Mencari Keberadaan Benteng Ciampea, Pos Pertahanan Belanda di Masa Lampau

Menyusuri keberadaan jejak Benteng Ciampea

Menyusuri keberadaan jejak Benteng Ciampea


Berziarah ke makam sudah, pun Kelenteng Hok Tek Bio yang digadang sebagai yang tertua di Bogor Barat. Kaki yang masih berselimut penasaran ini melangkah menuju sebuah masjid yang cukup unik: Masjid Kampung Benteng.

Dari luar, bentuk bangunannya sekilas mengingatkan pada Masjid Demak. Angin semilir menemani kami menyambut fakta sejarah berikutnya. Kenapa bisa namanya Masjid Kampung Benteng?


Masjid Kampung Benteng, Ada Benteng di Bogor?

Pusara salah satu tokoh berpengaruh di Ciampea

Pusara salah satu tokoh berpengaruh di Ciampea (Foto Pribadi)


Pak Guru Wisnu mengeluarkan arsip berharganya berikut peta dari map. Ternyata, keberadaan masjid ini sudah terdeteksi dalam buku “Handboek der Land- en Uangvolkenkunde” yang dipublikasikan tahun 1841.

Dalam buku tersebut tertulis; “Di antara perkebunan-perkebunan, Tjampia menonjol yang dimiliki oleh keluarga VAN RIEMSDIJK. Terletak tiga jam dari kota utama dan sangat
luas.

Di sini terdapat sebuah gereja kecil yang indah, namun karena kurangnya umat Kristen tidak ada ibadah yang dilakukan di sana. Sebuah kubah yang dapat dicapai melalui 179 anak tangga menawarkan pemandangan indah ke arah pegunungan, istana Buitenzorg, masjid, dan sawah-sawah.”

Diduga kuat masjid yang dimaksud dalam cerita tersebut ialah Masjid Kampung Benteng.


"Namanya demikian karena kabarnya, dahulu terdapat benteng karena ditemukan parigi (semacam saluran air) yang mengelilingi benteng," ujar Kang Wisnu. Wih gile, kampung halamanku punya benteng keren juga; pikirku kagum.

Masih sekitar masjid juga terdapat pesarean dengan angka tahun 1857. Adalah makam Mbah Dalem Solihun yang wafat 1923 menjadi salah satu yang sering diziarahi.

Bentuk nisan unik mengikuti Kesultanan Banten

Bentuk nisan unik mengikuti Kesultanan Banten


Beliau adalah keturunan Raden Aria Pitjer yang merupakan keluarga Kesultanan Banten. Mendiang Mbah Solihun berperan besar menyebarkan agama Islam di Ciampea.

Makamnya mengikuti Kesultanan Banten, ada nisan berbentuk mahkota raja.  Bacaan Ro dal ya nun yang dibaca raden masih bisa terbaca di bagian nisannya.

Jejak Benteng Ciampea, Markas Belanda di Masa Kolonial

Kawasan yang diperkirakan menjadi titik Benteng Ciampea berdiri pada masa kolonial

Kawasan yang diperkirakan menjadi titik Benteng Ciampea berdiri pada masa kolonial

 
"Yuk sekarang kita cari bukti keberadaan bentengnya," sambung Mas Wisnu. Setelah melepas lelah sejenak di beranda masjid, angkot hijau membawa kami bertolak ke area yang diperkirakan menyimpan bukti kejayaan Benteng yang sudah disebut sejak tadi.

Pikiran sudah berseliweran di kepala; wah keren juga di Bogor ada tho Benteng Willem kayak di Ambarawa. Ternyata bukan itu makna harfiah sesungguhnya!

Kami menyusuri jalan, melewati kampung wisata, bahkan merasakan tanjakan yang membuat semua yang ada di dalam angkot menahan napas.

Napas kami kian tercekat ketika langkah Mas Wisnu berhenti. Hamparan gunung, rimbun pepohonan hijau tersaji di hadapan kami. Riak air Sungai Cisadane lirih, tapi cukup jelas terdengar.

"Di sini diperkirakan dulu ada bentengnya," kata Mas Wisnu memuaskan keterkejutan kami. Konon jika rimbun hijau di depan kami ini dibabat, Sungai Cisadane akan terpampang sangat jelas. Mungkin bak kanal di Eropa gitu ya.

Keberadaan benteng ini bahkan sudah tercantum dalam arsip VOC. Pos pertahanan ini dulu dieja dengan nama Chiampia, Tjiampia, atau Tjiampea. Struktur benteng didirikan di antara Sungai Ciaruteun (Chiarutang) pada tahun 1712.

Tujuannya? Melancarkan aktivitas patroli prajurit Belanda di perairan agar perjuangan pejuang kita terhambat. Benteng inilah yang dahulu memudahkan Belanda mengejar dan menangkap pejuang Kesultanan Banten yang melarikan diri melewati aliran Cisadane hingga ke arah pegunungan selatan di Bogor.