Kinerja Emiten: Tantangan di Tengah Tekanan Harga Properti & Rencana Pemangkasan Produksi Batu Bara

Challenge - Canva

Challenge - Canva

Like

Sektor properti dan batu bara rupanya masih harus menghadapi sejumlah tantangan. Tak bisa dipungkiri, pandemi Covid-19 masih membawa dampak yang cukup signifikan terhadap kinerja emiten di kedua sektor tersebut.

Di sektor properti, ketidakpastian ekonomi cenderung membuat daya beli properti masyarakat berkurang. Di sepanjang semester I/2020, sejumlah emiten properti bahkan mencatatkan kerugian.

PT Lippo Karawaci Tbk (LPKR), berdasarkan data yang dihimpun Bisnis, telah mengalami rugi bersih hingga Rp1,25 triliun. Diketahui, beban keuangan LPKR lebih tinggi 26,58 persen dibanding periode yang sama di tahun sebelumnya.

Enggak cuma rugi, pendapatan pra penjualan (marketing sales) sejumlah emiten properti bahkan turun dan targetnya terpaksa harus direvisi. Hal itu yang terjadi pada PT Metropolitan Land Tbk (MTLA) dan PT Summarecon Agung Tbk (SMRA).

Laba bersih turun di semester I/2020, MTLA diketahui juga melakukan revisi target marketing sales dari kisaran Rp2 triliun menjadi Rp1,1 triliun. Bahkan, marketing sales SMRA merosot hingga 50 persen secara tahunan.


Hal serupa juga terjadi pada PT Ciputra Development Tbk (CTRA) dan PT Puradelta Lestari Tbk (DMAS), yang mengalami penurunan marketing sales masing-masing sebesar 16,67 persen dan 13,93 persen.

Adapun, analis juga menilai kalau pertumbuhan harga properti residensial di kuartal III/2020 bakal makin lambat. Soalnya, daya beli properti juga dinilai masih cenderung lemah, sebab masyarakat cenderung lebih menjaga kasnya di tengah ketidakpastian ekonomi.

Sementara itu, sejumlah emiten batu bara diketahui bakal memangkas target produksinya. Salah satunya, yakni  PT Bayan Resources Tbk (BYAN).

Emiten batu bara big caps itu akan hanya akan mematok target produksi sebesar 26 juta ton. Padahal, sebelumnya BYAN berencana menargetkan 31-33 juta ton di awal tahun 2020.

Namun menurut analis, dikutip dari Bisnis.com, rencana pemangkasan produksi emiten batu bara dinilai bakal tetap memberikan tekanan kinerja keuangan. Lebih tepatnya, hal itu bakal berdampak pada penurunan top line, bahkan bisa berpengaruh ke kinerja bottom line emiten.

Analis sih menilai kalau sebaiknya para emiten batu bara ini menanti momen penjualan aja nih. Soalnya, penyesuaian target tersebut harus dicermati secara matang biar juga nih.

Hmm.. ada yang punya portofolio di kedua sektor ini? Menurut kamu gimana, masih adakah harapan para emiten di kedua sektor ini untuk bangkit?