Komunitas Olahraga: Bukan Cuma Cari Keringat, Melainkan Juga Relasi Hangat

Menjalin Relasi Hangat Melalui Komunitas Olahraga, Sumber Gambar: Editing Pribadi

Menjalin Relasi Hangat Melalui Komunitas Olahraga, Sumber Gambar: Editing Pribadi


Siapa di sini yang pernah kena sakit tipes? Waktu saya masih jadi jomblo imut, saya pernah kena penyakit tersebut. Dalam pikiran saya, tipes saja sudah membuat sakit, apalagi kalau tebal, ya? 

Ketika kena tipes itu, bercampur pula dengan maag. Saya merasakan sakit di ulu hati. Namanya orang tipes, mesti makan yang lebih lunak dan mudah ditelan. 

Saya memilih makan bubur. Dan, saya harus siapkan sendiri bubur-bubur itu karena memang belum punya istri. Jangankan istri sampai empat, satu saja belum punya. Lho, eh! 

Saat saya sakit tersebut, saya pun merenung. Apa sih penyebab sakit ini? Rupanya, setelah saya ulik, ini terjadi karena pikiran saya sendiri. Terlalu banyak yang saya pikirkan hingga memicu sakit semacam itu. 

Memang begitulah kondisi sekarang, pada orang-orang di masa kini. Dari pikiran, bisa menjadi penyakit yang masuk perlahan. Terlebih, kondisi ekonomi memang begini. Dolar makin kuat, sementara kusir dokar makin harus berhemat. 


Penyakit yang menyerang pikiran, salah satunya adalah overthinking. Ini paling sering memang memikirkan sesuatu yang belum terjadi. Hal yang dipikirkan pun cenderung negatif, buruk, dan khawatir sekali membuat hidup jadi makin terpuruk. 

Overthinking yang akut bisa membuat orang yang mengalaminya tidak percaya takdir Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Awalnya merasa "kenapa begini", "kenapa harus saya", "tidak pantas saya menerima semua ini", dan perkataan-perkataan pesimis lainnya, baik dalam hati maupun jiwa. Eh, sama saja, ya? 

Kondisi fisik juga berpengaruh terhadap hadirnya penyakit tanpa diundang, apalagi tanpa pakai undangan Pak RT. Badan yang memang kurang gerak, lebih sering scrolling medsos untuk melihat kehidupan orang lain, dan menganggap kehidupan mereka sudah yang paling baik dan pantas.

Ditambah lebih suka rebahan, menempelkan punggung dengan kasur. Itu yang membuat jiwa mulai perlahan hancur. Ketika menyempatkan olahraga pun, seperti lari, jadinya adalah lari dari kenyataan.


Alasan Orang Sulit Konsisten Olahraga

Pertanyaan sekarang, kalau benar poin 10, kalau salah minus 5 meskipun jawabannya sama persis, kenapa orang banyak yang sulit konsisten olahraga? Kenapa masih banyak orang yang berat sekali untuk rutin berolahraga? 

Paling utama dari pertanyaan itu adalah karena dia berolahraga sendirian. Meskipun sudah menikah, istri 3 dan anak 1, waduh terbalik, maksudnya istri 1 dan anak 3, tetapi lebih sering ke luar sendirian. 

Istri dan anak-anaknya mungkin tidak diajak olahraga bersama karena dianggap akan mengganggu di jalan. Akhirnya, mereka cuma di rumah sambil terus main HP. Sedangkan si kepala keluarga yang olahraga, lagi-lagi sendirian. 

Manusia adalah makhluk sosial. Dari definisi itu, kehadiran orang lain sebenarnya sangat diperlukan. Olahraga adalah kegiatan yang positif, semestinya bersama dengan orang positif juga, dong! 

Kalau cuma sendirian terus, memang sih ada niat olahraga. Namun, seringnya niat tersebut cuma hidup di story WA, bukan niat betul-betul di dalam hati untuk dilaksanakan. 

