Tim yang Kuat Didorong dari Naluri Seorang Ibu
Malvika Amaliah mempunyai niat membuka bisnis Womenwear agar perempuan bisa berdaya. Dari sini saja, sudah berorientasi ke orang lain, bahkan banyak orang, tidak hanya untuk dirinya sendiri.Beliau memilih untuk bertumbuh bersama orang lain, yang dijadikan tim bisnisnya. Pada tahun 2015, Womenwear dibuka dari Kota Serang, Banten tersebut.
Kini setelah lebih dari 10 tahun berjalan, Womenwear telah memiliki mungkin lebih dari 60 karyawan dan 62 reseller antarnegara. Dari jumlah itu saja, terlihat bahwa tim bisnis Womenwear mempunyai semangat untuk mengembangkan bisnis ini.
Namanya bisnis, pasti dong ada masalahnya, apalagi terkait dengan tim. Lalu, seperti apa langkah-langkah yang dilakukan oleh Malvika?
Saya menduganya bahwa beliau melakukan komunikasi dua arah. Jadi, beliau tidak hanya sekadar memberikan perintah atau arahan, tetapi juga mendengarkan keresahan tim.
Selain itu, beliau juga memberitahu tim bahwa mereka bukan cuma "penjahit" yang kerjanya membuat baju atau admin toko yang tugasnya merekap penjualan, tetapi mereka bagian penting dari pejuang martabat muslimah melalui fashion syar'i.
Dalam mengelola tim, Malvika sudah menerapkan delegasi, tetapi tetap rutin dikontrol dan terus melakukan pendekatan dari hati ke hati, misalnya membuat acara bersama, program sosial bersama, dan lain sebagainya.
Bisnis yang Tumbuh Kuat itu Karena Superteam, Bukan Supermen
Bagi kamu Be-emers yang sekarang sedang merintis usaha juga, maka keberadaan tim memang sangatlah penting. Adanya tim membuat pekerjaan dalam bisnis bisa lebih ringan.Dalam sebuah tim bisnis, sudah ada spesialisasi masing-masing. Siapa melakukan apa, itu sudah disampaikan dalam tim tersebut.
Hanya, masalah dalam tim yang sering muncul itu adalah keretakan hubungan. Misalnya, pembagian hasil bisnis yang dirasa tidak adil, konflik sesama anggota tim maupun dengan founder atau CEO. Bisa juga karena tertarik untu bergabung dengan tim bisnis lainnya.
Ini juga yang pastinya pernah dihadapi oleh Malvika dalam mengembangkan Womenwear. Permasalahan dalam tim bisnisnya pastilah ada.
Namun, saya berpandangan bahwa karena beliau adalah juga seorang ibu yang piawai mengurus keluarga, maka mengurus tim tidak jauh berbeda.
Pendekatan lewat hati, lebih banyak membuka telinga untuk menyerap yang memang perlu untuk diserap, dipertimbangkan, dan dilaksanakan, serta selalu mengobarkan semangat bahwa ini bisnis yang mulia, membuat perempuan bisa menutup auratnya.
Saya juga pernah memiliki tim bisnis waktu saya membangun bisnis desain presentasi melalui Powerpoint. Saya mendirikannya bersama dua teman sekelas dan seangkatan saya, dua-duanya pintar desain, waktu masih kuliah. Ketika itu tahun 2005.
Berjalan lebih dari satu tahun, sudah balik modal, mendapatkan untung yang bisa kami pakai untuk makan-makan. Akan tetapi, karena kami sudah lulus semua, bisnis itu pun akhirnya bubar.
Dari pengalaman itu, setidaknya saya mendapatkan pengalaman bahwa membangun tim bisnis itu memang tidak mudah, tetapi juga tidak terlalu sulit jika tahu caranya.
Hal yang membuat sulit adalah membangun tim itu sama saja dengan membangun manusia. Ini yang dihadapi adalah manusia. Ibarat peribahasa, rambut sama hitam, ketombe boleh berbeda. Eh, bukan itu. Kepala sama hitam, isi hati siapa tahu.
Melihat sepak terjang dan perjuangan Malvika dalam membangun Womenwear, rasa-rasanya kita harus sama-sama belajar kepada beliau, caranya membangun tim bisnis yang kuat.
Inspirasi bisnis semacam itu sangat perlu untuk membangun semangat entrepreneur, terutama di kalangan generasi muda. Kalau kamu, Be-emers, apakah tim bisnismu yang sekarang sudah sekuat Womenwear? Atau masih sebatas tim 'Hore' yang semangat dan motivasinya cuma muncul pas tanggal gajian tiba? Kalau cuma tim hore, nanti pas pembukaannya, "Hadirin yang terhore!"
Yuk, tulis pendapatmu di kolom komentar ya! Komentar yang bagus memang tidak akan menambah saldo saya, tetapi setidaknya bisa menambah pahala karena sudah berani berbagi. Saya tunggu sambil memantau cuaca dan jemuran. Saya lebih bisa memantau jemuran daripada memantau harga saham.
Memang inspirasi bisnis dari Womenwear ini dapat diterapkan karena masih banyak peluang yang ada di sekitar kita. Bila kita memanfaatkan peluang yang ada, maka di situlah kita bisa mendapatkan uang. Dalam kata "peluang" ada kata "uang". Kalau tidak ada "uang", maka yang ada adalah "pel". Ini maksudnya pel lantai?
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Punya opini atau tulisan untuk dibagikan juga? Segera tulis opini dan pengalaman terkait investasi, wirausaha, keuangan, lifestyle, atau apapun yang mau kamu bagikan. Submit tulisan dengan klik "Mulai Menulis".
Submit artikelnya, kumpulkan poinnya, dan dapatkan hadiahnya!
Gabung juga yuk di komunitas Whatsapp Group kami! Klik di sini untuk bergabung
Tulis Komentar
Anda harus Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.