Kurma (Sumber: Freepik)
Beberapa hari terakhir suasana kantor terasa sedikit berbeda.
Biasanya sekitar jam makan siang, pantry mulai ramai. Ada yang mengajak makan bersama, ada juga yang sekadar duduk sambil minum kopi dan mengobrol ringan sebelum kembali bekerja.
Tapi menjelang Puasa Tarwiyah dan Puasa Arafah tahun ini, suasananya berubah menjadi lebih tenang.
Banyak teman kantor yang sedang menjalankan puasa sunnah.
Puasa Tarwiyah sendiri dilaksanakan pada 8 Dzulhijah, sementara Puasa Arafah dilaksanakan pada 9 Dzulhijah.
Momen ini bertepatan dengan ibadah haji, ketika jutaan jamaah tengah mempersiapkan diri hingga melaksanakan wukuf di Arafah, salah satu puncak paling penting dalam rangkaian ibadah haji.
Walaupun bukan seorang muslim, ada sesuatu yang selalu terasa menarik ketika melihat momen-momen seperti ini.
Bukan hanya soal ibadahnya, tetapi juga tentang bagaimana sebuah keyakinan bisa membentuk ritme kehidupan sehari-hari.
Dari cara orang mengatur waktu, menjaga energi, sampai bagaimana mereka tetap bekerja dan beraktivitas sambil menahan lapar dan haus sepanjang hari.
Awalnya hanya ingin menghargai teman-teman yang sedang berpuasa.
Karena biasanya makan siang dilakukan bersama, rasanya agak canggung kalau harus duduk sendiri sambil makan ketika sebagian besar teman memilih menunggu waktu berbuka.
Akhirnya tanpa direncanakan, jam makan siang mulai dilewati begitu saja.
Lama-lama muncul rasa penasaran.
Pengalaman Ikut Puasa Meski Bukan Muslim
Bagaimana rasanya kalau benar-benar tidak makan sampai sore?Hari pertama terasa cukup aneh. Sekitar siang mulai terbiasa mencari camilan kecil atau kopi untuk menjaga fokus kerja.
Tapi karena pantry lebih sepi dan tidak ada teman makan siang, akhirnya waktu berjalan begitu saja sampai sore datang.
Ria Theresia Situmorang
Tulis Komentar
Anda harus Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.