Jempol sudah posting di story WA untuk rencana olahraga lari pagi atau sore ini, tetapi ternyata kaki memilih untuk pensiun dini. Olahraga pun jadi tinggal kenangan, sebagaimana lagu yang penuh lirik kelabu.  

Ada semangat juga waktu beli sepatu olahraga baru. Beli yang kanan, gratis yang kiri lagi. Namun, semangat itu tiba-tiba hilang saat alarm bangun pagi menjerit. Suara alarm itu pun dicekik hingga jatuh sakit. 


Komunitas Olahraga: Tempat Cari Lingkungan Positif

Kalau memang tidak olahraga karena merasa sendirian terus, lalu kapan mau olahraga? Masa mau menunggu Dajjal muncul? Kelamaan. Harus ada solusinya. Harus ada pemecahannya, asal jangan piring di dapur ikut pecah, karena memang dari plastik. 

Agar semangat olahraga kamu tetap terjaga, maka kamu butuh sebuah komunitas olahraga. Adanya komunitas ini bakal membantu kamu untuk menjaga konsistensi menjaga kesehatan melalui aktivitas fisik tersebut. 

Ketika kita sudah bergabung dalam suatu komunitas olahraga, maka saat bangun pagi dan muncul kemalasan untuk olahraga, tiba-tiba takut ditanya dalam grup komunitas, “Mana nih orangnya? Katanya mau olahraga pagi ini?!”

Pernah tahu psikologi massa? Misalnya ketika ada konser musik. Koes Plus atau Panbers contohnya. Wuah, jaman jadul! Ketika konser semacam itu, saat ada satu penonton yang teriak sesuatu, biasanya diikuti oleh orang lain bukan? Bahkan semakin meluas bukan teriakan tersebut? 

Begitu juga yang dialami di stadion olahraga. Penonton yang memenuhi stadion bisa melakukan suatu gerakan atau suara yang serentak diawali dari sedikit orang. 

Nah, komunitas olahraga itu kondisinya sama. Lingkungan dalam komunitas tersebut akan memengaruhi kebiasaan. Kalau kita bisa berkumpul dengan orang yang rajin gerak, punya semangat hidup, suka aktivitas sehat, maka kita bisa ikut terbawa dengan giat.

Beda dengan komunitas lain yang isinya cuma rebahan, doomscrolling, maupun yang hobinya nongkrong sampai dompet tinggal kenangan masa lalu. 


Jalin Relasi Lewat Komunitas Olahraga

Siapa bilang relasi hanya bisa dilakukan di ruangan ber-AC? Cuma bisa di kafe? Atau hanya bisa di hotel dan tempat pertemuan formal lainnya?

Relasi bisa datang juga saat sama-sama dalam kondisi ngos-ngosan. Saat tubuh berkeringat, relasi bisa dijalin juga dengan hangat. 

Dalam komunitas olahraga, kamu akan ketemu banyak orang yang berbeda profesinya. Saat istirahat, misalnya setelah lari sejauh 200 kilometer, hah, bisa ngobrol santai setelah itu.

Justru menjalin relasi dalam kondisi begitu lebih natural dan alami dibandingkan acara formal. Kamu bisa mulai bertanya basa-basi, "Capek, ya, Pak?"

Sudah tahu capek, kenapa masih tanya? Nah, di situlah poin pembukanya. Ketika itulah mulai awal membuka komunikasi, hingga terjalin sebuah relasi. 

Coba dipikir, networking itu kadang lebih mudah terjadi ketika sama-sama kehabisan napas dan keringat sudah mengucur deras dibandingkan saat sama-sama pakai jas.

Makin sering ketemu, misalnya untuk olahraga-olahraga bersama berikutnya, maka dapat muncul peluang kerja sama, kolaborasi, atau sampai peluang bisnis baru maupun pekerjaan baru yang lebih segar daripada sebelumnya.