Intip Kisah CEO Farfetch Jose Neves Soal Pandemi yang Picu Penjualan Fashion Online Yuk!

Jose Neves - Pinterest

Jose Neves - Pinterest

Meski pandemi, banyak platform online shop yang justru bangkit dan meraup cuan lho. Bahkan, hal itu berlaku di industri fashion online yang menjual banyak brand ternama dan mahal, salah satunya yaitu Farfetch.

Buat kamu para fashionista atau fashionholic, pasti kamu sudah enggak asing lagi sama platform Farfetch. Didirikan sejak 2007, Farfetch merupakan platform belanja online yang menyediakan akses ke banyak merek termahal di dunia, seperti Fendi, Gucci, Prada, Chanel dan sebagainya.

Nah, baru-baru ini, Farfetch bikin banyak orang terheran-heran karena kebanjiran pesanan dan demand yang tinggi dari banyak orang untuk beli barang mewah secara online. Bahkan, penjualan Farfetch dikabarkan telah pecah rekor dalam kuartal terakhirnya nih, Be-emers.

Menurut Founder sekaligus CEO Farfetch Jose Neves, dikutip dari Time, pihaknya telah mendapatkan peningkatan pelanggan hingga 900 ribu orang dalam dua kuartal terakhir lho! Selain itu, para pelanggan juga dinilai makin nyaman saat beli barang mewah secara online.

Padahal, sebelumnya, membeli barang mewah secara online kerap diragukan keasliannya dan dinilai terlalu beresiko. Namun, Neves percaya, perpindahan belanja online untuk barang mewah merupakan sebuah perubahan paradigma.

Baca Juga: Bisnis Fashion Ternyata Masih Bisa Eksis di Tengah Masa Pandemi
 

Dukungan Teknologi dan Prospek Penjualan Online

Bukan hanya praktis, penjualan online yang didukung dengan teknologi canggih, tentu bakal tambah bikin pelanggan susah berpaling.

Misalnya nih, Farfetch di China memungkinkan pelanggan untuk bisa mencoba sepasang sepatu kets secara virtual menggunakan algoritma geometri 3D yang canggih lho! Jadi, Farfetch menggunakan jaringan saraf yang mengidentifikasi posisi sepatu di luar angkasa dan menerapkannya ke kaki pelanggan.

Selain itu menurut Neves, penjualan online bisa mencapai sekitar sepertiga dari semua kategori ritel. Hal itu pun bisa dicapai dalam kurun waktu lima tahun dan naik sekitar 12 persen dari sebelum pandemi.

Fashion tidak akan pernah mencapai 90 persen tapi pasti akan berada di sekitar 30 hingga 35 persen dalam lima tahun ke depan," - Jose Neves, CEO Farfetch.


Kalau berdasarkan laporan Bain sih, penjualan online telah menyumbang sebesar 23 persen dari semua penjualan barang mewah selama pandemi Covid-19 lho.
 

Didukung Kemitraan Besar dan Persaingan dengan Amazon

Selain itu, pertumbuhan bisnis Farfetch juga didukung oleh kemitraan besar. Diketahui, akhir tahun lalu, Farfetch mengumumkan kemitraannya dengan Alibaba dan konglomerat mode Richemont untuk memperluas jangkauan Farfetch di China dan sekitarnya.

Di satu sisi, menurut CEO Alibaba Daniel Zhang, pasar barang mewah China diperkirakan telah menyumbang setengah dari penjualan barang mewah global hingga tahun 2025.

Neves mengatakan, rata-rata pembelian atau nilai keranjang belanja dari para pelanggan yakni kira-kira mencapai US$600.

Sementara itu, saat disinggung Time soal Amazon yang mulai merambah bisnis barang mewah lewat Amazon Luxury Stores, Naves justru santai menanggapinya.

Bahkan, Neves menilai kalau kita enggak boleh meremehkan Amazon. Baginya ketika sudah masuk ke sebuah kategori bisnis, mereka sudah harus siap untuk menang.

Di satu sisi, Neves menilai kalau platform Amazon Luxury Stores enggak punya terlalu banyak brand atau nama besar industri fashion di dalamnya. Meski begitu, menurutnya, Amazon enggak ada hubungannya dengan kemewahan.

Namun, Neves menilai, Amazon justru berkaitan dengan kenyamanan, harga, nilai, dan kecepatan.

Baca Juga: Dikabarkan Sumbang Setengah Hartanya, Ini Fakta Menarik Pendiri Kakaotalk Kim Beom-Su
 

Naves: Orang Enggak Akan Berhenti Suka Fashion Hanya Karena Covid-19

Penjualannya di China memang punya hasil yang cukup menarik. Orang terkaya di Portugal itu menemukan hal menarik, kalau seseorang sudah suka dengan fashion, maka ia enggak akan berhenti mencintai fashion hanya gara-gara Covid-19.

Pihaknya telah melihat sejumlah perubahan dalam kategori. Misalnya, kini banyak orang yang memilih untuk enggak beli mode pakaian malam.

Sebaliknya, tren selama pademi membuat orang membeli lebih banyak fashion item rumahan, serta lebih banyak pakaian olahraga. Meski begitu, hal yang perlu disadari adalah orang-orang terus belanja.

Adapun, bagi Neves, fashion adalah bagian dari budaya. Meski konsumsi barang mewah terkesan enggak “pantas” dilakukan di tengah pandemi, Neves menilai kalau konsumsi sangat penting untuk perekonomian selama hal itu enggak berlebihan.

Gimana, kamu tetap bakal belanja barang mewah atau mending uangnya dipakai buat investasi dan bikin usaha aja nih, Be-emers?