondisi ini terjadi karena pandemi, maka kita selalu waspada apabila suatu saat pandemi akhirnya menimpa salah satu anggota keluarga kita, tabungan tersedia atau minimal jaminan kesehatan bisa di gunakan, sebut saja tabungan dana darurat.

Dan jangan lupa juga, karena pandemi ini tentu ada akhirnya, jangan sampai tabungan untuk masa depan terabaikan. Menabung adalah salah satu kunci jtama berhasilnya mengelola keuangan di masa pandemi. Karena itu, tetaplah menabung meski jumlahnya tak sebanyak biasanya.

6. Asah skill secara mandiri

Dilansir dari portal berita Bisnis.com 22 Juni 2020 lalu, CEO & Founder Jouska Indonesia, Aakar Abyasa menjawab pertanyaan bagaimana cara menaikkan finansial terlebih disaat pendemi seperti ini? Jawabannya adalah Skill.

Aakar juga menambahkan bahwa jika kita menginginkan tambahan lain dalam pemasukan adalah dengan meningkatkan kemampuan seperti sekolah atau belajar mandiri. Untuk sekolah, sepertinya akan sulit di masa pandemi saat ini, apalagi di tengah kesibukan bekerja.

Tapi untuk belajar secara otodidak melalui youtube atau buku, atau belajar melalui workshop online atau webinar, itu sangat mungkin dilakukan. "Investasi yang tidak pernah minus adalah investasi ke Skill" kata Aakar.

Jadi selama pandemi, meratapi perekonomian menurun sama sekali tidak merubah keadaan tapi mulailah dengan menggali dan menggunakan skill yang dimiliki. Buatlah peluang usaha baru, pelajari berbagai bidang skill seperti bidang-bidang ekonomi kreatif seperti bidang kuliner, kriya, fesyen atau film. Karena selain peluangnya besar, bidang-bidang ekonomi kreatif ini sangat didukung oleh pemerintah saat ini.

Masih dari laman Bisnis.com, Kementrian Pariwisata dan ekonomi kreatif secara resmi membuka program pendaftaran program Bantuan Insentif Pemerintah (BIP) bagi enak subsektor ekonomi kreatif dan pariwisata dengan anggaran sebesar Rp 24 milyar.

Hal ini tentu berita gembira bagi para pelaku usaha di bidang ekonomi kreatif, dimana kali ini skill atau keterampilan didukung bahkan diberi bantuan. Bagi kalian yang memiliki skill di bidang ekonomi kreatif dan sektor pariwisata, tentu jangan sampai melewatkan peluang mendapatkan BIP karena saat ini pendaftaran sedang dibuka hingga Agustus 2020 nanti.

7. Berhemat dengan nyaman

Berhemat memang terdengar klise, tapi perlu komitmen tinggi melakukannya. Jangan sepelekan dan coba lakukan penghematan dengan cara sederhana. hal-hal kecil yang berdampak besar, contohnya adalah berhemat kebutuhan rutin. Misalnya dengan bangun lebih pagi, maka akan lebih cepat anda mematikan lampu dan pendingin udara.

Dalam sebulan, kebiasaan ini akan mempengaruhi tarif listrik agar menurun. Banyak di rumah membuat penggunaan pakaian pun tidak terlalu banyak, sehingga mengurangi pemakaian air untuk mencuci dan listrik untuk menyetrika pakaian. Banyak mencoba resep-resep makanan baru agar tidak selalu beli makanan di luar dan bisa membawa bekal sendiri ketika pergi keluar. Selain mencegah kita ke tempat-tempat makan juga akan mempengaruhi pengeluaran secara signifikan jika di terapkan secara rutin.

Nah, itu tadi strategi mudah mengelola keuangan selama pandemi. Berusahalah tidak sampai menjual aset selama pandemi terjadi, agar kita tidak menciptakan kemiskinan. Boleh saja menjadi generasi sandwich bahkan kita bisa berbangga karena bisa membiayai orang tua, keluarga dan adik selama kita tidak menciptakan pola kemiskinan baru. Karena hal ini tentu akan menyulitkan generasi kita berikutnya yang akan terjerat menjadi generasi sandwich yang berada dalam garis kemiskinan gara-gara kesalahan pengelolaan keuangan kita di masa ini.

Apakah ada cara lain mendapatkan tambahan penghasilan selama pandemi? Ya, tentu saja

Memperluas Jaringan

Pernahkah mendengar istilah silaturahmi melapangkan rejeki? Hey, ekonomi menurun dan stay at home bukan berarti mengurung diri di gua. Yang berjarak hanyalah physical distancing, tapi kita masih tetap bisa berkontak dengan banyak kenalan di dunia maya.

Jadi, mari kita memperluas jaringan dengan saling berkomunikasi di dunia maya, saling sapa dengan sahabat lama, atau saudara yang jauh. Dengan bersilaturahmi dengan banyak orang, bisa terbuka peluang kerja baru, peluang kerjasama baru atau mungkin di pertemukan dengan orang-orang baru yang membuka pintu rejeki.

Banyak pakar ekonomi menyebutkan bahwa generasi saat ini adalah generasi yang kuat, termasuk disaat menghadapi pandemi. Karena generasi saat ini terbilang kreatif, kuat, berpikiran terbuka dan telah di lengkapi teknologi yang mumpuni dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Mengelola keuangan selama pandemi meskipun mengalami gelombang naik turun tentu tidak akan terlalu sulit bahkan justru mendatangkan ide-ide baru untuk bisa survive.